Menu

Si Bisu Penggal Kepala Selingkuhan Pacar

  Dibaca : 1604 kali
Si Bisu Penggal Kepala Selingkuhan Pacar
FOTO BERSAMA— Usai meresmikan Patung Rabab, Bupati Hendrajoni foto bersama.
Jpeg

Terdakwa pembunuhan sadis, Nestorius Saleleubaja (duduk), berbicara dengan penerjemah khusus yang berasal dari Yayasan Autisma Indonesia dalam persidangan Selasa (06/10/2015) di Pengadilan Negeri Padang.

PADANG, METRO–Tidak ada yang menduga, rencana Marsius Salamanang (61), melamar Ariati Sabelau, perempuan dambaannya akan berujung maut. Rupanya, Nestorius Saleleubaja (35), yang juga menjalin cinta dengan Ariati mengamuk, mengetahui rencana lamaran. Lelaki bisu itu beraksi brutal. Marsius dibunuh. Kepalanya dipenggal. Rasa cemburu benar-benar membutakan hati dan mematikan rasa hormatnya pada orang yang lebih tua.

Pembunuhan sadis ini sontak menggemparkan warga Dusun Bubugra, Desa Matiobe, Kecamatan Sikakap, Kepulauan Mentawai. Warga merinding menyaksikan kondisi Marsius yang penuh luka robek. Kepalanya nyaris lepas dari badan. Terkulai. Hanya sedikit daging dan kulit leher sebagai penahan. Kalau tak, sudah berpisah kepala dari badannya.

Amukan Si Bisu juga membuat empat jari tangan kiri Marsius putus. Punggungnya luka memanjang. Sebagian kulit kepala juga menggelupas akibat sabetan parang yang sebelum digunakan, diasah dulu hingga berkilat oleh Si Bisu. ”Ngeri lukanya. Kepalanya nyaris putus,” ungkap JPU Limra Maesdi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Tuapejat, yang bertugas melakukan penuntutan terhadap Si Bisu.

Memang, Selasa (5/10) sore, Si Bisu dihadapkan ke meja hakim Pengadilan Negeri Padang. Dia menjalani sidang perdana atas tuduhan pembunuhan terhadap Marsius, 18 Juli lalu di Dusun Bubugra, tempat dia lahir, dan besar. Si Bisu, dalam persidangan didampingi kuasa hukumnya Raimason Syarif.

Selain pengacara, JPU juga menghadirkan penerjemah khusus yang berasal dari Yayasan Autisma Indonesia yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sumbar untuk Si Bisu. Sebab, jika tidak pakai penerjemah, majelis hakim, jaksa dan pengacara sekaligus panitera tidak akan paham bahasa isyarat yang jadi satu-satunya cara berkomunikasi Si Bisu. Maklum, dia tak pandai tulis baca karena memang tidak pernah duduk di bangku sekolah.

Dalam persidangan yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Irwan Munir, beranggotakan Hakim Mahyuddin dan Herlina, kronologis pembunuhan sadis terkuak secara gamblang. Ketika ditanya hakim soal proses pembunuhan, Si Bisu beberapa kali meletakkan tangan di lehernya sebagai isyarat kalau dia menebas kepala Marsius. Dia juga memberagakan cara menebas punggung, kepala dan jari korban. “Katanya, korban ditebas pakai golok di leher, kepala, punggung dan tangan. Empat jari korban putus,” kata penerjemah pada majelis hakim.

Pembunuhan sadis itu bermula pada 18 Juli lalu. Si Bisu yang sedang duduk-duduk di warung, diberitahu oleh temannya kalau Ariati, wanita yang sudah dipacarinya sejak tahun 2014, juga menjalin hubungan dengan Marsius. Tak sedakar berhubungan khusus, Marsius yang sudah berusia lanjut, bahkan dikabarkan berencana untuk melamar Ariati dalam waktu dekat. “Lebih baik kamu potong duluan, dari pada yang mendapatkan Ariati dia (korban-red),” ucap beberapa orang pada Si Bisu.

Entah karena salah tafsir atau benar-benar sakit hati. Kata-kata “potong”, yang dikatakan teman-temannya diartikan Si Bisu, kalau dia harus memotong Marsius. Membunuhnya, hingga tidak ada lagi yang mengganggu hubungannya dengan Ariati. Padahal, kata “potong”, yang disebutkan itu untuk mengistilahkan kalau Si Bisu harus lebih dahulu melamar Ariati dibandingkan Marsius. Dari sana, Si Bisu mulai merencanakan pembunuhan.

Si Bisu lalu pulang. Sampai di rumah, diambilnya golok. Lalu di asah setajam-tajamnya. Sesudah senjata disiapkan, sekitar pukul 18.00 WIB, Si Bisu mulai mencari korbannya. Dia tahu kalau di jam-jam itu, Marsius akan kembali dari laut, sehabis memancing. Dengan mengendap-endap di semak-semak, Si Bisu mulai ambil ancang-ancang. Ketika melihat perahu yang digunakan Marsius merapat ke pantai, dari semak, dia meloncat.

Tanpa banyak tanya, golok diayunkannya sekuat tenaga. Tahu diserang, Marsius langsung menangkis dengan dayung yang dibawanya. Tapi, tangkisannya tak tepat. Golok malah mendarat di jarinya yang sedang menggenggam dayung. “Empat jari tangan kiri korban putus. Berjatuhan ke tanah. Dia menjerit-jerit karena sakit,” ungkap JPU Limra Maesdi.

Melihat pelaku sudah mau menyerang lagi, Marsius duluan memukul korban, lalu mencoba kabur. Akan tetapi, Si Bisu benar-benar sudah gelap mata. Marsius yang lari dikejar. Setelah dekat, parang diayungkan dan menebas kepalanya hinga luka sepanjang 10 centimeter. Marsius kembali berteriak-teriak kesakitan saat golok kembali melayang dan merobek punggungnya. Seketika, Marsius tumbang. Dia tidak mampu lagi lari.

Setelah korban tersungkur di tanah, pelaku bukannya iba. Malahan, dia beringas Kepala Marsius dipegang. Sekonyong, golok berkilat, yang sudah berlumur darah ditebaskan ke leher, sreeetttt… Darah segar menyembur dari luka menganga yang ada di leher Marsius. Nyaris putus lehernya. Hanya sedikit kulit sebagai penyanggah. Sementara, darah yang menyembur, membasahi dadanya.

“Setelah melihat korban tak bergerak, terdakwa lalu pergi. Meninggalkan mayat begitu saja di pinggir jalan ke pantai. Dia pulang ke rumah orangtuanya dan membersihkan tubuhnya yang berlumur darah. Golok yang digunakan untuk membunuh Marsius juga disembunyikan. Selanjutnya, Si Bisu keluar rumah dan berlagak seakan tak terjadi apa-apa,” tutur Liamra.

Pukul 06.30 WIB keesokan harinya, seorang warga bernama Suparman berencana pergi ke pantai. Saat berjalan, dia terperanjat menyaksikan jasad Marsius yang penuh luka, dengan darah yang mengering di sekelilingnya. Niat ke pantai langsung diurungkan. Suparman berlarian ke pemukiman dan memberitahukan warga lainnya. Seketika, warga Dusun Bubugra gempar.

Kepala Dusun setempat, Berlian Sakiukoi juga datang ke lokasi dan menyaksikan tubuh tak bernyawa Marsius. Jasad itu lalu dievakuasi ke pemukiman. Polisi yang dapat informasi juga turun ke lokasi dan membawa jasad Marsius ke Puskesmas Sikakap untuk divisum. Sepanjang jalan, warga bertanya-tanya, siapa yang tega menghabisi lelaki tua itu.

Dari desas-desus, semakin menguat kalau pelakunya adalah Si Bisu. Pukul 01.30 WIB, bersama warga lainnya, Si Bisu dijemput Kepala Dusun ke rumahnya. Tanpa perlawanan, Si Bisu manut, untuk kemudian dibawa ke Polsek Sikakap. “Kepada polisi, terdakwa mengakui segala perbuatannya. Dia langsung ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan,” ungkap JPU Liamra.

Setelah proses di kepolisian selesai, berkas sekaligus Si Bisu sebagai tersangka langsung diserahkan penyidik ke jaksa. Oleh jaksa, kasusnya dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Padang, untuk kemudian disidangkan. Dalam dakwaannya, JPU menjerat Si Bisu dengan Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan dan Pasal 345 tentang Penganiayaan, dengan ancaman hukuman berkisar 15 tahun penjara.

Usai sidang, Si Bisu yang menggunakan rompi tahanan warna orange, dengan kaki dialasi sandal jepit langsung keluar sidang. Tubuh kurusnya diapit dua jaksa yang mengantarkannya ke ruang tahanan sementara Pengadilan Negeri Padang. (ben)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional