Menu

Sepak Bola Gajah di Piala Tiger 1998 Tak Pernah Terurai

  Dibaca : 766 kali
Sepak Bola Gajah di Piala Tiger 1998 Tak Pernah Terurai
DUEL— Pemian Timnas Indonesia Bejo Sugiantoro saat berduel dengan salah satu pemain Thailand di Piala Tiger 1998.

JAKARTA, METRO
Piala Tiger (AFF) 1998 bakal dikenang sebagai memori buruk bagi sepak bola nasional di dunia internasional. Timnas Indonesia tersandung kasus sepak bola gajah yang memalukan.

Sikap tidak sportif yang diperlihatkan Tim Garuda di ajang tersebut tidak hanya menyentak publik Tanah Air karena kejadian ini juga jadi perhatian di pentas internasional.

Kejadian bermula ketika Timnas Indonesia tergabung di Grup A bersama Thailand, Myanmar, dan Filipina. Ketika itu Thailand dan Indonesia mendominasi penyisihan grup.

Indonesia mengawali pertandingan pertama Grup A dengan baik. Filipina ditundukkan 3-0. Di laga kedua, giliran Myanmar yang dihajar 6-2 oleh Bima Sakti dkk. Sementara Thailand, imbang 1-1 dengan Myanmar dan menang 3-1 atas Filipina.

Tim Merah-Putih yang kala itu dilatih Rusdy Bahalwan (almarhum) dan Thailand memastikan diri tampil di semifinal. Penentuan juara dan runner-up grup ditentukan pada duel terakhir (laga ketiga), yang mempertemukan keduanya.

Di luar dugaan, pertandingan yang diprediksi berjalan panas karena dua tim terbaik di Grup A berhadapan, justru memunculkan keanehan sejak awal pertandingan. Kedua tim bermain dalam tempo lambat dan tampak tidak bergairah untuk memenangi pertandingan.

Situasi membaik kala Miro Baldo Bento menjebol gawang Thailand pada menit ke-53. Kemudian susul-menyusul skor terjadi. Thailand lantas menjebol gawang Indonesia yang dikawal Kurnia Sandy. Timnas Indonesia balas memimpin 2-1 lewat gol Aji Santoso menit ke-84 dan segera disamakan Thailand dua menit kemudian.

Di pengujung waktu normal, kejadian menyesakkan ini terjadi. Adalah Mursyid Effendi yang jadi pelaku gol bunuh diri pada menit ke-90 yang membuat Indonesia kalah 2-3.

Gol bunuh diri itu tidak hanya mengagetkan penonton di Stadion Thong Nat, Ho Chi Minh, Vietnam, namun juga suporter setia Indonesia yang berada di Tanah Air menyaksikan siaran langsung lewat layar kaca. Nyaris tidak ada yang percaya gol bunuh diri itu terjadi, membuat Indonesia kalah dan jadi runner-up.

Unsur kesengajaan dalam proses gol bunuh diri itu sangat jelas terlihat. Melalui layar kaca, penggemar sepak bola di Tanah Air tersentak karena seusai membobol gawang sendiri, Mursyid disambut beberapa rekan setim justru melakukan selebrasi.

Motif menghindari Vietnam di semifinal diduga kuat sebagai alasan Timnas Indonesia dan Thailand enggan menang di partai terakhir penyisihan Grup A hingga akhirnya memilih memainkan sepak bola gajah.

Saat itu Vietnam dianggap menakutkan untuk dihadapi karena permainan yang diperlihatkan selama penyisihan grup. Namun demikian, justru Singapura yang keluar sebagai juara Grup B.

Apesnya, rencana menghindari Vietnam di semifinal tetap tidak mampu membawa Indonesia ke final karena di semifinal, Yusuf Ekodono cs. dikalahkan Singapura 1-2 pada 3 September 1998. Sama seperti Indonesia, Thailand juga menyerah dengan skor 0-3 dari Vietnam.

Singapura akhirnya memenangi gelar juara Piala AFF 1998, gelar pertama mereka, setelah menundukkan tuan rumah Vietnam 1-0. Sedangkan Indonesia, mengakhiri Piala AFF 1998 dengan berada di peringkat ketiga setelah mengalahkan Thailand lewat adu penalti (5-4) setelah di waktu normal bermain sama kuat, 3-3.

Setelah Piala Tiger berakhir, masalah tak lantas berhenti. Publik di Tanah Air sangat geram dengan aksi tidak sportif yang diperlihatkan tim kesayangan. Ketidakpuasan, sindiran, hingga caci-maki tidak hanya dilayangkan pada para pemain tetap juga ditujukan ke PSSI, yang dinilai ikut bertanggung jawab atas kejadian memalukan itu.

Apalagi, tidak lama setelah insiden gol bunuh diri tersebut, Ketua Umum PSSI saat itu, Azwar Anas, sempat berujar bila aksi Timnas Indonesia itu tidak akan berbuah sanksi.

Tentu saja penilaian itu keliru karena PSSI akhirnya dikenai sanksi denda 40 ribu dolar AS oleh FIFA serta Mursyid Effendi dikenai sanksi larangan beraktivitas di sepak bola internasional seumur hidup.

Media massa di dalam dan luar negeri juga riuh memberitakan sepak bola gajah ini. Azwar lantas mengundurkan diri dari jabatannya.

Mursyid Effendi yang menanggung cacian seumur hidup atas gol bunuh diri yang dibuatnya. Ia sempat buka suara mengenai alasannya mencetak gol ke gawang sendiri.

Hal itu ia lakukan karena merasa jengkel Thailand bermain asal-asalan. Mereka tak berniat memenangi laga. Hal ini memicu emosinya.

Mursyid menyayangkan dirinya tak mendapat dukungan dari petinggi timnas dan juga pengurus teras PSSI. Saat itu, pengusaha gila bola, Nirwan Dermawan Bakrie jadi manajer timnas.

Mereka yang berjanji melindungi Mursyid bahkan sama sekali tak melakukan banding ke FIFA. Alhasil, Mursyid dihukum tak boleh bertanding di pentas internasional, baik di level klub mau pun timnas.

Mantan bek Persebaya Surabaya itu hanya bisa melihat rekan-rekannya berlaga di Liga Champions Asia musim 2005, usai jadi jawara Liga Indonesia 2004, karena statusnya terhukum di ajang internasional.

Sebulan semua orang yang katanya bakal ada di “belakang” Mursyif Effendie malah menghindar.

Yang masih tak jelas duduk perkaranya hingga kini adalah apakah Timnas Indonesia diminta mengalah, atau ini murni hanya inisiatif para pemain yang tampil di lapangan.
Ruddy Bahalwan, pelatih Timnas Indonesia, hingga menghembuskan nafas terakhir pada 2011 silam tak pernah buka suara soal siapa dalang sepak bola gajah di Piala Tiger 1998.

Banyak rumor beredar, hasil tersebut berdasarkan permintaan dari para petinggi sepak bola nasional. Namun hingga akhir hayatnya, Rusdy tetap enggan membeberkan. Bahkan kepada sahabatnya sekaligus rekannya di Persebaya, Soebodro.

“Saya sempat tanya ke Pak Rusdy mengenai kejadian itu,” kata Soebodro. Namun Rusdy menolak menjawabnya. “Sulit Bod aku jawabnya,” kata Bodro menirukan ucapan Rusdy waktu itu.

“Dia tampaknya tahu saya akan bertanya begitu. Soalnya dia tahu kalau ada yang kurang benar, saya pasti protes,” lanjut Bodem, sapaannya. Namun meski didesak, lelaki kelahiran 7 Juni 1947 itu tak mau mengungkapkannya. “Sebenarnya sayang. Dia baru mengawali karier di Timnas dan harus mengalami kejadian itu,” jelas Bodro.

Karier Rusdy semenjak hal insiden Piala AFF 1998 tak pernah lagi bersinar. Yang bersangkutan memilih menepi dari keriuhan kasta elite dan juga timnas. Hal yang amat disayangkan, karena almarhum Rusdy salah satu pelatih terbaik yang dimiliki Indonesia.

Di luar aksi aib sepak bola gajah, permainan Timnas Indonesia di Piala Tiger 1998 sebenarnya cukup menjanjikan. Itulah mengapa hingga kini banyak yang menyayangkan ketidakpercayaan diri Tim Merah-Putih, hingga terpaksa menempuh jalan pintas demi menghindari Vietnam.

Dari 20 pemain yang dibawa Rusdy Bahalwan, didominasi pemain Persebaya sehingga kala itu sempat ada ungkapan “timnas rasa Persebaya”. Pemilihan pemain yang dibawa ke Vietnam itu juga memunculkan kontroversi tersendiri karena almarhum Rusdy dinilai tidak objektif.

Selain sang pelatih, Rusdy Bahalwan, ada sembilan pemain tim Bajul Ijo di Skuat Garuda. Mereka adalah Hendro Kartiko, Bejo Sugiantoro, Yusuf Ekodono, Khairil Anwar, Uston Nawawi, Anang Ma’ruf, Hartono, Aji Santoso, dan Mursyid Effendi.

Dari catatan yang ada, status pemain tertua di Timnas Indonesia pada Piala AFFF 1998 dipegang Yusuf Ekodono dengan usia 31 tahun sedangkan pemain t ermuda dipegang Uston Nawawi (20 tahun).

Dari empat pertandingan yang dijalani Timnas Indonesia, dua pemain, yakni Miro Baldo Bento dan Aji Santoso, menyumbang masing-masing tiga gol. Hanya berselisih satu gol dari top scorer turnamen asal Myanmar, Myo Hlaing Win.

Di sisi lain, pada penyelenggaraan Piala AFF 1998 ini sebenarnya Indonesia (Jakarta) didapuk sebagai tuan rumah. Namun, karena situasi yang belum kondusif pasca lengsernya Presiden Soeharto, AFF memindahkan lokasi turnamen ke Ho Chi Minh (Grup A) dan Hanoi (Grup B). (*/boy)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional