Menu

Sitinjau Lauik Ekstrim, KNKT Turun Tangan

  Dibaca : 119 kali
Sitinjau Lauik Ekstrim, KNKT Turun Tangan
JELASKAN— Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono bersama Kepala BPTD Wilayah III Sumbar, Deny Kusdyana saat menjelaskan kepada warwatan.

PADANG, METRO
Kawasan Sitinjau Lauik yang merupakan ruas jalan lintas Sumatera rute Padang-Arosuka-Solok, dikategorikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), sebagai salah satu jalur cukup berbahaya dan berdampak cukup besar terhadap kecelakaan. Ancaman kecelakaan bagi pengendara yang melewati jalur ini yakni, kemiringan jalan yang cukup terjal dan berbelok. Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan, ketenaran ekstrimnya kawasan Sitinjau Lauik ini sudah mendunia, dengan maraknya video yang beredar di youtube di lokasi jalur tersebut.

“Seperti teman saya di Amerika Serikat menanyakan, di Sitinjau Lauik setahun lalu dua tahun lalu masih seperti itu. Apa tidak ada usaha mengurangi resiko kecelakaan, Kita seperti tidak ada program dan safety action mengurangi kecelakaan di kawasan tersebut. Kita sebagai bangsa juga malu,” ujar Soerjanto, Selasa (30/3) di Padang.

KNKT datang ke Padang, untuk mengundang seluruh pihak terkait, agar dapat berkontribusi mengantisipasi kecelakan di kawasan Sitinjau Lauik. Melalui kontribusi seluruh pihak nantinya, tidak ada lagi korban kecelakaan yang timbul di kawasan tersebut.

Soerjanto mengatakan, Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah III Provinsi Sumbar, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), sebagai kordinator nantinya, agar melibatkan seluruh pihak terkait untuk menekan angka kecelakaan di Sitinjau Lauik. “Kita bikin rekomendasi nantinya. Seperti, jika berhubungan dengan masalah jalan kita sampaikan ke Menteri PUPR. Terkait lalulintas jalan kita rekomendasikan ke Kemenhub. Dinas Pehubungan Provinsi Sumbar juga harus ikut terlibat,” tegasnya.

Soerjanto menegaskan, satu korban kecelakaan di kawasan Sitinjau Lauik sudah terlalu banyak. Namun, data KNKT, satu tahun ada sekitar 36 kasus kecelakaan di kawasan ini. “Semua stakeholder harus bisa berpartisipasi. Harus ada unit yang bertanggungjawab. Salah satunya Kementerian Perhubungan untuk leading sektornya,” tegasnya.

Soerjanto juga menegaskan, tugas KNKT adalah mencari penyebab dan rekomendasi terhadap suatu tempat yang terjadi sering terjadi kecelakaan berulang. “Kita hari ini sudah berdiskusi dengan BPTD Wilayah Sumbar, termasuk juga kepolisian, Balai Jalan Nasional, Kementerian PUPR, Universitas Andalas (Unand), Pemprov Sumbar, PT Jasa Raharja, Pemkab Solok dan stakeholder lainnya, mencari solusi mengurangi kecelakaan di Sitinjau Lauik,’ ungkapnya.

Soerjanto mengungkapkan, hasil diskusi hari itu, terungkap, ada rencana pembangunan jembatan di kawasan tersebut untuk mengurangi keekstriman Sitinjau Lauik. Jembatan akan dibangun dari kawasan Panorama 1 dan Panorama II. “Itu kan program jangka panjang yang membutuhkan biaya cukup mahal. Kita minta ada program jangka pendek, menengah dan panjang,” tegasnya. “Sebelum jembatan ini jadi, apa ada program jangka pendek. Kita akan resume dan berikan rekomendasi kepada kementerian terkait. Seperti, masalah jalan, kita akan rekomendasikan ke Menteri PUPR, terkait rambu-rambu dan sarana segala macam, kita kordinasikan dengan Kementerian Perhubungan,” ungkapnya.

Termasuk juga penerapan system manajemen keselamatan. “Kalau kita tahu daerah itu bahaya, perlu lakukan analisa dan mitigasi. Harus ada program pengurangan resiko kecelakaan di Sitinjau Lauik. Sehingga tidak ada lagi hal yang berbahaya dan ekstrim,” tegasnya.

Untuk solusi jangka pendek, menurut Soerjanto, perlu pertolongan kecelakaan. Karena itu Pemerintah Kabupaten Solok harus sediakan lokasi tempatnya. Sebelum truk turun, kendaraan harus diperiksa. Karena itu perlu ada lokasi bengkel kecil melakukan perbaikan. KNKT juga menyarankan harus ada ambulance di kawasan Sitinjau Lauik. Sehingga, kalau ada kecelakaan tidak menunggu ambulance dari Padang.

Termasuk juga partisipasi dari PT Jasa Raharja, yang juga menyediakan ambulance melalui program CSR-nya. Selain itu, juga perlu disediakan, alat pemadam dan ekstraktor atau pemotong dan lainnya. “Kalau kecelakaan belum bisa dikurangi, maka pertolongan yang cepat harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa manusia. Rekomendasi jangka pendek diharapkan dalam beberapa hari dan minggu ini sudah disiapkan,” tegasnya.

Kepala BPTD Wilayah III Sumbar, Deny Kusdyana mengatakan, KNT investigasi kawasan Sitinjau Lauik, ketika turun ke Sumbar, saatsaat kecelakaan beruntun di kawasan Lembah Anai beberapa waktu lalu. “Saya waktu itu meminta KNKT untuk investigasi Sitinjau Lauik. Kita ingin melakukan pembenahan untuk mengurangi angka kecelakaan di kawasan itu,” terangnya.

KNKT dibutuhkan untuk melakukan kajian lebih mendalam, terkait apa yang harus dilakukan di kawasan tersebut. Dengan rekomendasi yang diberikan KNKT, akan ditindaklanjuti sesuai tugas BPTD Wilayah III Sumbar.

Deny juga mengungkapkan, pihaknya sudah menyiapkan kegiatan terkait mitigasi berdasarkan rekomendasi KNKT. Seperti menempatkan kendaraan di kawasan Lubuk Selasih. “Kendaraan ini untuk mengantisipasi kecelakaan berat. Sehingga bisa meluncur untuk mengatasi kecelakaan. Termasuk masalah kemacetan,” terangnya.

Mitigasi lainnya, BPTD Wilayah III Sumbar juga menyiapkan rambu-rambu jalan. “Rambu-rambu ini seharusnya lebih detail dan berbeda dengan pemasangan di ruas jalan yang tidak terlalu ekstrim. Memasangnya di lokasi ekstrim juga butuh tahanan. Karena ruangnya sempit justru bisa membahayakan. Hal ini juga perlu diskusikan bersama,” harapnya.

Melalui KNKT, Deny berharap, agar bisa merekomendasikan ke tingkat kementerian terkait penyediaan perlengkapan jalan. “Sehingga mudah-mudahan rekondasi ini membuat jajaran di bawah lebih kuat dan leluasa untuk menindaklanjuti,” harapnya.(fan)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional