Menu

Tarekat Naqsabandiyah, Shalat Idul Adha Pakai Rumus Sendiri

  Dibaca : 1496 kali
Tarekat Naqsabandiyah, Shalat Idul Adha Pakai Rumus Sendiri
Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati Limapuluh Kota foto bersama Komisioner KPU Limapuluh Kota, Bawaslu Limapuluh Kota dan Muspida usai mengambil nomor urut.
unnamed

Jamaah Tarekat Naqsabandiyah menjalankan shalat Idhul Adha di Masjid Baitul Makmur, Kampung Binuang, Pauh, Padang, Selasa (22/09/2015). Mereka lebih dulu merayakan Idhul Adha berdasarkan hisab munjid, dengan menghitung 100 hari setelah Ramadhan.

PADANG, METRO–Allahuakbar….Allahuakbar….Allahuakbar. Suara takbir terdengar menggema dan memecah suasana pagi di Mushalla Baitul Makmur, Kampuang Binuang, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Selasa (22/9). Para jamaah Naqsabandiyah itu berbondong menggelar Shalat Ied pagi itu, meskipun pemerintah dan Muhammadiyah masih berancang-ancang menetapkannya.

Pagi itu, ratusan jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Sumatera Barat merayakan Hari Raya Idul Adha 10 Zulhijjah 1436 Hijriah atau Lebaran Haji. Penetapan 10 Zulhijjah pada Selasa pagi tersebut dilakukan berdasarkan hisab munjid dengan menghitung 100 hari setelah Ramadhan. Salah satunya tampak di Masjid Baitul Makmur, Kampung Binuang, Kecamatan Pauh, Kota Padang.

Ratusan jemaah Naqsabandiyah ini dengan kusyuk melaksanakan ibadah Shalat Ied bersama dan tidak peduli dengan pertentangan waktu antara pemerintah dan Muhammadiyah. Setelah melaksanakan shalat Ied berjamaah, jamaah Tarekat Naqsabandiyah melaksanakan upacara kurban dengan memotong dua ekor sapi dan lima ekor kambing.

Shalat Ied ini dimulai pukul 08.00 WIB dengan Imam Mursyd Safry Malin Mudo dan khatib Afrizal Tanjung. Shalat berjalan selama 15 menit dan dilanjutkan kutbah setengah jam dengan memakai bahasa Arab. Jatuhnya 10 Zulhijah pada Selasa (22/9), diputuskan berdasarkan metode penghitungan hisab munjid, yakni sistem penanggalan Naqsabandiyah yang sudah dipercayai secara turun temurun.

”Ada rumusnya dalam penentuan 1 Ramadhan jatuh pada hari Selasa tanggal 10, maka 10 Zulhijjah ditetapkan jatuh pada hari ini,” kata Sekretaris Tarekat Naqsabandiyah Kota Padang, Edizon Revindo, Selasa (22/9) kemarin.

Menurutnya, perhitungan penentuan hitungan 10 Dzullhijjah atau Hari Raya Idul Adha dimulai dengan cara perpaduan melihat hilal dan hisab, dimana melihat bulan pada 1 Rajab, 7 Syaban, 22 Syaban. Penentuan tanggal jatuhnya Idul Adha ini sudah sesuai dengan Al-Quran dan Hadist Rasulullah. “Tidak ada yang berlawanan,” pungkasnya.

Metode ini dilakukan bukan dengan cara melihat bulan, melainkan menghitung sebanyak 100 hari setelah bulan suci Ramadhan. Kemudian, guru-guru Tarekat Naqsabandiyah melakukan rapat untuk menentukan 1 Ramadhan. ”Kalau sudah ditetapkan 1 Ramadhan, maka hitungan 99 sampai 100 hari baru ditetapkan Hari Raya Idul Adha,” terangnya.

Ditambahkannya, dalam merayakan Hari Raya Idul Adha 1436 Hijriah ini tidak saja dilakukan oleh seluruh jamaah Naqsabandiyah yang ada di Kota Padang saja, namun juga di Kabupaten Padangpariaman, Kabupaten Pesisir Selatan dan sejumlah daerah di luar Provinsi Sumatera Barat, seperti Riau, Jambi, dan Bengkulu. (age)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional