Menu

Surat Terbuka dari Korban Kabut Asap untuk Iriana Jokowi

  Dibaca : 872 kali
Surat Terbuka dari Korban Kabut Asap untuk Iriana Jokowi
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menghadiri Acara Puncak Hari Nusantara 2019 di Pantai Gandoriah, Pariaman, Sabtu (14/12). Foto: IST
Foto kabut asap saat di foto dari depan kantor bupati dharmasraya, Pulau Punjung - web

Kabut asap di depan Kantor Bupati Dharmasraya.

Yth Ibu Negara, Iriana

Anda seorang Ibu. Ada lagi anak yang mati karena asap. Tolonglah bantu kami sampaikan ini ke Pak Jokowi.
—–
Ibu Negara yang kami sayangi. Perkenalkan, nama saya Afni. Seorang Ibu dari putri bernama Hanina (3,5). Saya lahir dan besar di Kampung Rempak, Siak, Provinsi Riau. Saat ini tinggal di kota Pekanbaru.

Ini surat terbuka saya kesekian kali. Sebelumnya saya sudah menulis untuk suami Ibu, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. Mohon maaf saya sampai harus menulis surat terbuka lagi, kali ini untuk Ibu.

Saya menulis dan terus menulis, karena bencana di negeri kami masih tak habis-habis. Saya hanya bisa berikhtiar lewat tulisan. Sisanya saya berdoa kepada Allah Swt, semoga memaafkan segala dosa dan segera mengampuni kami dengan menurunkan hujan.

Bu Iriana, anda seorang Ibu, pasti jauh lebih mengerti dan bisa merasakan apa yang para Ibu-ibu di lokasi bencana asap rasakan.

Seorang Ibu, pasti tak akan rela dan tega, saat melihat anak-anak yang mereka cintai, ada yang menyakiti. Tapi sekarang di depan mata kami, anak-anak kami hidup tersiksa karena asap ini.

Sudah berbulan-bulan lamanya anak-anak kami tinggal di negeri bencana. Udara kualitas berbahaya, terpaksa harus mereka hirup siang dan malam, 24 jam tanpa jeda..!

Udara bercampur racun itu harus mereka hirup, jika mereka ingin tetap hidup. Sesak nafas mereka saat menghirup racun itu, menusuk hingga ke jantung kami para Ibu. Sakit rasanya melihat hak hidup sehat mereka direnggut paksa!

Saya yakin, Ibu Iriana pasti bisa merasakan sakit yang saya rasakan itu, meski saat ini Ibu tengah duduk di ruangan ber-AC. Saya sungguh percaya, hati seorang Ibu (siapapun dia, seorang Ibu rakyat jelata hingga seorang Ibu Negara) pasti memiliki hati terluas penuh cinta kasih.

Anak-anak di daerah bencana, sangat berhak untuk menghirup udara segar Bu. Itu hak gratis dari Tuhan dan diambil paksa karena ulah manusia-manusia serakah yang merusak ekosistem alam.

Ibu Iriana sudah melihat sepetak tanah kami yang terbakar di Kampar, saat ikut kunjungan ke Riau beberapa waktu lalu. Tolong jangan percaya ya Bu, hanya segitu saja luas lokasi bencana. Lokasi itu cuma sisa yang terbakar saja. Itupun sudah disiapkan sedemikian rupa untuk menyambut tamu negara. Susah payah lokasi itu disterilkan aparat.

Tolong juga jangan percaya, dengan pemandangan berkurangnya pekat asap di Riau saat Ibu dan Bapak datang. Saat itu asapnya mendadak hilang Bu. Setelah Bapak dan Ibu pulang ke Jakarta, asapnya kembali tiba. Bahkan jauh lebih pekat. Sekolah kembali lumpuh, bandara kembali tutup. Langit kami mulai kekuning-kuningan, karena pekatnya asap. Korban terpapar asap sudah tembus 77 ribu lebih (data Dinkes Riau). Itu semua manusia bernyawa Bu. Sebagian besar anak-anak dan para Lansia.

Bu Iriana, mohon maaf saya bertanya, Pak Jokowi pasti pulang ke rumah toh tiap hari? Beliau pasti capek sekali mengurus Negara ya Bu.

Jika memungkinkan, setelah Ibu hidangkan teh hangat, bantu-bantu Bapak Negara diajak ngobrol. Bantu kami dengan ngomong begini Bu:

‘Pak, kapan ya kita blusukan ke Riau lagi? Atau ke Palangkaraya? Atau ke daerah bencana asap lainnya? Prioritaskan bencana ini dulu karena menyangkut jutaan nyawa manusia. Ayo kita blusukan buat nyenengin rakyat kita di sana. Buat ngasi mereka semangat hidup dan keyakinan, bahwa Negara terus bekerja untuk mereka. Kalau perlu blusukan ke kampung-kampung di sana, mengabarkan bahwa bencana ini pasti segera berlalu. Mana tau saat kita datang, asap kembali hilang’.

‘Atau begini Pak, keluarkan instruksi evakuasi saja bagi para warga di lokasi bencana asap. Mereka tak mungkin bisa bertahan dengan kualitas udara seburuk itu setelah berbulan-bulan. Jika Negara tak ada uang, buat skala prioritas saja, evakuasi untuk bayi beserta Ortunya, lansia dan para Ibu Hamil. Berlakukan situasi darurat sesuai dengan nama level bencana. Jangan cuma memantau saja kalimat Bapak ke rakyat, kalimat itu terlalu bias. Kalo bisa minta maaf sajalah banyak janji-janji penanganan asap belum bisa ditepati karena bencana di luar kendali manusia. Mana tau dengan begitu, rakyat yang teraniaya bisa memaafkan dan terus mendoakan Bapak bekerja dengan baik’.

Kalaulah bisa lagi Bu, tolong tanyakan ke Bapak, butuh berapa kuburan lagi yang harus digali agar status bencana ini naik tingkat menjadi tragedi. Ini lho Bu link beritanya, ada anak yang mati lagi di negeri kami akibat asap:

http://m.goriau.com/…/innalillahi-wainna-ilaihi-rojiun-boca…

Jika Pak Jokowi tak percaya asap di tempat kami kian pekat, tolong dibantu sodorin android Bu, lalu bukain link berita ini:

http://m.detik.com/…/tolong-asap-pekat-menguning-kepung-pek…

Jika masih tak percaya, bisa buka Youtube juga Bu. Ada video balita kejang-kejang dan muntah-muntah di tengah pekatnya asap di Palangkaraya, digendong oleh Ibunya.

Jika tak ngerti buka link videonya, ajudan Presiden kan banyak Bu. Jika sudah liat video itu, sungguh Bu, sudah ribuan bayi, balita dan Lansia yang sekarat seperti itu sejak bencana asap. Diantara mereka sudah masuk kuburan.

Duuuh, maaf ya Bu. Kok saya jadi ngatur-ngatur seorang Ibu Negara. Tapi saya termasuk percaya Bu, di balik sosok laki-laki hebat, selalu ada perempuan dahsyat. Saya selalu tersentuh melihat senyum keibuan Ibu Iriana di layar kaca.

Saya yakin, bila Ibu membaca surat terbuka ini, hati Ibu akan mengarah kepada putra putri Ibu yang tumbuh sehat dan cerdas. Alhamdulillah ya Bu. Sungguh kami juga ingin anak-anak kami tumbuh besar seperti itu. Karena saat ini, sudah tiga bulan lebih, anak-anak kami tak melihat langit biru.

Semua tertutup asap, asap dan asap. Kami semua rakyat di daerah bencana, mulai bayi hingga lansia, selalu menghirup racun. Memang kami tidak akan mati seketika karena asap, tapi bukankah dibunuh pelan-pelan itu justru lebih menyakitkan!

Terimakasih Bu Iriana. Semoga Ibu sekeluarga selalu dinaungi kesehatan.
Selalu semangati Pak Jokowi ya Bu, kuat memimpin negeri yang tengah ditimpa bencana ini. Sesungguhnya bencana asap tahun ini sudah layak disebut tragedi. Ini tragedi yang harusnya bisa dihindari.

Salam Hormat

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional