Menu

Siswi SMK Dijual Online Rp 500 Ribu

  Dibaca : 2068 kali
Siswi SMK Dijual Online Rp 500 Ribu
PELIHATKAN BUKTI— Kapolresta Padang Kombes Pol Yulmar Try Himawan didampingi Kasat Reskrim AKP Edriyan Wiguna memperlihatkan barang bukti terkait dua siswi SMK yang dijual oleh tiga orang mucikari.

PADANG, METRO – Lagi-lagi. Praktek prostitusi yang dijajahkan melalui online di Kota Padang dibongkar Polisi. Mirisnya, dalam pengungkapan kasus bisnis lendir ini, dua remaja perempuan bawah umur yang masih berstatus pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) asal Kabupaten Pesisir Selatan dijual kepada lelaki hidung belang.

Dua pelajar tersebut merupakan korban atas tindak perdagangan manusia yang dilakukan tiga orang berperan sebagai mucikari. Mereka di antaranya berinisial FB (33), sementara dua mucikari lainnya juga masih di bawah umur yaitu AP (16) dan AS (16). Modusnya, ketiga mucikari menjual korbannya kepada pria hidung belang melalui aplikasi MiChat.

Mereka diringkus Satreskrim Polresta Padang di sebuah cafe yang berada di kawasan GOR H Agus Salim Padang, Kamis dini hari (16/1) sekitar pukul 01.30 WIB. Sedangkan dua korban eksploitasi berinsial AY (15) dan YM (15) ditemukan petugas di dalam kamar salah satu hotel di Kota Padang.

Kapolresta Padang Kombes Pol Yulmar Try Himawan didampaingi Kasatreskrim AKP Edriyan Wiguna mengatakan, terungkapnya kasus ini berawal dari laporan dari salah seorang kakak korban yang merupakan warga Pesisir Selatan yang melaporkan kalau adiknya yang sudah tidak berada di rumah semenjak tanggal 1 hingga 15 Januari 2019.

“Kakak korban mencurigai adiknya beserta temannya berada di Kota Padang. Sehingga dilakukanlah penyelidikan dan pencarian terhadap kedua anak ini dan di ketahui keduanya tengah beristirahat di salah satu hotel yang ada di Kota Padang. Saat dimintai keterangan, dua korban mengaku telah diekploitasi oleh ketiga mucikari,” kata Kombes Pol Yumar jumpa pers dengan awak media, Kamis (16/1) siang.

Kombes Pol Yulmar menjelaskan, ketiga mucikari menjajakan kedua korban melalui aplikasi berbasis online yaitu MiChat. Dari keterangan kedua anak itulah, kemudian ketiga pelaku diamankan di kawasan GOR H Agus Salim. Dari keterangan para pelaku, diketahui modus operandi yang dilakukan yaitu menasukkan foto korban ke dalam aplikasi MiChat kemudian menawarkannya kepada pelanggan.

“Eksploitasi kepada kedua korban telah terjadi sejak tanggal 10 hingga 12 Januari yang bertempat di tiga hotel yang ada di kota Padang. Korban terbukti dieksploitasi oleh para mucikari secara seksual. Mucikari memasarkan melalui media sosial, kalau setuju pelanggan didatangi kemudian eksekusi di hotel,” ujarnya.

Yulmar mengatakan, para mucikari mematok harga untuk layanan sekali kencan kepada korban seharga Rp500 ribu. Kemudian hasil prostitusi dibagi rata antara mucikari dan korban. “Transaksi seharga Rp500 ribu dibagi dua. Ada dibelikan baju, dan dipergunakan bersenang-senang,” tuturnya.

Lebih lanjut dikatakan Kombes Pol Yulmar, perkenalan korban dengan mucikari berawal dari teman-teman para pelaku yang mengatakan adanya dua anak asal Pessel yang putus sekolah dan membutuhkan pekerjaan di Kota Padang. Pertemuan pertama korban yaitu dengan pelaku FB pada tanggal 8 Januari.

“Selanjutkan diperkenalkan kepada pelaku AS (16). Setelah itu, korban dibawa berkeliling Kota Padang menggunakan mobil FB. Kemudian pada tanggal 10 Januari, ketiga mucikari memasukkan foto korban ke aplikasi MiChat. Korban diberikan pelanggan pertama kali tanggal 12 Januari. Masing-masing korban telah melayani tamu sebanyak 3 hingga 5 kali di beberapa hotel yang berbeda, ,” ungkap Kombes Pol Yulmar.

Kombes Pol Yulmar menuturkan, setelah melayani lelaki hidung belang, kedua korban dibawa beristirahat di kamar hotel yang memang sudah dipersiapkan untuk tempat korban menginap. Dari uang Rp 500 ribu untuk sekali kencan, mucikari memberikan Rp250 ribu kepada korban. Bahkan, ada uang yang di gunakan beli baju, serta dipergunakan untuk bersenang-senang bahkan membeli sabu.

“Untuk pasal yang digunakan untuk menjerat tersangka adalah pasal 76 i Juncto (Jo) pasal 88 Undang-undang nomor 17 tahun 2016 tentang Perpu UU nomor 1 tahun 2016, tentang perubahan kedua atas UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-undang. Para tersangka terancam pidana paling lama sepuluh tahun penjara serta denda maksimal Rp200 juta,”pungkas Yulmar. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional