Menu

Suami-Istri di Padang Besarkan 5 Anak di “Gubuk Derita”, tanpa Listrik tanpa Kamar Mandi

  Dibaca : 1511 kali
Suami-Istri di Padang Besarkan 5 Anak di “Gubuk Derita”, tanpa Listrik tanpa Kamar Mandi
GUBUK REOT— Linda bersama anak-anaknya berada di rumah gubuk reot mereka yang tidak punya listrik dan kamar mandi.

“Kalau ada Beras Kami Makan, kalau Tidak harus Sabar”

PADANG, METRO–Hiruk-pikuk pembangunan kota ternyata tak membuat keluarga Linda (32) dan Anto (37) ambil pusing. Apalagi sekadar ribut-ribut masuk sekolah secara online. Lima anak mereka — paling besar 11 tahun, harus menanggung hidup susah, karena tak punya pekerjaan tetap. Kini, tinggal pun menumpang di sebuah rumah kayu reot di kawasan Indarung, Kecamatan Lubukkilangan, Kota Padang.

Ya, kini Linda harus tinggal bersama anak-anaknya di hunian yang dapat disebut “gubuk derita” itu. Rumah panggung kayu, tanpa listrik, tanpa kamar mandi, apalagi WC yang layak. Sudah hampir dua tahun keluarga ini tinggal di kawasan yang dicapai hanya bisa dengan berjalan kaki. Karena hanya ada jalan setapak pematang sawah, setelah melintasi pemukiman penduduk dari Jalan Raya Indarung.

Rumah milik kenalannya itu, juga sudah bocor di sana-sini, baik dinding, lantai, apalagi atap. Bahkan, kalau ada tamu yang sekadar datang membantu, akan susah masuk rumah. Takut roboh. “Tak kuat lantainya pak, buk. Mungkin baiknya di luar saja bicaranya,” kata Linda di rumahnya RT 2 RW 3 Indarung itu, jika ada orang yang bersimpati dan datang membantunya.

Beberapa bulan lalu, katanya, ada listrik tetangga mengalir di gubuk itu. Tapi karena tak sanggup membayar, ya tak bisa lagi dipakai.”Rumah sebelah kosong, listriknya pakai token (prabayar). Tak kuat lagi kami beli pulsanya, ya tak bisa diisi. Makan saja susah,” kata Linda yang suaminya, Anto saat ini bekerja sebagai pencuci sepeda motor di tempat cucian kawasan Indarung.

Bagi Linda, anak-anaknya juga harus diajarkan kuat dan tetap terus bersama-sama. Karena dua anaknya sekarang sudah sekolah, yang paling tua dan perempuan satu-satunya SD kelas VI dan anak kedua kelas III di dekat rumahnya. Dia mengajarkan anak mereka tak perlu iri dengan yang lain, tetap saja sekolah, semoga bantuan terus mengalir dan suaminya dapat kerja lebih baik lagi.

“Dulu kerja suami di Muaro Labuah, Solok Selatan. Jadi kernet. Jarang juga di Padang. Sekarang tak kerja lagi di sana, cuma cuci motor. Satu motor bisa dapat Rp7 ribu, tapi tak cukup untuk kami bertujuh. Semoga dapat pekerjaan yang lebih baik. Kalau saya susah, anak kecil-kecil ada tiga, harus dibawa semua,” kata Linda yang sejak virus corona ini, kemanapun pergi harus mebawa lima anaknya ini.

Untuk makan sehari-hari, kata Linda, mereka memang sangat susah. Karena itulah, saat bisa beli beras setengah gantang, mereka akan berhemat-hemat. “Kalau masak hari ini, kami akan makan bersama-sama. Karena bisa saja satu hari atau dua hari kemudian tak ada beras lagi. Ada beras makan, tak ada harus sabar. Untung anak-anak ini sabar dan tak banyak minta ini itu. Mereka cukup pengertian,” kata Linda yang mengaku tak menyesal punya banyak anak.

Sebagai ibu rumah tangga, katanya, dia pernah juga berusaha menjualkan sambal milik tetangga waktu masih tinggal di kawasan Ampang, Bandabuek, Lubukkilangan. Untuk satu bungkus bisa untung Rp1.000 atau Rp2.000. Tapi tak pula jalan lagi, banyak tak laku. “Tak kuat ngontrak di Bandabuek, kami diberi tumpangan di rumah Pak Kondang ini. Kamarnya cuma satu yang bisa dipakai, lainnya bocor. Tapi Alhamdulillah, tak membayar,” katanya.

Meski rumah tak bayar, katanya, kondisi badannya juga mulai sakit-sakitan, sering sesak nafas. Suaminya juga mulai penyakitan. “Saya kalau sudah gendong anak, bawa jalan agak jauh, suka sesak nafas. Takut juga periksa, uang tak ada. Sekarang kami hanya bisa bersyukur, masih bisa dapat makan. Masih ada orang yang peduli. Suami saya juga masih berusaha dapat kerja yang lebih baik,” sebut Linda lagi.

Anak-anak Linda menang sangat dekat dengannya. Bahkan, untuk sekadar wawancara dan mengambil foto dan video tanpa anak saja amat susah. “Dua ini susah lepas dari saya. Kalau ditinggal nangis. Dak apa, kami bersama-sama saja,” kata Linda kepada jurnalis yang mampir ke rumahnya.

Dibantu Andre Rosiade

Salah seorang tokoh perempuan Lubukkilangan, Darmy Ayub (54) mengatakan, kehidupan keluarga Linda sangat menyentuh warga sekitar. Namun karena kondisi pandemi covid-19 ini, tak banyak yang bisa membantu. Namun untuk makanan, kadang ada yang mengantarkan beras, sambal dan lainnya ke rumah yang cukup jauh dari pemukiman umum.

SERAHKAN BANTUAN— Tim AR Center, Nurhaida dan Alwis Ray menyerahkan bantuan dari Andre Rosiade kepada keluarga Linda di Indarung, Lubukkilangan.

“Kadang kami melihat Linda membawa lima anaknya berjalan kaki ke Bandarbuat. Dua digendong. Ada saja yang memberi mereka makan. Bahkan pernah ada anaknya yang sampai pingsan di jalan karena belum makan. Kami juga akan terus mengusahakan bantuan untuk mereka. Karena BLT tak dapat kemarin, alasannya karena KTP dan KK ada masalah,” kata Bendahara Forum Nagari Padang Besi ini.

Yosrizal, tokoh Padang Besi, Lubukkilangan yang juga peduli menyebutkan, saat ini bantuan untuk keluarga Linda memang sangat diperlukan. “Kalau soal tidak makan sehari dua hari, mereka sudah sering. Tempat tinggal juga tidak layak, karena berada di antara hutan dan persawahan. Melihat anak-anak yang masih kecil-kecil, sangat berbahaya,” katanya di lokasi saat didatangi Tim Andre Rosiade (AR) Center, Senin (6/7).

Kedatangan Tim AR Center, Nurhaida dan Awis Ray adalah atas amanah dari Anggota DPR RI Andre Rosiade. Dia mendapatkan informasi dari masyarakat, ada keluarga yang sangat miskin butuh bantuan di Indarung. “Kami diminta menyerahkan bantuan oleh pak Andre, ketua Gerindra Sumbar. Hari ini kami serahkan beras dan uang tunai,” kata Nurhaida yang juga Sekretaris PIRA (Perempuan Indonesia Raya) Sumbar ini.

Linda sangat terharu mendapatkan beras tersebut. Juga uang tunai yang cukup untuk persediaan mereka sekitar sebulan. “Terima kasih pak Andre, terima kasih pak, buk. Saya belum pernah dapat beras sebanyak ini. Biasanya kami hanya beli setengah gantang saja kalau ada uang,” kata Linda yang langsung memasak untuk makan keluarganya sore itu.

Andre Rosiade sangat bersimpati dan miris dengan kondisi keluarga ini. Dia meminta pemerintah setempat atau Baznas Padang atau Sumbar agar lebih fokus lagi memperhatikan warganya. “Kami akan selalu melakukan pantauan dan pengumpulan informasi soal warga tak mampu ini. Tim akan terus berjalan dan memberikan bantuan,” kata anggota Komisi VI DPR RI ini. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional