Menu

Solar Langka, Truk Antre Berjam-jam, Pertamina Klaim Stok BBM Cukup

  Dibaca : 321 kali
Solar Langka, Truk Antre Berjam-jam, Pertamina Klaim Stok BBM Cukup
ANTREAN TRUK— Sulitnya mendapatkan BBM jenis solar, membuat puluhan truk antre disejumlah SPBU di Kota Padang, sejak Sabtu (19/10) hingga Minggu (20/10). Seperti di SPBU Rawang, Kecamatan Padang Selatan, dan SPBU Lubukbuaya, Minggu (20/10), terlihat truk barang dan tangki ngetem di depan pintu masuk SPBU untuk mendapatkan solar. (ade syaf putra/posmetro)

LUBUKBUAYA, METRO – Sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar, membuat puluhan truk antre disejumlah SPBU di Kota Padang, sejak Sabtu (19/10) hingga Minggu (20/10). Sebelumnya, pemilik kendaraan juga kesulitan mendapat premium yang sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir.

Pantauan POSMETRO di SPBU Rawang, Kecamatan Padang Selatan, Minggu (20/10) terlihat truk barang dan tangki ngetem di depan pintu masuk SPBU untuk mendapatkan solar. Antrean kendaraan itu mencapai 200 meter, parahnya truk yang berdiri waktunya mulai dari pagi hari.

Alamsyah (50), salah seorang sopir truk mengatakan ia sudah mengantre sejak pukul 09.00 WIB. Namun, sudah sampai jam 13.00 WIB baru akan mendapatkan giliran.

“Jika tidak mendapatkan Solar tentu kendaraannya tak dapat beroperasi seperti biasa,” ujar Alamsyah, yang membawa barang ke Pelabuhan Teluk Bayur ini.

Jup (51), sopir truk lainnya mengatakan, sekarang sangat susah mendapatkan bahan bakar solar. “Saya sudah berkeliling dibeberapa SPBU, disinilah dapat terisi kendaraan yang saya bawa.

Sata berharap BBM kembali normal. KAlau antre lama seperti ini, kami yang rugi,” imbuhnya.

Isi Full

Di sisi lain kelangkaan solar juga membuat pengemudi truk ’pasang badan’. Banyak sopir truk yang mengisi full tangki. Ini terlihat di SPBU Lubukbuaya, Minggu (20/10).

Salah satunya, Anto (38), yang mengaku mendapat kabar dari teman sesama sopir, bahwa solar di luar Kota Padang langka dan terjadi antrean panjang.

“Buat jaga-jaga bang. Besok, mau berangkat ke Dharmasraya. Jika solar susah, dari pada kehabisan lebih baik kita isi full. Biar lah uang jalan kita pakai dulu, infonya di luar sana udah pada antre panjang bahkan solar habis,” ujar sopir ekspedisi asal Sijunjung itu.

Pengemudi truk Andi (36), juga mengatakan membenarkan jika di luar Kota Padang terjadi kelangkaan solar. “Sabtu malam, saya mau mengisi solar di SPBU Lubukselasih, ternyata stok habis dan banyak truk antre. Ini juga terjadi di beberapa SPBU jalan lintas Sumatera, antara Dharmasraya hingga Solok. Untung saja truk saya bisa sampai ke Padang. Makanya saya isi full hari ini, untuk jalan esok pagi,” ujarnya.

Pengemudi truk tronton itu menambahkan, ia mendengar jika Pertamina menyebut stok solar cukup. Namun, kenyataan di lapangan, antrean panjang tetap terjadi di SPBU.

“Stok BBM cukup, tapi kenapa masih langka dan terjadi antrean? Kemana larinya solar? Kami sebagai masyarakat jadi mejadi heran juga. Bisa kacau juga begini jadinya kehidupan pancari pariauk bereh kami,” cetusnya.

Di sisi lain, pantauan POSMETRO, antrean masih terlihat normal di pengisian bio solar di SPBU Lubukbuaya dan SPBU Simpang Kalumpang di kawasan jalan Adinergoro.

Sebelumnya , PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) I menyatakan telah menyalurkan bahan bakar minyak bersubsidi jenis biosolar melebihi dari kuota yang ditetapkan oleh Pemprov Sumatera Barat walaupun saat ini terjadi antrean panjang truk di di beberapa SPBU.

Manager Comm,Rel & CSR PT Pertamina MOR I Robby Hervindo melalui siaran persnya, mengatakan pihaknya tidak melakukan pengurangan penyaluran bahan bakar biosolar bahkan hingga September 2019 jumlah bio solar yang disalurkan melebihi kuota yang ditetapkan oleh pemerintah.

Kuota yang tetapkan oleh pemerintah adalah sebesar 291 ribu kilo liter dan yang telah disalurkan sebanyak 332 ribu kilo liter.

“Totalnya sebanyak 114 persen dari kuota yang seharusnya disalurkan ke Sumbar, ada kelebihan sebesar 14 persen,” katanya.

Dari data BPH Migas, Provinsi Sumatera Barat merupakan satu dari 10 provinsi yang ditemukan penyaluran biosolar yang tidak tepat sasaran.

“Jika hanya konsumen yang berhak mengonsumsi bio solar, maka kuota akan mencukupi karena kuota diperhitungkan oleh Pemprov Sumbar dan pemerintah pusat dengan pertimbangan kebutuhan konsumen yang berhak mendapatkannya,” katanya.

Dicontohkan, insiden kebakaran di SPBU Agam pekan lalu yang disebabkan karena kendaraan dengan tangki modifikasi.

“Ini salah satu bentuk penyelewengan konsumen yang tidak berhak menggunakan biosolar,” katanya.

Ia mengatakan, Pertamina siap meningkatkan sinergi bersama pemerintah daerah dan aparat mengawasi dan memastikan penyaluran bio solar subsidi tepat sasaran.

“Kami juga mendukung pihak aparat untuk tegas menindak penyelewengan biosolar subsidi,” ungkap Robby.

Sebelumnya dalam dua hari belakangan ini terjadi antrean panjang mobil tangki di beberapa SPBU di Sumatera Barat yang ingin membeli bahan bakar bersubsidi jenis biosolar.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Kota Padang, Jumadi meminta kepada pihak Pertamina agar menjelaskan pada warga soal kelangkaan Solar. Supaya jelas bagi warga dan kecurigaan dari berbagai pihak tidak muncul.

Selain itu, kepada Dishub dan Satpol PP diminta membantu mengatur lalu lintas yang dianggap padat dilewati kendaraan. Ini agar kemacetan bisa tertib dan umpat pengendara lain tak ditemui.

“Kepada pengendara jangan menerobos giliran orang, namun antre dengan baik, supaya macet tidak panjang lagi,” ujar kader Golkar ini (cr1/ade)

 

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional