Menu

Silek Arts Festival (SAF) 2021, Basilek di Ujuang Karih, Mamancak di Ujuang Padang

  Dibaca : 66 kali
Silek Arts Festival (SAF) 2021, Basilek di Ujuang Karih, Mamancak di Ujuang Padang
Kepala BPNB Sumbar Undri bersama rombongan disambut di lokasi kegiatan SAF 2021.

BALAI Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumbar gelar  Silek Arts Festival (SAF), yang merupakan program unggulan dari Dirjen Kebudayaan, Ke­mendibud, Riset dan Teknologi RI. Program ini amanah dari UU No 5/2017 tentang Pe­majuan Kebudayaan, sekaligus sebagai strategi kebudayaan Indonesia dengan acuan kerja melindungi, memanfaatkan, mengembangkan dan meles­tarikan.

“Tentu acuanya diha­rap­kan bisa mempertahankan silek sebagai warisan budaya dunia versi UNESCO. Hasilnya juga diharapkan dapat dirasakan masyarakat, seperti penguatan identitas lokal, industri kreatif, objek pariwisata dan ekonomi lokal. Kegiatan ini dibungkus dengan SAF-Indonesiana termasuk salah satu bagian yang mengacu kepada tujuan-tujuan itu,” ujar Kepala BPNB Sumbar Undri SS MSi di­dampingi Ketua Panitia Kadril Rj Darek SH,  Kamis (9/9).

Atraksi dua pesilat muda di ajang SAF 2021.

Namun, sayangnya pan­demi Covid-19 telah membatasi ruang gerak pihak yang terlibat, sebagaimana salah satu rang­kaian perhelatan SAF di Sum­bar yang dihelat di Kabupaten Agam, kampung kelahiran Buya Hamka, 24-25 Agustus 2021. Malewa silek sebagai alek nagari dalam program SAF-Indonesiana, tapi tetap semarak. Walau ancaman virus Covid-19 dan Prokes kese­hatan yang harus dipatuhi. Sehingga keadaan ini menjadi dilema bagi pihak yang terlibat.  Alek tradisi ini dihelat di  Jorong Paninjauan, Nagari Panin­jauan, Tanjung Raya  Agam, dengan mengangkat tema pancak silek “Basilek di ujuang karih, mamancak di ujuang padang”.

Peserta yang dipilih nagari yang memiliki sasaran silek yang aktif. Masing-masing menampilkan atraksi silek cirri khasnya dengan peserya yang disebut pandeka (pendekar-red) dengan berpasang-pa­sangan. Atraksi ditampilkan satu hingga dua pasangan. Salah satunya sepasang pandeka perempuan. Duel dilakukan antar pasangan anak sasian sasaran silek dan antar pasa­ngan guru tuo (guru para pandeka). Mereka mengatrak­sikan teknik, silek tangan ko­song, senjata kurambiak  (pisau tajam melengkung). Dan pa­dang, konon jurus yang dike­luarkan menentukan perbe­daan antara sasaran silek (murid) dengan guru tuo (guru pandeka). Guru tuo biasanya memperlihatkan kepandaian sileknya di depan umum hanya sebatas seni.

Silat yang sebenarnya beserta jurus-jurus mematikan hanya dipakai ketika sedang menghadapi musuh, seperti ketika mamaga nagari, karena pandeka berperan sebagai parik paga dalam nagari.  Ekosistem kebudayaan seg­men SAF khusus di Sumbar 2021 ini diamanatkan kepada Disbud Sumbar beserta empat kurator dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNP dan ISI Padangpanjang didukung BP­NB Sumbar, Pemda kabupaten dan kota  serta wali nagari hingga jorong.

Sedangkan, SAF ini ber­lang­sung di 6 kabupaten dan kota di Sumbar, 21 hingga 31 Agustus 2021. Pembukaan dilaksanakan di Kota Solok terus ke Sijunjung, Agam, Kota Pa­dang, Kota Payakumbuh dan ditutup di Pasbar. Khusus di Agam dilaksanakan Jorong Paninjauan, Nagari Panin­jauan, Kecamatan Tanjung Raya terpilih sebagai tuan rumah SAF 2021 ini.

Rangkaian kegiatan yang digawangi perangkat Wali Na­gari Paninjauan di Sungai Batang kampung kelahiran Buya Hamka  bertemakan SAF,  “Alek Silek Nagari Paninjauan” deng­an tajuk “Basilek di Ujuang Karih, Mamancak di Ujuang Padang”.

Walau SAF dilewakan di Paninjauan, namun dime­riah­kan sejumlah sasaran dari Kota Solok dan Kota Padang. Se­lebihnya digelar sejumlah sasaran silek dan tim kesenian yang ada di Tanjung Raya. Total 15 sasaran tampil dari Tanjung Raya dengan durasi penampilan 10 -15 menit. Masing-masing tim menam­pilkan 1-2 pasang pesilat.

Uniknya dua pesilat dari salah satu tim itu beranggotakan perempuan, yaitu dari sasaran silek Nagari Koto Gadang, Tanjung Raya. Beberapa sasa­ran menampilkan teknik ung­gulan masing-masing dan meng­gunakan senjata. Selebihnya menampilkan teknik-teknik da­sar silek dari aliran silek ma­sing-masing sasaran.  “Pe­nutupan dilakukan ketua SAF/Kurator, kegiatan ini berhasil diselenggarakan, walau orang tua-tua Nagari Paninjauan ini kecewa, karena kita harus menjalankan protokol kese­hatan,” ujar Undri.

Kadisdikbud Agam Isra mengapresiasi dan mengaku bangga kepada peserta yang berpartisipasi dalam rangkaian SAF ini. “Melihat geliat silek tradisi Minangkabau sebagai salah satu jati diri, maka ke­banggaan dan seni bela diri merupakan sebuah upaya masyarakat dalam membang­kitkan budaya lokal,” ujar Isra.

Hal ini karena penge­ta­huan dan ekosistem silek bagian dari akar kebudayaan di Mi­nangabau, jadi sangat penting dibangkitkan kembali di tengah masyarakat salah satunya melalui Silek Arts Festival. “SAF merupakan platform Indonesia yang dilaksanakan BPNB didu­kung Kemendikbud Ristek, dengan konsep gotong ro­yong,” jelas Isra. (**)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional