Menu

Sungai Batang Masuk Program Pemajuan Kebudayaan Desa, Wujudkan Generasi yang Lebih Baik

  Dibaca : 154 kali
Sungai Batang Masuk Program Pemajuan Kebudayaan Desa, Wujudkan Generasi yang Lebih Baik
RAPAT BAMUS— Ketua Bamus Sungai Batang Azwar Nur Dt Panghulu Basa menggelar rapat menindaklanjuti Sungai Batang masuk dalam program pemajuan desa, untuk mewujudkan generasi lebih b aik ke depan.

AGAM, METRO–Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam terpilih salah satu desa sesuai Surat Keputusan (SK) Dir­jen Kebudayaan, Kemen­dikbudristek No. 1054/F5/KB.02.05/2021 tentang Pe­ne­tapan Daya Desa dan SK Dirjen Kebudayaan Ke­men­dikbudristek No.1134/F5/KB.02.04/2021 tentang Penetapan Desa Pema­juan Kebudayaan. Sedang­kan, sosialisasi berhasil diselenggarakan dengan Prokes dan sesuai arahan, Senin (12/7).

Camat Tanjung Raya, Handria Asmi menyambut baik dan mendukung penuh program tersebut. Me­min­ta seluruh komponen ma­syarakat agar ikut aktif memanfaatkan peluang itu dengan maksimal. “Kita mengajak untuk mengim­pun seluruh potensi yang ada untuk mensukseskan program Pemajuan Kebu­dayaan Desa ini. Mungkin untuk tahun ini agak sulit memasukannya ke dalam RPJM Kenagarian. Namun bisa disingkronkan dengan program SDGs dengan 18 indikator,” terang Handria.

Camat berprestasi ter­baik 2018 itu melanjutkan, budaya atau kebudayaan merupakan kebiasaan dan aturan hidup yang ber­langsung secara turun te­murun. Namun, tidak sedi­kit kebiasaan yang mem­budaya itu hilang. Padahal, sangat bermanfaat untuk kesehatan, kemaslahatan dan kesejahteran masya­ra­katnya.

“Kita bisa mencon­toh­kan, pergi manjalang (ber­kunjung) ke rumah mintuo (mertua) harusnya bajalan kaki, terutama masih kam­pung­nya masih berde­ka­tan. Tidak menggunakan kendaraan, itu sehat untuk jasmani dan rohani. Me­miliki nilai luhur sikap pe­ngor­banan dan kesung­guhan menghargai me­r­tua. Menjinjing jamba (ren­tengan sambal, nasi dan buah-buahan) di kepala hingga sampai ke rumah mertua. Namun saat ini tidak lagi, kendaraan roda dua dan roda empat mem­buat praktis. Sehingga hi­lang dan pudar nilai-nilai yang terkandung di dalam tradisi itu,” jelas Handria.

Setelah terbentuknya daya warga sebagai tim yang dianggap kompeten, berlanjut pada tahapan mengiventaris dan pend­a­taan. Kemudian pemetaan masalah dan potensi kebu­dayaan yang ada. Tahapan pengembangan dan pe­man­faatan hingga masuk ke RPJM Nagari atau sing­kron program SDGs.

Ketua BAMUS Sungai Batang, Azwar Nur Dt Pang­hulu Basa menuturkan, program ini sangat meng­gembirakan. Meski demi­kian kondisi nagari sangat sulit pada saat ini. Dengan adanya program Pema­juan Kebudayaan ini bisa meningkatkan semangat kemajuan kedepannya. “Dalam hal ini kita sangat harapkan peran aktif se­jumlah OPD di Pemda A­gam. Dinas terkait jelas memiliki peran, apalagi program Pemajuan Kebu­dayaan Desa selain tugas Kemendikbudristek, juga tugas dari Kemendagri dan Kemendes,” jelas Azwar.

Dalam hal ini butuh Pusat Informasi berupa plang informasi terkait ber­bagai informasi yang ada nantinya. Apa saja potensi kebudayaan yang dimi­liki.Tambahannya, prog­ram ini didasari sudut pan­dang Budaya dan Agama. Adat, kesenian dan kebu­dayaan lainnya. “Kita ha­rus ada tim kerja yang benar-benar serius dan profesional.. Dari sisi ke­ma­syarakatan bersifat go­tong royong, imbau-me­ngimbau, mengangkat po­ten­si permainan anak na­gari, pendokumentasian, menggali, mencatat po­tensi,” urai Azwar.

Angku Yus Datuak Par­patih (Bandaro Bodi) selaku Tetua Adat (Sesepuh) seka­ligus Budayawan Minang­kabau mengapresiasi Su­ngai Batang sebagai desa atau nagari terpilih Platform Pemajuan Kebuda­yaan De­sa Kemendik­bud­ris­tek. Bu­daya merupakan hasil daya upaya manusia untuk me­wujudkan taraf hidup lebih baik me­wujud­kan kesejah­teraan masya­rakat.

Mengangkat Potensi Budaya yang sudah hampir memudar menjadi keha­rusan dan harus didukung. Budaya sebagai ciptaan manusia berbeda dengan Agama. Karena Agama Islam mutlak dan berasal dari Tuhan Maha Esa. Mi­nangkabau memiliki filo­sofi Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK). “Merupakan Kebudayaan orang Mi­nang­kabau sebagai filosofi kehidupan tersusun dari nilai-nilai Adat dan Islam dan merupakan pedoman dari bentuk kegiatan,” ung­kap Yus Dt Parpatih.

Implementasi dan ter­wu­judnya ABS, SBK didapat melalui Pendidikan Surau. Sistem pendidikan inilah yang melahirkan pejuang kesatria, diplomat ulung dan berkarakter kuat bah­kan menjadi Pahlawan Na­sional dari Ranah Minang.

Surau tidak hanya mam­pu mencapai kekuatan ko­munikasi secara vertikal saja atau kepada Allah SWT. Tapi juga horizontal yakni kepada sesama ma­nusia. “Pendidikan Surau itu mencetak manusia siap pakai. Tidak hanya satu bidang keahlian dan ilmu pengetahuan saja. Tapi membangun mental sosial berkeadilan dan berkema­nusiaan. Sangat baik me­ma­hami karakter, psikologi dan kultur atau budaya masyarakatnya. Cepat ber­baur karena memahami masyarakatnya,” imbuh Yus Dt Parpatih.

Budaya Sungai Batang sangat kaya karena nenek moyangnya sangat ba­nyak melampaui orang tuannya. Dan banyak men­cip­takan gerakan pemba­haruan dan pengem­ba­ngan yang cukup baik. Ha­nya saja gejolak pembe­rontakan dan penjajahan membuat tokoh-tokoh itu terpaksa harus hijrah ke luar Sungai Batang.

“Saatnya melalui Program Pemajuan Kebuda­yaan Desa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi ini mam­pu membina, memproduk generasi penerus lebih baik. Hanya bisa dilakukan de­ngan surau, karena sistem ini sangat sempurna sesuai dengan tujuan hidup ma­syarakat Minang,” terang Yus Dt Parpatih.

Akan tetapi Sistem Su­rau dulu tidak akan mung­kin sama dengan situasi kondisi sekarang. Harus disesuaikan dengan per­kem­bangan zaman, na­mun tidak mengubah isi atau subtansi surau itu. Pola dan konsepnya harus tetap sama dan diper­ta­hankan, meski batas waktu dan materinya tidak terlalu jauh berubah. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional