Menu

Sumbar Masuk Provinsi Paling Sedikit Karhutla

  Dibaca : 102 kali
Sumbar Masuk Provinsi Paling Sedikit Karhutla
TINJAU PERALATAN— Gubernur Sumbar Irwan Prayitno meninjau peralatan-peralatan yang digunakan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Sumbar.

JUANDA, METRO
Sumatera Barat menjadi salah satu provinsi yang paling sedikit kebakaran hutan terjadi. Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno mengharapkan kebakaran hutan semakin berkurang, bahkan bisa nihil di tahun-tahun berikutnya.

Irwan mengatakan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) termasuk kategori bencana yang perlu diantisipasi dan diwaspadai. Lambat mengatasinya, apalagi sampai gagal, maka kebakaran akan menjadi bencana bagi daerah, bahkan sampai ke negara tetangga. Hal ini disampaikan Irwan pada Rapat Koordinasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Sumbar Tahun 2020 di Pangeran Beach Hotel, Rabu (2/12).

Ia menjelaskan, mengingat besarnya dampak yang ditimbulkan akibat kebakaran hutan, upaya pencegahan sedini mungkin tetap harus dikedepankan. Untuk itu perlu koordinasi yang lebih insentif seluruh pemangku kepentingan di Sumbar, agar lebih meningkatkan kewaspadaan terjadinya bencana karhutla.

“Kita mengapresiasi upaya yang dilakukan dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan dari Dinas Kehutanan, bersama TNI, Polri, BPBD, Brigade Kahutla, perusahaan, dan masyarakat peduli kebakaran sehingga berdampak terhadap berkurangnya kebakaran,” tukas Irwan.

Irwan mengatakan, Sumbar termasuk yang sedikit kebakaran hutan. Walaupun masih terdapat pantauan adanya hotspot (titik panas) di beberapa kabupaten/kota, namun Sumbar jauh lebih baik dibandingkan dengan provinsi lain, khususnya dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan.

“Di Sumbar kebakarannya masih kecil, kita cukup bagus pengendalian kebakaran hutan. Petugas kita mementingkan lakukan pencegahan sebelum kebakaran tersebut terjadi,” ungkapnya.

Saat hotspot terpantau setelit terangnya, kalau ada api langsung dipadamkan. Upaya ini selain dilakukan brigade juga dilakukan masyarakat di sekitar hutan, dan perusahaan yang mengelola hutan.

“Alhamdulillah, sekitar 230 ribu hektare itu dikelola oleh masyarakat, tidak ada sedikitpun kebakaran. Karena hutan tersebut langsung jadi polisinya,” ucapnya.

Irwan mengimbau masyarakat yang ada pada kawasan hutan terdapat nagari dan desa yang sebagian besar berbatasan harus bisa menjaga hutan. Termasuk meminta kepada seluruh pelaku industri di kawasan hutan agar cepat tanggap jika menemukan hotspot atau titik api.

“Kita ingatkan kepada pengusaha, jangan ambil manfaat saja, jangan cari untung saja, tapi lupa kepada dampak lingkungan, medis, kemanusiaan, dampak ekonomi dan lainnya. Jangan lagi membakar lahan, kalau masih izinnya kita cabut,” tegas Irwan.

Disampaikannya, selama tahun 2020 masih terjadi 12 titik kebakaran hutan di Sumbar. Ini menjadi perhatian khusus dari dinas kehutanan Sumbar melalui polisi kehutanan, dan brigade dengan rutin patroli agar tidak terjadi kebakaran hutan serupa. Jika masih ada diberikan tindakan hukum untuk efek jera supaya tidak mengulangi lagi. (fan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional