Close

Talk Show Millenial Bersama Edriana, Gunakan Hak Pilih, Mahasiswa  Jangan Kehilangan Identitas

TALK SHOW— Director Women Research Indonesia (WRI) Edriana Noerdin saat talk show millenial bersama ratusan mahasiswa dari perguruan tinggi di Sumbar, Kamis (4/4).

PADANG, METRO – Tingkat partisipasi kaum milenial, pemuda dan mahasiswa terhadap pemilu di tahun 2019 ini, masih sangat minim. Kondisi ini terjadi karena masih ada ketakutan dan keragu-raguan pada diri mereka.

Hal itu diungkapkan Director Women Research Indonesia (WRI) Edriana Noerdin, dihadapan ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumbar saat talk show millenial, Kamis (4/4) di Kawana Hotel, Padang. Melalui talk show tersebut, Edriana berharap agar mahasiswa sebagai pemilih pemula dalam pemilu, agar tidak kehilangan identitas sebagai agen perubahan dan keterlibatan dalam menyatakan hak politik.

Menurut Edriana, mahasiswa ketika kehilangan eksistensi diri menggawangi alur perjalanan bangsa, bisa membahayakan kondisi stabilitas bangsa. “Jika tidak ada keterlibatan aktif dalam orientasi pembangunan negara, sosial, budaya dan politik. Sangat disayangkan tentunya ketika peran pemuda tidak lagi melekat dalam menentukan arah bangsa,” terang Edriana.

Aktivis perempuan itu menjelaskan, pihaknya selama ini terus melakukan aksi kepedulian perempuan dalam partisipasi politik, terutama meningkatkan partisipasi perempuan di parlemen.

Sementara sistem kuota yang ada di Indonesia terkait hal ini, telah lahir sejak pemilu 2009 dan mengalami lonjakan atau kekuatan di 2014. Ini terjadi karena ada desakan untuk dipersistem yakni, satu laki-laki dan satu perempuan untuk mewakili masyarakatnya (caleg), walaupun memang itu ditolak oleh parpol. Tapi memang, sambungnya itu sudah mulai satu diantara tiga.

“Ternyata walau sistem kuota, karena ini adalah tingkat partisipasi untuk menjadi caleg bukan untuk anggota legislatif. Partisipasi untuk caleg memang tidak mudah kita diterjunkan dalam sistem politik yang sangat liberal,” ungkap Edriana.

Pemicunya karena perempuan tidak terbiasa terekspos dalam dunia politik. Seperti beli suara, ini menyebabkan kaum perempuan tidak berani tampil. Sementara sama-sama diketahui, ada paket-paket hal itu terjadi di Indonesia. Secara persentasenya dapat dilihat pada pemilu 2014, dimana partisipasi perempuan hanya 17 persen berhasil duduk di parlemen, sementara dalam konteks calon wakil rakyat sudah hampir 40 persen berpartisipasi.

“Tingkat keterpilihan masih kecil, selain dari mobilitas perempuan kurang, tingkat pendidikan yang masih minim dan apalagi disertai tidak terbiasa dengan politik garis keras,” jelas Edriana kepada peserta yang dominan perempuan itu.

“Ketika tidak ada peran perempuan dalam politik, lantas siapa akan memperjuangkan kepentingan kaum perempuan,” ujarnya.

Ia memberi contoh, catatan Komnas HAM tercatat 350 ribu lebih kekerasan terhadap perempuan.

“Angka-angka kekerasan itu kalau bukan kita (perempuan) yang mendorongnya dalam pengalokasian anggaran tentu siapa yang akan peduli terhadap perempuan dalam hal ini. Ditambah lagi dengan tingginya angka kematian ibu melahirkan dan itu terjadi dalam kurun lima tahun terakhir,” katanya.

Ia berharap peran dari generasi muda (mahasiswa-red) turut aktif dalam menyambut pemilu yang jujur dan adil serta berpartisipasi dalam menyuarakan hak memilih, dalam mendorong partisipasi perempuan ditingkat legislatif.

“Maka jangan takut terhadap politik identitas dan jangan takut berpolitik karena itu tidak ada yang tunggal. Mahasiswa memiliki peran terhadap ketimpangan itu dengan memilih calonnya yang sinkron terhadap program memperjuangkan hak dan peduli terhadap perempuan,” terangnya.

Sementara itu mantan Komisioner KPU RI periode 2004, Chusnul Mari’iyah mengutarakan, bahwa pentingnya mendorong kaum perempuan duduk di parlemen, karena isu-isu perempuan harus diperkuat dengan mendorong pembawa pesan tersebut.

“Itu ada hubungannya dengan politik dan perempuan. Sebab yang menyuarakan isu-isu seperti stunting, kekerasan terhadap perempuan, kematian ibu melahirkan stunting, itu yang akan teriak-teriak di sana politisi perempuan. Sebab, dalam berdemokrasi ada kebebasan dalam menyatakan pendapat, membentuk organisasi yang dilindungi,” ungkapnya.

Chusnul mengajak generasi muda untuk merebut kembali dan mewujudkan kembali kekuatan perempuan lewat partisipasi memilih tokoh yang tepat memperjuangkan hak-hak kebijakan gender dalam bernegara.

“Jangan sampai suara adik-adik hilang, sementara yang gila itu lho ikut memilih. Masa yang pinter-pinter depan saya tidak ikut memilih,” ungkapnya disambut riuh tepuk tangan peserta. (fan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top