Menu

Tak Berizin karena Pandemi, Parade Itali Juara Euro 2020 Ilegal

  Dibaca : 115 kali
Tak Berizin karena Pandemi, Parade Itali Juara Euro 2020 Ilegal
PARADE JUARA—Timnas Italia gelar parade setelah menjadi yang terbaik di benua biru dan membawa kembali trofi yang terakhir kali diangkat tahun 1968 silam.

JAKARTA, METRO–Pejabat Kota Roma, Mat­teo Piantedosi menga­ta­kan, parade juara Euro 2020 yang digelar Timnas Italia adalah tindakan ilegal di tengah pandemi Covid-19. Menurutnya, tak ada izin keramaian, baik dari peme­rintah setempat maupun kepolisian. Timnas Italia berhasil menjadi juara Eu­ro 2020. Di final di Stadion Wembley, mereka berhasil menaklukkan Timnas Ing­gris via adu penalti.

Usai juara, timnas Italia langsung cabut ke kota Roma. Mereka sempat me­ngadakan perjamuan de­ngan Presiden dan Perdana Menteri Italia. Dari situ, ada kabar bahwa timnas Italia tak akan menggelar parade di jalanan kota Roma. Pihak kepolisian juga disebut tak akan mem­berikan izin meski nanti ada yang mengajukan per­min­taan untuk menggelar parade tersebut.

Namun ternyata Tim­nas Italia tetap meng­gelar parade juara di jala­nan Kota Roma. Giorgio Chiel­lini dan Leonardo Bonucci Cs berkeliling kota dengan menggunakan bus atas terbuka.

Parade itu kemudian dikecam oleh seorang pen­jabat kota Roma, Matteo Piantedosi. Ia mengklaim FIGC tidak menghormati kesepakatan yang terjadi antara mereka dengan dewan Kota Roma.

“Mereka telah meya­kinkan kami dengan se­buah panggung di Piazza del Popolo. Memblokir me­re­ka akan menciptakan masalah ketertiban u­mum,” kata Piantedosi kepada Corriere della Sera saat ditanya kenapa polisi tidak menghentikan bus ber­parade keliling kota.

“Kami telah menolak izin untuk merayakan ke­me­nangan Italia di Piala Eropa di bus terbuka, tetapi perjanjian itu tidak dihor­mati,” sambung Piantedosi.

Mat­teo Piantedosi ke­mu­dia mengatakan, Tim­nas Italia boleh saja meng­gelar perayaan juara Euro 2020. Namun caranya tidak dengan menggelar parade di atas bus terbuka di jala­nan.

“Ya tentu saja. Tapi de­ngan cara yang berbeda. Jumat lalu kami memben­tuk panitia untuk ketertiban dan keamanan. Saya telah menyetujui hubungan de­ngan Menteri Dalam Ne­geri Luciana Lamorgese dan dengan kepala polisi Lamberto Giannini. Per­temuan itu justru untuk memutuskan apa yang harus dilakukan dan untuk itu kami juga melibatkan langsung FIGC,” terang Piantedosi.

“FIGC meminta untuk mengizinkan para atlet tim nasional untuk me­lakukan perjalanan ke­liling Roma dengan bus terbuka, tetapi dijelaskan dengan jelas bahwa itu tidak mungkin. Kami me­ngatakan kami tidak dapat mengotorisasi mereka,” tegas Pian­te­dosi.

“Kami harus mengatur transisi dari Quirinale ke Palazzo Chigi, mencoba mendamaikannya dengan kebutuhan keamanan yang terkait dengan pandemi Covid-19. Oleh karena itu menghindari adanya keru­munan dengan cara apa pun,” seru Piantedosi.

Lebih lanjut, Matteo Piantedosi mengatakan dirinya juga sudah mene­gaskan pada Presiden FI­GC, Gabriele Gravina, bah­­wa parade tak boleh di­gelar. Namun Gabriele ngotot tetap menggelar arak-arakan itu dengan alasan bahwa acara itu sudah dinantikan para fans yang sudah ber­kum­­pul di jalanan Kota Roma.

“Mereka berpendapat sudah ada banyak orang di jalan-jalan. Dan para pe­main memiliki niat yang kuat untuk melanjutkan perayaan dengan naik bus terbuka,” seru Piantedosi.  “Ada ribuan orang yang menunggu bus, mela­rang­nya bisa menimbulkan ma­sa­lah ketertiban umum,” sambung Piantedosi. (*/boy)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional