Menu

Soal Literasi Keuangan, Pemahaman Masyarakat masih Rendah

  Dibaca : 148 kali
Soal Literasi Keuangan, Pemahaman Masyarakat masih Rendah
BERI MATERI— Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keunagan OJK Sumbar, Medi ketika memaparkan materi saat kegiatan Sekolah Pasar Modal di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumbar, Rabu (20/3).

PADANG, METRO – Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2013 dan 2016 tercatat indeks literasi keuangan sebesar 29,7%. Sementara, indeks inklusi keuangan sebesar 67%-69%.

Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keunagan OJK Sumbar, Medi mengatakan, bahwa OJK pernah melakukan survei untuk mengetahui tingkat literasi keuangan terhadap industri keuangan. Hasilnya, literasi hanya berkisar 29,7%. Artinya, yang paham produk keuangan atau jasa keuangan baru sedikit.

“Dampaknya, terjadi kesalahpahaman antara konsumen dan industri. Karena itu, masyarakat butuh produk keuangan tapi tidak paham, namun beli saham. Setelah itu, banyak masyarakat yang datang mengadu ke OJK,” ujar Medi saat kegiatan Sekolah Pasar Modal di Kantor Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumbar, Rabu (20/3).

Dengan rendahnya indeks pemahaman literasi keuangan, Medi mendorong, masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Saat ini, OJK juga gencar melakukan sosialisasi tentang investasi di pasar modal tujuannya meningkatkan pemahaman masyarakat tentang investasi pasar modal terutama investasi aman.

Medi menyebutkan, saat ini jumlah investor di Sumbar sudah tembus 13.000 orang. Untuk mendukung investor, kata dia, telah berdiri 11 perusahaan sekuritas. Sebagian besar telah membuka kantor cabang, dan sebagain lagi masih berkantor di Bursa Efek Indonesia.

“Kalau ada yang bilang jadi investor itu butuh uang puluhan juta dan ratusan miliar. Ini tidak benar, karena dengan uang Rp100 ribu saja sudah bisa jadi investor,” kata Medi.

Bagi masyarakat yang memiliki kendala dalam mencari dana dari pasar modal, Medi menyarankan, untuk melakukan penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Pendanaan yang didapat dari IPO ini jumlahnya sangat besar.

“Selama 2018 dana yang dihasilkan IPO lebih dari Rp100 triliun. IPO ini berbeda dengan perbankan, kalau lewat perbankan kita akan dikenakan bunga, tapi IPO tidak,” sambung Medi.

Lebih lanjut, Medi berharap, tahun 2019 ada 1 perusahaan yang ada di Sumbar yang bisa main-main saham di Bursa Efek Indonesia atau go public. Sehingga masyarakat di Sumbar semakin tertarik dan menjadi daya dorong untuk masuk di pasar modal.

“Harapan kita perusahaan di sini banyak main saham di BEI. Dengan begitu masyarakat tentu semakin tertarik dengan pasar modal. Mereka juga bisa berpatisipasi membeli saham terhadap perusahaan lokal,” harap Medi. (mil)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional