Menu

Teka-teki Nasrul Abit

  Dibaca : 950 kali
Teka-teki Nasrul Abit
BERSAMA SEKJEN-- Sekjen DPP Gerindra Ahmad Muzani berkumpul bersama Ketua DPD Gerindra Sumbar Andre Rosiade, Ketua Dewan Penasehat Gerindra Sumbar/Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit dan kader Gerindra se-Sumbar di VIP Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Sabtu (15/2).

Oleh: Reviandi

LAMA berkutat hanya sebagai jagoan tabel tengah, Nasrul Abit (NA) kini menjelma menjadi bintang di belantara Pilgub Sumbar yang penuh tanda tanya ini. Apalagi, ulang tahun Partai Gerindra ke-12 digelar begitu meriah di Kota Padang. Rapat kerja daerah (Rakerda) menghadirkan semua jagoan yang berpotensi menggantikan Irwan Prayitno Februari 2021.

NA yang hasil surveinya disebut-sebut berada di nomor tiga atau empat ini, mulai menggelegar dengan kepemilikan 14 kursi partainya. Meski sudah lengser sebagai ketua DPD Gerindra Sumbar, NA kembali dikuatkan Sekjen DPP Gerindra Ahmad Muzani kalau dia adalah kader terbaik. Bahkan, gemuruh nama NA terdengar saat rakerda dipimpin Ahmad Muzani di Mercure Hotel Padang.

Tapi yang menarik, nama NA belum terlalu mentereng untuk mematenkan diri sebagai calon Gubernur. Bahkan, disebut-sebut masih “diago” sebagai bakal calon Wakil Gubenur Sumbar mendampingi Mulyadi. Hal inilah yang membuat sejumlah kader beriak, karena NA adalah rencana awal dan opsi satu-satunya untuk Gerindra di BA 1. Bukan BA 2.
Ada yang mengatakan, kalau Demokrat merangkul Gerindra, artinya akan muncul Mulyadi-Nasrul Abit. Formasi ini memang sempurna, karena saling melengkapi. Komposisi Utara-Selatan, Dapil 2 dan 1 Sumbar, politisi dan birokrat, juga punya basis partai yang jelas. Tapi, apakah betul NA masih ingin memperpanjang kontrak sebagai pendamping. Meski Mulyadi kabarnya hanya ingin satu periode saja.

Jelang rakerda, NA juga digaung-gaungkan menggandeng Bupati Agam Indra Catri (IC) sebagai calon Wagub. Apalagi keduanya sempat disandingkan dalam sebuah jumpa pers di hotel tempat rakerda berlangsung. Keduanya nampak malu-malu, dan mencoba melemparkan jawaban diplomatis kepada wartawan. Kata NA oke, tapi tunggu partai. Kata IC siap saja. Bisa jadi calon Gubernur, atau wakil Gubernur.

Bisa jadi, NA-IC akan menjadi calon alternatif dalam gelaran Pilkada ini. Karena, keduanya punya basis (Pessel dan Agam) dan pernah menjadi Bupati dua periode. Apakah “loyalis” mereka akan bekerja keras untuk ini, tentu akan menarik didengar. Apalagi, kini IC terdaftar sebagai Ketua Dewan Penasehat DPC Gerindra Agam. Apakah pasangan dobel Gerindra ini bisa menjawab keinginan masyarakat? Kita lihat saja. Apalagi, latar keduanya adalah birokrat.

Rencana Gerindra maju tanpa koalisi karena sudah memiliki 14 kursi dari 13 syarat pengusungan pasangan ke KPU dari awal tak terlalu kuat. Tapi NA-IC bisa saja menjadi jawabannya. Bisa juga untuk menguji, apakah kemenangan telak Gerindra di Sumbar — termasuk 13 Kabupaten/Kota pada Pileg lalu itu bisa berguna untuk Pilgub. Bukan hanya karena Prabowo Subianto yang dipilih 87 persen masyarakat Sumbar.

Kabarnya, NA tidak bersedia untuk dicalonkan sebagai Wakil Gubenur. Karena faktor umur yang sudah 65, tak mungkin lagi hanya berstatus pendamping — seperti lima tahun bersama Irwan Prayitno. Saat menjadi wakil Bupatinya Darizal Basir, NA juga hanya sanggup satu periode. 2005 dia maju bersama Syafrizal Ucok di Pilkada Pessel. Tapi, apakah NA mau meninggalkan 14 kursi dan beralih ke partai lain?

Opsi itu sebenarnya sudah dibuka para loyalis NA. Bahkan, Golkar yang memiliki 8 kursi jadi bidikan. Konon, Golkar benar-benar sudah memberikan sinyal akan mendukung NA kalau tak diusung Gerindra. Karena, dua papan atas lainnya, Mahyeldi sudah berbranding PKS dan Mulyadi patennya Demokrat. Kalau benar Golkar, NA dan pasangan harus membidik partai lain. Minimal punya lima kursi untuk maju. Alternatifnya PAN (10), PDI P (3), NasDem (3), PKB (3) dan juga PPP (4). Sayang, partai terakhir sudah meminang Mahyeldi.

Akhirnya, teka-teki Nasrul Abit mau kemana ini kembali menjadi teka-teki. Karena rakerda Gerindra belum memutuskan apa-apa. Partai berlambang kepala burung garuda ini masih menunggu survei sekitar Maret atau April. Meski disebut kader dengan peluang terkuat, NA masih harus menunggu. Tapi, untuk jaga-jaga juga perlu membuat komitmen dengan partai lain. Kalau-kalau, PKS-Gerindra malah berkoalisi dan hasil survei jadi penentu siapa yang akan diusung. Siapa tahu Nasrul Abit-Riza Falepi. (wartawan utama)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional