Menu

Sempat Surut di Awal Pandemi Covid-19, Omzet UMKM Kerajinan Sulaman Mulai Membaik

  Dibaca : 149 kali
Sempat Surut di Awal Pandemi Covid-19, Omzet UMKM Kerajinan Sulaman Mulai Membaik
PELAKU UMKM— Salah seorang pelaku UMKM kerajinan sulaman tangan asal Kapalo Koto Jorong Balai Gurah, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Yulia Fatma.

AGAM, METRO
Salah seorang pelaku UMKM kerajinan sulaman tangan asal Kapalo Koto Jorong Balai Gurah Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Yulia Fatma mengatakan, bahwa omzet hasil penjualan kerajinan sulamannya mulai membaik sejak Agustus 2020.

“Alhamdulillah, omzet hasil penjualan sudah berangsur-angsur membaik sekitar Rp5 jutaan-lah sebulan sejak belakangan ini,” ujar Yulia Fatma, Minggu (8/11)

Yulia menuturkan, sebelum corona penjualannya mencapai sekitar Rp20 juta per bulan. Penurunan omzet mulai dirasakannya sejak awal-awal kemunculan wabah Covid-19 atau bulan Maret-April dan sempat nihil penjualan selama tiga bulan (Mei sampai Juli).

“Bulan Mei, Juni dan Juli sempat tidak ada orang yang membeli. Tapi, saat itu kita selingi juga membuat masker kain. Penjualannya lumayan tapi kurang mencukupi,” jelas Yulia dengan tidak menyebutkan angka omzetnya.

Kondisi saat ini, terang Fatma, secara perlahan penjualan sudah mulai banyak pemesan, meski belum seperti sebelum pandemi. “Sudah mulai banyak yang datang, meski belum seperti sebelum pandemi. Tapi mendinganlah daripada nggak ada pembeli sama sekali,” ujar Yulia.

Selama masa pandemi Covid-19, ibu tiga anak itu menceritakan pengalamannya saat mencoba menjual usaha kerajinan sulamannya melalui daring atau online. Ia sudah mencoba menjajakan melalui aplikasi WA, instagram dan facebook. Namun, tidak ada satu orang-pun yang memesan hasil kerajinanya.

Setelah diamatinya, bahwa konsumen kurang tertarik atau kurang percaya dengan produk seperti sulaman tangan dijual secara online atau melalui tampilan foto yang dikirim. “Mereka kurang puas dengan hasil gambar yang dikirim. Karena, seperti baju atau selendang sulaman kepuasan kita itu memang harus dilihat langsung,” ujar salah seorang anggota Rumah Sulam Kabupaten Agam itu.

Pasalnya, jika melihat langsung, jelas Fatma, konsumen dapat merasakan bahan dan kondisi rill dari jahitan yang dibikinnya. “Yang diragukan konsumen, mana tahu jahitannya ada yang cacat,” tutur Fatma.

Sebelum itu, dirinya juga pernah mengikuti pameran secara virtual yang diadakan oleh Bank Indonesia, ISEF (Islam Economic Festival), namun tidak ada perubahan terhadap penjualannya.

Begitu juga, terang Fatma, produknya yang dipajang di Rumah Sulam Kabupaten Agam, Belakang Balok Bukittinggi selama Covid-19 tidak ada penjualan. “Padahal di sana (rumah sulam), bisa dikatakan showroomnya sulaman tangan terbaik di Agam,” jelas Fatma.

Sehingga, pada akhirnya dirinya memutuskan untuk tetap membuka usaha di rumahnya seperti biasa. “Biarlah di rumah saja. Semoga corona ini cepat berlalu dan ekonomi masyarakat segera pulih kembali,” tutur Fatma. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional