Menu

Terdakwa Bersumpah tak Pernah Terima Uang, Sidang Dugaan Suap Proyek Jembatan dan Masjid Solsel

  Dibaca : 149 kali
Terdakwa Bersumpah tak Pernah Terima Uang, Sidang Dugaan Suap Proyek Jembatan dan Masjid Solsel
Terdakwa Bersumpah tak Pernah Terima Uang, Sidang Dugaan Suap Proyek Jembatan dan Masjid Solsel

PADANG, METRO
Sidang dugaan kasus suap bos PT Dempo Group yang menjerat Bupati Solok Selatan (non aktif), Muzni Zakaria, kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Kelas IA Padang, Rabu (2/9). Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), menghadirkan satu orang saksi yakninya Riri Thyson Nur, yang merupakan kasubag protokol dan asisten pribadi Muzni Zakaria (terdakwa).

Menurut keterangan saksi, dirinya diminta untuk mengambil uang kepada kepala Pekerjaan Umum (PU) Solsel atas perintah terdakwa. “Setelah uang saya ambil sebesar Rp85 juta,dari kepala PU Kabupaten Solok Selatan, uang tersebut saya bagi-bagikan kepada staf kepegawaian Rp25, untuk THR dan Rp60 juta untuk saya berikan keistri terdakwa,” ucapnya. Dia menjelaskan, dirinya tidak pernah tahu, kalau terdakwa memiliki perjalanan di luar dinas. “Kalau urusan dinas saya tahu pak,tapi kalau urusan di luar dinas saya tidak tahu, karena tidak masuk dalam agenda,” ujarnya.

Dalam sidang tersebut, JPU Rikhi BM bersama tim, menunjukkan barang bukti (BB) berupa rekaman suara handphone. Dimana isinya ada pembicaraan saksi dengan terdakwa. Terhadap keterangan saksi, terdakwa yang didampingi penasihat hukum dari Kantor Hukum Elza Syarief Law Office, David Fernando (PH) bersama tim membenarkan keterangan saksi.

Usai menjalani sidang, tim PH juga mengajukan saksi yang meringankan terdakwa. Dimana tim PH,mengajukan saksi ahli hukum dari  Fakultas Unand Padang. Sementara itu, penasihat hukum Muzni Zakaria menghadirkan saksi ahli, yakni ahli hukum Universitas Andalas, Prof.Dr. Busyra Azheri SH,M.Hum, menuturkan,  kesepakatan adalah tidak ada unsur paksaan,  dan kesepakatan itu murni dari kedua belah  pihak. Dekan Fakultas Hukum Unand itu menerangkan, akta hutang ada yang ditanda tangani kedua belah pihak, ada juga yang satu pihak.“Jadi akta pengakuan hutang dibuat secara sepihak. Selain itu, surat akta notaris dapat dibatalkan dengan akta notaris atau d dengan putusan pengadilan,”bebernya.

Usai pemeriksaan saksi, dilanjutkan dengan pemeriksaan terdakwa. Dalam keterangannya, terdakwa mengaku di hadapan JPU,bahwa terdakwa pernah bertemu dengan M.Yamin Kahar,dalam rangka membicarakan pengerjaan proyek di Solok Selatan.“Saya kerumah M.Yamin Kahar, awalnya bincang-bincang,lalu sampailah pada pembicaraan proyek. Dan saya percaya kepada M.Yamin Kahar, untuk mengerjakan proyek masjid di Solok Selatan, karena dia dermawan dan rajin beribadah,” katanya.

Yamin Kahar juga seorang pengusaha sukses. ”Perusahaan M.Yamin Kahar bergerak di bidang pertambangan,bukan bergerak di bidang kontruksi. Dan saya tidak tahu kalau yang mengerjakan proyek tersebut, dari perusahaan lain,” ucapnya. Dihadapan majelis hakim, terdakwa mengaku tidak pernah terima imbalan atau meminta uang terhadap proyek tersebut. ”Saya bersumpah itu tidak ada,” imbuhnya.  Terdakwa yang merupakan Bupati Solok Selatan dua periode ini mengaku, selain sebagai bupati, dirinya memiliki berbagai usaha. “Saya memiliki usaha rumah potong ayam, kebun kelapa sawit, dan toko di Jawa Barat,” sebutnya.

Dalam persidangan tersebut, JPU membuka rekaman suara.Sidang yang diketuai Yoserizal beranggotakan M.Takdir dan Zaleka, ditunda satu minggu  dengan agenda tuntutan. Dalam berita sebelumnya, KPK telah menetapkan M Yamin Kahar bersama Bupati Solok Selatan Muzni Zakaria sebagai tersangka. Dalam perkara M Yamin Kahar, telah disidang beberapa kali di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada PN Kelas 1A Padang dan dijatuhi hukuman pengadilan. (cr1)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional