Close

Sopir Angkot Marano, Terjebak Macet, Panjang Khatib Pengendara Pilih ’Jalan Tikus’

JALAN ALTERNATIF— Sejumlah pengendara motor memilih melewati jalan di belakang Pangeran Beach Hotel. Meski belum diaspal dan berbahaya, namun karena menghindari macet, pengendara terpaksa memilih jalan tikus tersebut. (elia novika/posmetro )

KHATIB, METRO – Kemacetan parah tak bisa terelakkan lagi di sepanjang ruas Jalan Khatib Sulaiman, sejak Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Padang, mengalihkan arus kendaraan di Jalan S Parman menuju Juanda, ke jalan utama ini. Tak hanya kendaraan pribadi, namun angkutan umum pun harus melalui Khatib sejak adanya perbaikan total jembatan Juanda, di depan Pangeran Beach Hotel.

Kamis (10/10), kendaaran padat merayap dan menumpuk di Jalan Khatib Sulaiman. Bahkan, pada Rabu (9/10) sore, jarak tempuh dari Khatib menuju Lubukbuaya mencapai 1 jam.

Kondisi itu tambah diperparah lagi dengan tempat memutar kendaaran yang hanya dua di lajur Jalan Khatib Sulaiman. Yakni, di bundaran depan Pengadilan Negeri (PN) Padang dan di depan STIMIK Indonesia. Sehingga, kendaraan menumpuk dititik lajur memutar dan lampu merah Simpang Presiden.

Salah satu, sopir angkot jurusan Pasar Raya-Lubukbuaya, Tomy (28) mengatakan akibat pengalihan jalan, ia kehabisan trip menambang, karena terjebak macet di Khatib Sulaiman.

“Habih hari di jalan da. Untuak di Khatib iko sampai pulo wakatu 30 minik. Baa caronyo mangaja trip, biaya batambah pulo, dek mamatua jauh,” keluh pria dua anak itu, Kamis (10/10).

Hal serupa dikeluhkan Syahruddin (37), sopir angkot jurusan Pasar Raya-Tabing. Ia mengaku, uang yang didapat dari manambang menurun. Selain sepi penumpang, ia juga lebih banyak menghabiskan waktu di jalan, karena terjebak macet panjang di Khatib.

“Sejak ada perbaikan jembatan, banyak penumpang memilik ke ojek online (ojol). Karena banyak pegawai atau karyawan yang bekerja di kawasan Ulakkarang atau Juanda, memilih naik ojol. Kalau naik angkot kan tak bisa lagi,” keluh Syahruddin.

Penutupan jalan dan pengalihan jalan diberlakukan sejak Rabu (9/10). Dimana, seluruh kendaraan dari jalan Prof. Hamka menuju Pasar Raya dialihkan ke arah Jalan Khatib Sulaiman begitu sebaliknya, dari jalan Juanda ingin ke arah Jalan Hamka dialihkan ke arah Jalan Raden Saleh menuju Jalan Khatib Sulaiman.

Pantauan POSMETRO, untuk menghindari kemacetan banyak pengendara roda dua maupun mobil untuk memilih jalur alternatif, seperti di simpang Jalan Pramuka bisa tembus ke Asratek dan sampai ke jalan Prof. Hamka, Basko Grand Mall via Jalan S. Parman.

Sementara itu, sebaiknya pengendara untuk roda dua yang masih melewati disisi tepi kanal jembatan untuk menghindari jalan alternatif lewat Aspol Lolong, karena jalan tersebut ditutup oleh pihak Aspol terlihat kursi dan bantalan kayu melarang pengendara roda dua dan roda empat melewati jalur tersebut.

Kemarin, di lokasi perbaikan jembatan, tampak dua unit ekskavator standby di lokasi. Alat berat tersebut digunakan untuk membongkar jembatan dan telah terlihat beberapa bantalan beton dimensi besar sebagai pondasi jembatan telah di lokasi pengerjaan proyek jembatan. Sedangkan jembatan lama telah dibongkar oleh para pekerja.

Plt Kepala Dinas PUPR Kota Padang Yenni Yuliza mengatakan, jembatan tersebut akan diganti dengan plat baja agar lebih kuat dan tahan lama. Selain itu juga ada pembuatan duicker pada jembatan.

Penggantian jembatan dan pembuatan duicker tersebut menghabiskan anggaran sebesar Rp3,18 miliar lebih, bersumber dari dana APBD Kota Padang.

“Pengerjaan jembatan tersebut kita harapkan bisa tuntas terhitung dalam 150 hari kerja, sehingga tidak terlalu lama menganggu lalu lintas,” kata Yenni.

Dikatakannya, para pekerja akan bekerja siang dan malam agar pengerjaan jembatan bisa tuntas secepatnya. Sehingga tidak begitu lama mengganggu arus lalu lintas.

Jalan Tikus jadi Alternatif

Sejak dilakukan perbaikan jembatan Juanda dan kemacetan panjang di Khatib Sulaiman, banyak pengendara memilih “jalan tikus”. Salah satunya, di jalan belakang Hotel Pangeran Beach, yang dulunya tidak ada dilewati pengendara sekarang ramai dilalui sepeda motor.

Padahal, jalan di belakang hotel tersebut belum diaspal dan masih dalam pengerjaan. Ranti, warga Flamboyan, mengatakan terpaksa melewati jalan tikus walaupun jalannya tidak bagus dan berbahaya. “Sebagian jalan di simpang Asrama Polisi ada yang ditutup, sehingga susah kalau harus berputar jauh. Jadi terpaksa melawai jalan di belakang hotel,” kata Ranti.

Randi pengendara roda dua mengatakan, awalnya tidak mengetahui kalau ada jalan bisa dilewati di belakang Hotel Pangeran. Sebelumnya, harus putar dulu ke arah jalan Khatib Sulaiman, menjadi jauh dan membutuhkan waktu lagi, sekarang walaupun jalan di belakang hotel buruk dan tidak sepantasnya dilewati karena ada pengerjaan, tetapi harus dilewati karena ingin cepat sampai,” tambahnya. (cr1/e)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top