Menu

Soal Krematorium, Albert: Yang Dipermasalahkan Lokasi, Bukan Mesin

  Dibaca : 1987 kali
Soal Krematorium, Albert: Yang Dipermasalahkan Lokasi, Bukan Mesin
M Ali Ramdhani
1-Mesin kremasi di krematorium HBT di kawasan Pondok Padang- - WEB

Alat krematorium yang tengah jadi pro-kontra di kawasan Pondok, Kota Padang,

KHATIB, METRO–Anggota DPRD Sumbar Albert Hendra Lukman meminta pro kontra keberadaan krematorium HBT di Jalan Pasar Borong III, Kelurahan Batang Arau, jangan sampai berujung konflik dan perpecahan. Alber juga menyayangkan sikap dari Tuako Himpunan Bersatu Teguh (HBT) Andreas, yang menyatakan krematorium di kawasan Bungus Teluk Kabung, bermasalah. Hal itu tentu menimbulkan reaksi dari kongsi kematian Hok Tek Tong (HTT).

”Ini perlu diklarifikasi karena semenjak dari awal kami (HTT-red) tidak pernah terlibat dalam permasalahan pembangunan krematorium milik HBT. Karena ada trauma masa lalu. Selama ini kami hanya mengamati saja dan tidak pernah turut campur dalam masalah ini,” ungkap Albert yang juga Hoff Komisaris Kepala HTT ini, kepada POSMETRO, Selasa (3/11).

Selain itu tudingan yang dilayangkan kepada krematorium milik HTT, sudah sesuai dengan PP No 9 tahun 1997 tentang Pemakaman. Di mana krematorium tidak boleh berada di dalam pemukiman penduduk, namun harus di lokasi pemakaman. ”Krematoriun milik kami letaknya di Bungus tersebut, tepat di dalam wilayah TPU, jadi tentu tidak ada permasalahan dengan aturan tersebut,” ungkapnya.

Dikatakan, sedari awal dia sudah memprediksi bahwa akan terjadi konflik jika krematorium dibangun di Pondok. ”Saya sudah komunikasikan ini kepada wali kota dan Tuako HBT, namun tidak didengarkan. Setelah terjadi peristiwa ini, malah saya yang disebut sebagai provokatornya. Apalagi ada yang menganggap demo yang ada dilakukan warga ditumpangi oleh HTT,” kata Albert.

”Ini sama sekali tidak benar dan perlu klarifikasi, selama ini kami hanya diam dan mengamati saja,” lanjut Politisi PDI Perjuangan ini.

Menurut hematnya, yang dipermasalahkan oleh warga itu adalah lokasinya. Bukan masalah mesin yang digunakan. ”Kalau untuk mesin kita akui mesin tersebut luar biasa canggihnya. Namun yang dipermasalahkan oleh warga adalah lokasi. Pondok ini ada berbagai etnis yang tinggal disini. Sehingga seharusnya lokasi krematorium ini tidak menimbulkan gejala sosial yang tidak bagus,” katanya.

Ia menilai, daripada menimbulkan polemik berkepanjangan, lebih baik krematorium dipindahkan ke Bungus. Sehingga lokasi krematoriun HBT bisa berdampingan dengan HTT. ”Kami tidak akan mempermasalahkan mesin baru yang dimiliki oleh HBT. Karena kami akan menggunakan mesin lama. Dan jika nanti ada dana, kami juga akan membeli mesin baru tersebut,” tutup Albert.

Sementara itu salah seorang tokoh masyarakat Tionghoa, Iswanto Kwara juga menyayangkan tudingan yang dilontarkan oleh Tuako Andreas. Karena hal itu bisa menimbulkan konflik di kawasan Pondok ini. ”Jangan gara-gara ada satu pihak yang memiliki permasalahan, lalu menuding pihak lain juga melakukan kesalahan. Ini sudah tidak benar, hendaknya kita semua bisa menjaga kerukunan dengan baik. Dan menjauhi hal-hal yang bisa menimbulkan konflik sosial,” pungkasnya.
Sebelumnya, seperti berita POSMETRO edisi Sabtu, 31 Oktober, Tuako HBT Andreas mengatakan, terkait persoalan adanya protes warga, dia tidak keberatan, namun seharusnya masyarakat juga memprotes krematorium yang ada di Bungus dan Gunung Padang, mengapa krematorium yang tidak menyalahi diprotes.

”Kami tidak bisa terlalu menanggapi, itu di luar kapasitas kami, namun saya ingin masyarakat seharusnya protes krematorium yang ada di Bungus ataupun yang ada di Gunung Padang, itu jelas jelas sudah menyalahi aturan. Mengapa krematorium.yang sudah lengkap izinnya yang diprotes,” katanya, Jumat (30/10).

Selain itu, Andreas menambahkan seperti krematorium yang ada di Bungus, itu sangat menyalahi. Sebab krematorium itu tidak berizin IMB, maupun izin menyangkut dengan pengolahan limbah, dan kemudian berdiri di tanah pemda serta tidak membayar sewa. Ditambah lagi lokasinya yang terlalu dekat dengan Pertamina.

”Ketika pembakaran, asapnya juga ikut membawa bunga api. Itu sangat berbahaya karena lokasinya dekat dengan Pertamina. Namun mengapa masyarakat tidak protes. Saya tahu yang di Bungus itu menyalahi aturan. Sebab pada tahun 1997, krematorium yang di Bungus itu saya yang membangun tempat itu dengan uang pribadi saya,” kata Andreas.

Andreas melanjutkan, masyarakat sebaiknya memprotes krematorium di Bungus, yang memiliki mesin berbeda. Jika pembakaran, bukan asap saja yang keluar, bahkan ikut membawa bunga api. ”Saya bertanggung jawab dengan perkataan saya, dan saat ini saya harus bereaksi dengan kejadian ini,” kata Andreas.

Sementara itu, Andreas menyayangkan mengapa krematorium yang ada di Jalan Pasa Borong III yang sudah memiliki izin lengkap, dan lolos uji emisi, serta memiliki alat termodren yang didatangkan langsung dari Korea, masih didemo. Alat krematorium itu, merupakan alat tercanggih dan tidak mengeluarkan asap sedikitpun.

”Kita sudah mengujinya, dan disaksikan langsung oleh wali kota dan kita lihat bersama, krematorium itu izinnya sudah lengkap dan tidak ada lagi persoalan. Terkait protes itu, saya saat ini harus bereaksi, mereka yang protes bukan warga Kelurahan Batang Arau, tapi warga Pasa Gadang,” ungkapnya. (o)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional