Menu

Sengketa Tanah Ulayat Berujung Pembakaran Motor, Enam Warga Malalo Dihukum 10 dan 11 Bulan Penjara

  Dibaca : 141 kali
Sengketa Tanah Ulayat Berujung Pembakaran Motor, Enam Warga Malalo Dihukum 10 dan 11 Bulan Penjara
PEMBAKARAN MOTOR— 11 sepeda motor warga Sumpur dibakar oleh warga Malalo yang merupakan buntut dari sengketa tanah ulayat.

PADANGPANJANG, METRO–Majelis Hakim Pengadilan Negeri Padang Panjang menjatuhkan vonis terhadap enam orang terdakwa kasus pembakaran kendaraan bermotor  (ranmor) di Sumpur, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanahdatar, dengan huku­man kurungan penjara yang berbeda. 

Empat terdakswa Hen­dra Fahmi, Suryanto, Su­trisno Prakas Anugrah dan Maifirnanda yang di sidang dalam berkas terpisah, dihukum 11 bulan penjara. Sedangkan Mustafa Kamal dan Yulian Doni Amalo divonis 10 bulan penjara. Hukuman ini lebih ringan dari tuntutan jaksa se­be­lum­nya yang menuntut me­reka semuanya 1 tahun penjara.

“Menghukum Hendra Fahmi, Suryanto dan Su­trisno Prakas Anugrah  serta Maifirnanda 11 bulan penjara. Sedangkan Mus­tafa Kamal dan Yulian Doni Amalo dihukum 10 bulan penjara dipotong masa tahanan yang dija­lani,”kata Hakim Ketua, Lili Eve­­lin dengan hakim ang­gota Prama Widianugraha dan Fadilla Kurnia Putri pada sidang Kamis (29/7).

Menurut hakim, para terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan ber­sa­lah melakukan tindak pi­dana dengan terang-tera­ngan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap ba­rang sebagaimana diatur dalam Pasal 170 ayat (1) KUHP.

“Keterangan saksi-sak­si yang meringankan ter­dakwa sebanyak 12 orang tidak dapat menganulir keterangan saksi-saksi yang menyatakan melihat perbuatan para terdakwa melakukan pembakaran dan perusakan sepeda mo­­tor warga Sumpur,” ka­ta hakim dalam salah satu pertimbangannya.

Selain itu juga ter­ung­kap di persidangan, ter­dakwa Hendra Fahmi, Sur­yanto, Sutrisno Prakas Anu­grah, Mustafa Kamal, Yulian Doni Amalo serta Maifirnanda  dan warga Malalo lainnya, secara spontan dan tanpa peren­canaan beraksi. Mereka melakukan pengrusakan disertai pembakaran ter­hadap 11 unit sepeda motor karena tidak terima pemagaran dan pe­ma­sa­ngan plang proyek ka­wa­san wisata Siti Nur­jannah yang disebut sebagai tanah ula­yat Malalo.

Peristiwa pembakaran itu terjadi pada 12 Oktober 2020 dan para pelaku di­tangkap 26 Desember 2020. Usai mendengarkan pu­tusan hakim, para terdak­wa menyatakan menerima hukuman yang dijatuhkan padanya walaupun pe­na­sehat hukum yang men­dampinginya menya­ta­kan pikir-pikir atas pu­tusan hakim tersebut.

Pelaksana harian Kasi Tindak Pidana Umum Ke­jari Padangpanjang, Rah­mat Nurhidayat, ketika di­kon­firmasi Posmetro,  Ming­­gu (1/8) juga menya­takan pikir-pikir atas pu­tusan hakim tersebut. Dari persidangan yang ber­lang­sung 21 kali itu, pe­nasehat hukum terdakwa meng­hadirkan 12 saksi yang meringankan tetapi me­reka termasuk saksi alibi yang tidak dapat meng­hilangkan pidana.

“Kita sudah sampaikan dalam tuntutan tentang saksi-saksi meringankan yang mereka hadirkan ha­nyalah saksi alibi,­”tegas­nya. 

Salah seorang korban warga Sumpur yang motor­nya terbakar, Andika yang sekaligus sebagai pelapor menerima putusan ha­kim.­Ia berharap, aparat pe­­ne­gak hukum dapat me­nin­daklanjuti laporan korban lainnya yang menderita kerugian akibat pencurian dan pengrusakan saat pem­bakaran itu ber­lang­sung.

“Saya puas dengan hu­ku­man yang dijatuhkan ha­kim. Tapi masih ada lapo­ran warga lainnya yang belum tuntas proses hu­kum­nya dan saya berharap penegak hu­kum segera menindak­lanju­tinya,” te­gas­nya.

Hal senada disam­pai­kan Tim Tanah Ulayat Na­gari Sumpur, H Yohanes  yang mengatakan, berda­sar­kan rangkaian fakta-fak­ta yang terungkap di per­sidangan hingga putu­san hakim, terbukti adanya tindak pidana perusakan dengan membakar 11 se­peda motor warga Sumpur sesuai pasal 170 KUH­Pi­dana yang dilakukan para terdakwa warga Malalo.

Sebelumnya, polisi da­lam keterangannya di media menegaskan, akan men­cari dalang atau pro­vo­kator dari tindakan peru­sakan dengan membakar sepeda motor yang me­nye­­babkan kerugian dan ke­resahan di tengah ma­syarakat Sumpur.

Oleh karena itu, H Yoha­nes yang biasa disapa H. Yos sangat berharap polisi dapat mengungkap dalang peris­tiwa tersebut serta menin­daklanjuti laporan lainnya terkait pencurian dan peru­sakan saat pem­bakaran sepeda motor war­ga terjadi.

“Kami berharap polisi segera mengungkap aktor intelektual dibalik peristiwa tersebut. Sebab yang saat ini menjalani hukuman ada­­lah pelaku di lapa­ngan,­”katanya.

Ditambahkannya, jika ada masalah sertifikat ke­pe­milikan lahan di Jorong Sudut Nagari Sumpur yang diklaim oleh warga Malalo sebagai miliknya, tentunya dapat diselesaikan secara perdata di pengadilan dan tidak melakukan tindakan anarkis karena bisa beru­jung pidana, seperti yang terjadi saat ini. 

Sepekan sebelumnya, lanjut H Yos, Pengadilan Negeri Padangpanjang ju­ga telah memutus perkara perdata terkait klaim war­ga Malalo terhadap tanah war­ga Sumpur yang telah ber­sertifikat di Jorong Su­dut Nagari Sumpur, dinya­takan tidak dapat diterima (niet ontvankelijke ber­klaard) karena cacat formil. (rmd) 

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional