Menu

Sidang Miras Oplosan, JPU Hadirkan Dua Saksi, Hakim: Setahun Diamati, Kenapa Baru Ditangkap?

  Dibaca : 175 kali
Sidang Miras Oplosan, JPU Hadirkan Dua Saksi, Hakim: Setahun Diamati, Kenapa Baru Ditangkap?
Ilustrasi

PADANG, METRO – Sidang lanjutan dugaan menjual minuman keras (miras) oplosan, yang menjerat terdakwa Tjendrawati Sio (51) yang akrab disapa Cece Damarus, kembali digelar di Pengadilan Negeri Padang Kelas 1 A, Rabu (16/10).

Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumatera Barat, Dewi Permata Asri menghadirkan dua orang saksi dari Subdit I Indagsi Ditreskrimsus Polda Sumbar yang terlibat penggerebekan di Toko minuman 4F Damarus di Jalan Niaga, No. 183 milik terdakwa.

Saksi Angga dan saksi Rudi Prasetyo dari Subdit I Indagsi Ditreskrimsus mengatakan, terdakwa ditangkap berdasarkan laporan masyarakat, Bahwa ditoko 4F Damarus dijual minol beralkhol yang dicampur dengan berbagai minuman sofdrink lainnya, minuman tersebut dijual kepada pembeli dengan sebutan paket, ada paket 36,56,58ribu,

“Setelah mendapat dari laporan. Kami melakukan pengamatan kemudian penyitaan. Sudah setahun kami amati, “ katanya dalam keterangan saksi kepada Majelis Hakim yang diketuai diketaui oleh Suratni beranggotakan Ade Zuliana Sari dan Sihol Boang Manalu.

Dalam persidangan Ketua Majelis Hakim bertanya kepada kedua saksi dari Polda tersebut. ”Sudah setahun diamati kenapa baru sekarang ditangkap? Apakah minuman tersebut tidak ada izin edarnya? SIUP dan perizinannya? Apakah ada jatuh korban jiwa akibat minuman ini?” tanya Majelis seraya memerintahkan JPU untuk menghadirkan barang bukti yang lainnya, karena dinilai majelis masih sedikit.

Tjendrawati Sio yang didampingi oleh kuasa hukumnya Rennal Arifin Cs membantah segala keterangan saksi, menurut Cece Damarus tokonya memiliki izin, “ Baik SIUP maupun minuman lainnya kami memiliki izin edar. Saya juga juga membantah yang mulia majelis bahwa saya yang menamai paket- paket minuman yang beredar itu, semua minuman yang dijual asli tidak ada oplosan,”katanya.

Sidang yang digelar diruangan Tirta PN Padang dilanjutkan Senin (21/10) depan dalam agenda saksi.

Berdasarkan informasi beberapa jenis minuman beralkohol yang dia jual itu dicampur dengan jenis minuman yang lainnya. Misalnya alkohol jenis colombus dicampur dengan bir golongan A, golongan C, termasuk ada jenis jus buavita, kemudian dicampur lagi dengan minuman suplemen M-150.

Sebelumnya, toko minuman 4F Damarus di Jalan Niaga, No. 183, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat, digrebek oleh Tim Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Sumbar diduga menjual minuman beralkohol atau minuman keras oplosan tanpa izin edar, Selasa (21/5) lalu. Disinyalir, kegiatan pengoplosan minuman beralkohol itu dilakukan sejak lama.

Saat penggerebekan, polisi menyita berbagai merek minuman beralkohol sebanyak 130 botol yang tidak ada izin untuk dijual (ilegal), 70 botol minuman berlalkohol yang kosong, satu bungkus minuman oplosan beralkohol, 4 pak plastik bening cap singa lait, 4 pak plastik hitam, dan 5 pak sedotan merek plastisindo.

Dari hasil pemeriksaan, terungkap modus operandi yang dijalankan pelaku untuk mengoplos minuman keras dengan cara membuka kemasan akhir minuman beralkohol, kemudian mencampurkan dengan minuman jenis lain tanpa takaran yang jelas dan tanpa ada keahlian.

Setelah itu, minuman yang telah dicampur-campur berbagai merek itu kemudian dikemas ulang menggunakan plastik bening untuk diperdagangkan kembali. Penjualan miras yang sudah dicampur-campur seperti itu biasa dikenal dengan sebutan miras paket yang dijual dengan harga yang beragam, mulai dari puluhan ribu rupiah. Dijerat Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen pasal 139 atau 142 Nomor 8 Tahun 1999, dan Undang-undang Pangan 18 tahun 2012. (cr1/mg)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional