Menu

Sejak Usia 10 Divonis Kusta, Arifin Hidup Sebatang Kara di Kabupaten Padangpariaman

  Dibaca : 66 kali
Sejak Usia 10 Divonis Kusta, Arifin Hidup Sebatang Kara di Kabupaten Padangpariaman
SEBATANG KARA—Arifin (63) penderita kusta sejak usia 10 tahun. Kini dia sebatang kara hidup di Korong Badinah, Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padangpariaman.

PDG, PARIAMAN, METRO–Sudah selayaknya usia senja merupakan waktu bagi seseorang untuk me­nikmati masa    tuanya bersama keluarga. Namun, tidak dengan bapak Arifin (63) yang mengidap pe­nyakit kusta. Laki-laki yang berusia lanjut ini diketahui tinggal seorang diri tanpa ada keluarga yang mene­mani. Akibat dari penyakit­nya itu menyebabkan kaki dan jari tangannya putus.

Saat  POSMETRO me­ngun­jungi rumahnya di Korong Badinah, Nagari Lareh Nan Panjang Barat, Kecamatan VII Koto Su­ngai Sariak, Kabupaten Padangpariaman. Arifin sedang melakukan aktivi­tas kesehariannya, yaitu memasak nasi, mencuci piring dan membersihkan pekarangan rumah meski­pun anggota tubuhnya ti­dak sempurna seperti la­yak­nya orang yang me­miliki tangan dan kaki.

 Kenyataan dan takdir yang tak terelakkan ia ra­sakan sejak berumur 10 tahun, tepatnya saat duduk dibangku Kelas III Sekolah Dasar. Pasalnya, sudah 31 tahun penyakit ini ditang­gungnya sendirian.

“Saya hidup begini saja. Sebatang kara. Sejak usia 10 tahun saya divonis dok­ter mengidap kusta. Sejak saat itu kerabat, sanak, famili, pergi,” ungkap Ari­fin, Minggu (11/7) digu­buknya sambil mengusap air matanya yang menetes dipipinya itu.

Arifin menghabiskan hari-harinya di rumah se­der­hana berukuran 4×5 meter. Dalam kondisi pe­nuh kekurangan, dimana tampak pakaian dan pera­botan usang terletak sea­danya saja di rumah ter­sebut. Hanya sebuah meja kecil dan satu kursi yang layak disebut sebagai ben­da paling berharga di ru­mah itu. Ditambah lagi rumah sudah yang ditem­pati itu sekaligus dijadikan dapur untuk ia memasak.

Meski dalam keadaan yang serba kekurangan di tengah perjuangannya me­nanggung kusta, Arifin tetap menunjukkan wajah bersahabat dan hangat saat membagi kisah. “Saya susah mendapat kawan untuk bercerita. Makanya saya senang kalau mau didengarkan,” katanya lagi sambil menyalakan api hendak memasak nasi.

Di rumah kecil dan se­der­hana itu, Arifin tinggal sendiri sembari membantu uluran keluarga dan te­tang­ga untuk menyam­bung hidupnya hari ke hari. Baginya, semua yang ia hadapi adalah takdir dan suratan dari Allah SWT. Ia tak bisa melakukan apa pun selain bersabar dan tetap bersyukur masih bisa hidup dan dibantu oleh mereka yang masih peduli akan keberadaannya.

Ia menceritakan pe­nye­bab sakit yang dider­i­tanya, pada saat itu awal­nya kaki yang sakit dan kaku sampai menjadi lum­puh. Karena tidak ada uang untuk berobat dan me­meriksa penyakit, pakai obat-obat alternatif saja saat itu.

 Sejak mulai lumpuh dan tidak bisa berjalan lagi, Arifin mendapati pula jari-jari tangan dan kaki­nya membusuk satu per satu. Ia pun tak ingin mere­potkan keluarga atas kon­disi yang ia derita, sehing­ga Arifin memutuskan me­nyendiri. “Saya tidak mau merepotkan keluarga atau kerabat lainnya. Sejak ta­hun 1991 saya tinggal sen­diri. Memisahkan diri dari keluarga dan orang-orang sekitar. Lagi pula, sebagian mereka merasa takut pada saya. Takut pada penyakit yang saya derita,” ucap­nya mengenang.

Saat ini, Arifin mengaku ada anggota keluarga yang datang ke tempat ting­galnya untuk mengantar sambal dan beras, paling tidak sekali dalam seming­gu. Selain itu, beberapa tetangga dan orang-orang lainnya juga kadang me­nyi­sihkan rezeki untuk diri­nya. Arifin hanya menuggu di rumah, ditemani satu unit radio lama yang men­jadi sumber pengetahuan baginya tentang segala sesuatu yang terjadi dan telah berubah di luar sana.

Ia bersyukur kepada Aiptu Fitriadi salah satu anggota Polsek VII Koto Sungai Sariak yang sering mengunjunginya dan mem­bawa buah tangan. “Pak polisi itu lah yang sering mendatangi dan mende­ngarkan cerita saya. Saya juga heran kenapa pak polisi itu tidak takut seperti orang lain,” kata Arifin.

Aiptu Fitriadi menyam­paikan, saat ini, selain ban­tuan dari keluarga dan warga, ada juga bantuan dari pemerintah berupa Bantuan Lqngsung Tunai (BLT). Sebelumnya juga ada bantuan dari dinas sosial. “Keterbatasan fisik yang dia alami membuat dia tidak bisa mencari bi­aya hidup sendiri. Tetapi meski demikian, Arifin te­tap memasak sendiri di rumah itu sudah termasuk dalamnya tempat tidur, dapur, kayu bakar. (ozi)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional