Menu

Sekolah Daring, Siswa di Pedalaman Mentawai Kesulitan Akses

  Dibaca : 417 kali
Sekolah Daring, Siswa di Pedalaman Mentawai Kesulitan Akses
KUNKER— Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit bersama rombongan melakukan kunker ke Kabupaten Mentawai untuk melihat pelayanan kesehatan saat New Normal di Puskesmas Muara Siberut.

MENTAWAI, METRO
Wagub Sumbar Nasrul Abit bersama Ketua Komisi V DPRD Sumbar Muchlis Yusuf Abit ke Muara Siberut melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) dalam meninjau persiapan New Normal di Siberut Selatan, Selasa (2/6).Turut hadir Ketua DPRD Mentawai Yosef Sarogdok dan Maru Saerejen, SH serta H. Rasyidin Syaiful SH MH.

Selain itu Nasrul Abit meninjau kesiapan pelayanan kesehatan Normal Baru di Puskesmas Muara Siberut. “Terima kasih atas kunjungan Wagub dan rombongan serta dukungan OPD Pemprov Sumatera Barat khususnya dalam Penanganan Covid-19,” ungkap Kadis Kesehatan Mentawai, Lamuddin.

 Sementara Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit juga mengunjungi beberapa sekolah SMA dan SMK di Siberut dan SMA Sipora Utara, Kabupaten Mentawai, mempersiapkan segala sesuatu pelaksanaan perubahan tatanan kehidupan baru produktifitas aman covid (new normal) yang bakal diterapkan pemerintah pusat disegala sektor, termasuk sektor pendidikan.

 “Dalam pandemi Covid-19 sudah hampir tiga bulan semua siswa belum diizinkan untuk masuk sekolah. Semua siswa dianjurkan untuk belajar melalui sistem daring. Tentunya sangat miris bagi di daerah pedalaman dan kepulauan. Tadi kita sudah rapat dengan para guru dan kepala sekolah disini. Kendalanya memang daerah sini tidak memiliki jaringan internet. Kita harus carikan solusinya segera agar cepat berkembang,” kata Nasrul Abit.

 Nasrul Abit ungkapkan, bahkan, tidak semua guru dan siswa memiliki Ponsel pintar dan tersentuh jaringan internet, khususnya yang berada di desa terpencil kepulauan. Tentunya membuat kegiatan belajar mengajar dari rumah tak bisa dijalankan secara efektif. “Setelah dilakukan evaluasi metode pembelajaran daring di Siberut hanya ada 10 persen, berarti ini belum optimal dan tidak efesien,” ucapnya.

Dikatakan Nasrul Abit, keterbatasan teknologi dan akses internet menjadi masalah utama. Siswa tidak mengetahui tugas yang diberikan para guru. bahwa penyebab tenaga pendidik pindah dari Mentawai dikarenakan sesudah peralihan kewenangan ke Provinsi, mereka tidak lagi mendapatkan tunjangan daerah atau tunjangan lainnya yang dapat memotivasi kinerjanya.

Ia menyebutkan, persoalan tersebut akan dicoba dikonsultasikan dengan Gubernur Sumbar dan Dinas terkait.Selain itu, pihak SMAN2 Sipora juga memohon bantuan agar sekolah tersebut mendapat bantuan renovasi atau rehab sekolah.

Selanjutnya, terkait kedatangan para guru menuju Mentawai, disebutkan terkendala oleh rangkaian aturan yang mengharuskan melampirkan hasil rapid test dengan biaya pribadi. Menanggapi hal tersebut Nasrul Abit mengatakan, akan mencari solusi agar para guru tersebut bisa kembali melaksanakan tugasnya mengabdi sebagai Pahlawan tanpa tanda jasa di Bumi Sikerei.

 “Persoalan yang ada kita akan mencoba cari solusi sesuai  kearifan lokal. Kita juga akan mendorong Dinas di Provinsi Sumbar agar tahun depan programnya membantu Kepulauan Mentawai agar bisa keluar dari status 3T nya,” ujarnya. (s)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional