Close

Tagak Kampuang Paga Kampuang

Menyelesaikan Masalah Tanpa Masalah Oleh Sukri Umar (Wartawan Utama)

Apa yang ditunggu tunggu ketika presiden menyusun kabinet menteri sebagai pembantunya? Salahsatunya adalah siapa putra daerah terbaik yang akan menjadi pilihan dalam menduduki posisi menteri. Bagi daerah manapun, mulai Aceh hingga Papua.

Kalau kita di Minang lebih menyebutnya Tagak Kampuang Paga Kampuang. Ketika berbicara soal kampung, soal negeri, soal kabupaten atau soal provinsi maka kita akan bicara siapa yang terikih dari putra daerah terbaik. Begitu juga dengan kabinet tadi. Namun ternyata ketika sudah diumumkan tak satupun putra Minang asli yang duduk.

Diskusi tak adanya putra Minang yang duduk berkembang begitu dinamis. Asyik untuk diikuti, tapi jangan terlalu baper. Jika baper maka perasaan akan rusak, lalu menyalahkan orang lain. Terkadang menyalahkan orang yang sudah meninggal, atau saling menyalahkan satu sama lain. Begitulah dinamika yang terjadi belakangan ini sebagai wujud cinta kampung. Ribut ketika tak ada orang kampung yang duduk. Lalu kita mau apa?

Begitulah suasana yang terjadi beberapa hari sebelum pengumuman dan pelantikan. Bahkan sampai pula saat nama nama wakil menteri diumumkan. Tambahan pemain 12 orang ternyata juga tak ada putra Minang. Tokoh atau putra Minang yang diprediksi akan dipanggil tak satupun yang muncul. Hingga benar benar terbukti ketika presiden mengumumkan secara resmi menteri dan para wakil menteri.

Hebatnya hanya beberapa saat setelah pengumuman, dunia medsos penuh dengan diskusi tentang siapa sebenarnya putra Minang atau yang bergaris keturunan Minang atau yang ada darah Minangnya. Maka dapatlah beberapa nama yang muncul. Banyak perdebatan, ada yang menyebut keturunan Minang ada pula yang menyebut tidak.

Pada akhirnya ada benerapa orang yang memiliki darah Minang. Pertama, Jenderal (Purn) Fachrul Razi. Orangtua atau ayahnya dari Matur, Kabupaten Agam. Soal hubungan darah ini secara terbuka disebut oleh Ketua Nasional Bravo V Pemenangan Jokowi-Ma’ruf itu pada Agustus 2018 dalam suatu kesempatan di depan sejumlah tokoh Minang di Posko Bravo 5 Menteng, Jakarta.

Kedua, Nadiem Makarim. Orangtua laki-lakinya berasal dari Kota Padangpanjang, seperti ditulis beberapa sumber. Facrul Razi dipercaya menjadi Menteri Agama dan Nadiem diumumkan menjadi Mendikbud.

Belakangan berdasarkan Wikipedia, nama Arifin Tasrif, mantan Dubes RI di Jepang dan mantan dirut salah satu BUMN yang kemarin diangkat menjadi Menteri ESDM. Sebelumnya, ada Arcandra Tahar sebagai wakil menteri ESDM. Diketahui Tasrif berdarah Minang perantauan. Apa sukunya, belum diketahui.

Berpijak dari diskursus Brigjen Purn almarhum Syafrudin Bahar yang mengemukakan Minang mengakui pula sistem kekerabatan patrilineal dan parental. Namun, bila diacu dari sistem kekerabatan matrilineal, memang bisa disebut tidak ada menteri yang langsung berasal dari Minang, seperti kabinet sebelumnya, muncul nama Arcandra Tahar dan Andrinof Chaniago.

Terlepas dari ada tidaknya putra Minang sebagai posisi menteri, tentu bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua. Terutama tokoh Minang. Apakah disebabkan kapasitas yang tidak memadai atau lobi politik dan cara berpolitik yang tidak pas. Sebagai pembantu presiden, menteri tentu punya pengaruh besar dalam melaksanakan kebijakan negara. Hadirnya putra daerah tentu memberi warna tersendiri, meskipun signifikan atau tidak.

Kabinet tidak hanya saat ini. Kabinet dan susunan menteri itu sudah ada sejak lama, dan jika republik ini masih ada akan hadir kabinet kabinet berikutnya. Jika ribut dan merasa terhempas tak ada Putra Minang yang duduk maka berbenahlah. Tak cukup berkeluh kesah, karena daerah lain terus berbenah. Bekerjasamalah, sama sama membesarkan. Jelang ada putra Sumbar ke kabinet, masih banyak tempat dan posisi yang ditempati putra putra Minang dalam pengabdian untuk bangsa. Tak duduk di kabinet, tak berarti putra Minang tak punya kompetensi.

Kini saatnya tagak kampuang paga kampuang diperluas maknanya. Bahwa sesungguhnya kampuang yang dimaksud adalah Indonesia sebagai sebuah negara. Kebhinekaan harus kita artikan bahwa siapapun yang memimpin di negeri ini itulah putra terbaik bangsa. Dia akan berbuat bukan hanya untuk kampung kecilnya, tetapi untuk Indonesia secara keseluruhan. Untuk sementara kita tinggalkan putra Minang atau tidaknya, sambil berbenah dan memperbaiki diri di kemudian hari. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top