Close

Sipir dan Napi Selundupkan Narkoba ke Lapas, Bandar Dimiskinkan dengan TPPU

JUMPA PERS— Kepala BNNP Sumbar Brigjen Pol Khasril Arifin, Kamis (24/5) menggelar jumpa pers terkait penangkapan sipir dan napi yang diduga menyelundupkan narkoba ke Lapas Biaro Bukittinggi. (banua siregar/posmetro)

PADANG, METRO – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumbar meringkus enam orang pelaku yang terlibat dalam sindikat pengedar narkoba jenis sabu dan ekstasi jaringan lintas provinsi. Narkoba asal Pekanbaru, Riau itu rencananya akan diselundupkan ke dalam Lembaga Permasyarakatan (Lapas) yang melibatkan sipir dan narapidana.

Yang ditangkap, Afriadi (35) dan Armen (27) berperan sebagai kurir narkoba yang menjemput sabu ke Pekanbaru. Thendry Chrizandi (30) sipir Lapas yang berperan menyelundupkan narkoba ke dalam Lapas. Kemudian David Suarno dan Feri Irawan merupakan narapidana yang berperan sebagai penerima narkoba di dalam Lapas.

Untuk pemasok narkoba dari Pekanbaru, Riau bernama Handani (46) yang juga merupakan residivis yang baru saja keluar dari penjara tahun 2018 lalu. Khusus untuk pelaku Handani, dia dijerat pasal berlapis, yaitu tindak pidana penyalahgunaan narkotika, dan juga tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Saat ini, beberapa aset yang dimiliki pelaku Handani berupa rumah, tanah, ruko, mobil, emas, tabungan dan barang berharga lainnya yang dibeli menggunakan uang hasil penjualan narkoba itu, telah disita BNN. Semua aset itu disita petugas di Sumbar, Riau, Kalimantan Selatan, dan Sulawesi Selatan dengan total aset Rp3,5 miliar.

Selain itu, dari penangkapan keenam pelaku di tiga lokasi berbeda ini, petugas BNN menyita barang bukti berupa 500 gram atau setengah kilogram lebih narkotika jenis sabu yang dibungkus dalam satu paket besar dan 29 butir pil ektasi berbagai warna. Narkoba tersebut akan dijual di dalam Lapas maupun di luar Lapas.

Kepala BNNP Sumbar Brigjen Pol Khasril Arifin, Kamis (24/5) dalam jumpa pers mengatakan, pihaknya melakukan pengungkapan kasus peredaran narkotika yang dikendalikan oleh narapidana dan melibatkan sipir Lapas untuk memuluskan penyelundupan narkoba ke dalam lapas. Sabu dan ekstasi tersebut, berasal dari Pekanbaru yang dibawa menggunakan jalur darat.

”Untuk yang kurir narkoba berjumlah dua orang diringkus di jembatan rusak di Kayu Tanam sata mengemudikan mobil. Sipir lapas dan dua narapidana ditangkap di Lapas Biaro Bukittinggi. Sedangkan pemasok narkoba kita tangkap di Pekanbaru. Jadi enam orang pelaku ini memiliki peranan yang berbeda tetapi berada dalam satu jaringan. Ada yang berperan sebagai pemasok, kurir, dan penjual,” kata Khasril.

Khasril menjelaskan, pada kasus ini, pihaknya tidak hanya menjerat pelakunya tindak pidana penyalahgunaan narkotika. Namun juga menjerat pelakunya dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Tujuannya untuk menarik semua aset yang telah dibeli pelaku dari uang keuntungan penjualan narkoba sehingga bisa dimiskinkan.

“Pelaku Handani dua kali dipenjara berperan sebagai pemasok narkoba, kita jerat dengan TPPU. Dari hasil pemeriksaan dan pengembangan, kita telah menyita berbagai aset milik pelaku yang berada di empat provinsi. Aset-aset itu dibeli pelaku dari keuntungan jual narkoba. Totalnya Rp3,5 miliar lebih,” ungkap Khasril.

Khasril menuturkan narkona yang ditemukan dari pengungkapan kasus ini ada dua jenis, yaitu sabu dan ekstasi. Dari hasil pemeriksaan, narkoba itu dijual sebagian di dalam Lapas, dan juga dijual ke luar lapas. Penyelundupan narkoba yang dilakukan oleh jaringan tersebut diduga sudah berulang kali.

“Kita masih terus mengembangkan kasusnya. Untuk mengungkap bandar-bandar yang terlibat dalam jaringannya. Sudah ada beberapa nama yang kita kantongi. Terkait keterlibatan sipir dan narapidana, kita juga sudah berkoorinasi dan bekerja sama dengan pihak Kemenkumham,” ujarnya.

Sementara itu, Handani (46) alias Aan Mamak mengatakan, dia baru bebas dari penjara tahun 2018 di Pekanbaru. Setelah bebas, ia sudah bertekat untuk bertaubat. Namun, selepas menghirup udara bebas, dia masih saja dikejar-kejar oleh jaringan David Suarno untuk meminta bantuan agar narkoba bisa dipasok.

“Saya sudah bilang kalau saya sudah taubat, dan tidak mau lagi terlibat. Tapi dia tetap ngotot, makanya bantu saja kenalkan sengan relasi yang pernah berhubungan dengan saya. Tapi, setelah dibantu malah saya ikut digigit. Padahal saya tidak mendapatkan keuntungan apapun,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Divisi Permasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusi (Kanwil Kemenkumham) Sumbar Sunar Agus, membanarkan adanya satu orang sipir berstatus PNS dan dua narapidana yang terlibat penyalahgunaan narkotika yang ditangkap oleh BNNP Sumbar.

“Ya, waktu itu Kabid Pemberantasan BNNP Sumbar ke Lapas Biaro bersama saya,” kata Sunar Agus,

Sunar Agus menegaskan atas kasus yang menjerat sipir itu, saat ini statusnya sudah diberhentikan sementara. Selain itu, pihaknya sangat mendukung penegakan hukum terhadap pemberantasan narkoba, dan ia pun berharap proses hukum yang melibatkan seorang pegawai lapas tetap dilanjutkan sampai tuntas.

“Jangka waktunya sampai putusan hakim. Harapan saya lanjut. Tapi kan tergantung yang menangani kasus itu. Bagi saya pegawai yang sudah menyentuh narkoba harus berhenti. Yang dua napi tentu nanti akan kita masukan high risk (risiko tinggi), tidak dapat potongan remisi, dan sebagainya. Hukuman lama tambah dengan hukuman baru,” tegasnya. (rgr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top