Menu

Sebelum Bunuh Istri, Oknum Dosen Unand Ajak Shalat Berjamaah

  Dibaca : 4557 kali
Sebelum Bunuh Istri, Oknum Dosen Unand Ajak Shalat Berjamaah
BERBINCANG— Wakapolri Komjen Pol Gatot Eddy Pramono berbincang dengan pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri di Rumah Sehat Covid-19 di Kampus II FIK UNP, melalui video call.
Sidang ilmul khair -- web

Terdakwa pembunuhan istri, Ilmul Khaer menangis dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan ketika duduk di kursi pesakitan.

PADANG, METRO–“Bunuah paja tu. Bunuah. Indak Bautak. Dosen pambunuah ang Mul. Ang matian anak den. Ang bunuah”…teriak seorang ibu-ibu. Tangannya bergerak, mencoba menggapai Ilmul Khaer, dosen Fakultas Hukum Universitas Andalas (FHUA), terdakwa pembunuhan istrinya, Dewi Yulia Sartika yang merupakan karyawan Bank BRI. Niatnya memukul mantan menantu terhalang pagar betis polisi yang memelintir leher dan menggiring Ilmul Khaer ke ruang sidang Pengadilan Negeri Padang, Rabu (28/10) siang.

Suasana gaduh. Keluarga almarhum Dewi Sartika mengamuk. Ilmul Khaer yang bergelar doktor hukum jadi fokus amukan. Pukulan melayang-layang, teriakan histeris bersahutan. Polisi yang sudah sekuat tenaga melindungi sesekali terkecoh juga. Beberapa kali, pukulan menghantam pinggang dan punggung sang dosen itu. Polisi juga demikian, keluarga yang marah karena Ilmul dilindungi begitu ketat, memukuli juga polisi. Bersyukur, aparat tak terpancing emosi, dan terus menggiring Ilmul, yang wajahnya pucat pasi di bawah ketiak aparat itu.

Tampak jelas raut takut, dan cemas di wajahnya. Ilmul sesekali meringis-ringis. Baju putihnya acak sebab ditarik. Sendal yang dipakainya juga hampir lepas karena terseok-seok. “Bunuah paja tu. Bunuah,” teriakan penuh emosi riuh terdengar dari mulut-mulut perempuan paroh baya. Mereka meracau. Sedangkan Ilmul diam saja. Pasrah digelandang ke ruang sidang utama.

Sampai di dalam ruang sidang, Ilmul tampak mengusap mukanya. Menutup kedua mata dengan telapak tangan. Lama dia begitu. Perlahan, air matanya menetes. Dia menangis tertahan. Tubuhnya terguncang, mencoba menahan, agar isaknya tak terdengar. Sementara, teriakan kian menggema oleh pengunjung sidang yang meringsek masuk.

Pintu sidang, sempat ditutup, karena polisi takut kericuhan mengular hingga ke dalam ruang persidangan. Namun, tak lama kemudian, pintu dibuka lagi. Beberapa petugas, tampak berjaga. Sengaja membelakangi hakim, untuk melihat gerak massa yang ada di ruang sidang. Kalau tak begitu, bisa jadi, ada yang nekat, melompat ruang pembatas dan menghantam Ilmul Khaer yang duduk di kursi pesakitan.

Pukul 10.00 WIB, sidang akhirnya dimulai. Molor satu jam dari jadwal yang pukul 09.00 WIB. Di ruang sidang, Ketua Majelis Hakim Badrun Zaini beranggotakan Sri Hartati dan Yose Ana Roslinda sudan stanby. Sebelum sidang, hakim meminta polisi memeriksa pengunjung. ”Kalau ingin masuk periksa dulu, siapa yang bawa senjata  tajam, tindak tegas, pak polisi,” kata Badrun Zaini.

Selama sidang, Ilmul didampingi oleh kuasa hukumnya, Wilson Saputra SH. Bertindak sebagai pengacara, Wilson juga satu alumni dan seangkatan dengan Ilmul Khaer ketika menuntut ilmu hukum di Fakultas Hukum Universitas Andalas (FHUA). “Terdakwa sehat?” tanya hakim. Ilmul hanya mengangguk perlahan.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewi Elvi Susanti lalu mulai membacakan dakwaan.

Dalam dakwaan terungkap jika sebelum membunuh Dewi, Ilmul sempat mengajak istrinya itu untuk shalat Isya berjamaah. ”Sebelum dibunuh, Terdakwa memang sempat mengajak korban untuk shalat berjamaah,” ungkap JPU Dewi.

Kejadian bermula pada Jumat, 3 April 2015, terdakwa membuat video bersama anaknya, usai membuat video, terdakwa menelepon korban untuk datang kekontrakannya di Gunung Pangilun. Sekitar pukul 17.30 WIB, korban datang. Sewaktu bertemu, mereka bercerita tentang kenangan indah di masa lalu, saat mereka masih terikat pernikahan. Terdakwa Ilmul Khaer berusaha minta rujuk dengan sang istri. Keduanya memang sempat berpisah tahun 2012. Namun, berulangkali, ajakan rujuk itu ditolak oleh Dewi.

Keduanya lalu bergegas menuju rumah korban yang ada di Jalan Koto Marapak, Kelurahan Olo, Padang Bar. Sampai di rumah, Ilmul mengajak korban untuk shalat Isya berjamaah. Setelah itu, pukul 23.00 WIB, korban minta izin pulang ke rumahnya di Siteba. Esok paginya, korban tak merasa janggal dan tetap bekerja di Bank BRI Cabang Padang.

Mendengar pertanyaan terdakwa, korban menjawab kalau dia sudah dalam perjalanan ke kontrakan terdakwa di Gunung Pangilun. Kemudian, terdakwa menyusul korban ke kontrakanya. Di sana, ternyata terdakwa tidak melihat keberadaan korban dan kembali menelpon. ”Dima Dewi, abang alah dikontrakan Gunung Pangilun,” ucap terdakwa seperti yang ditirukan jaksa. Tapi dijawab lagi oleh korban kalau dia baru akan berangkat ke kontrakan. Mendengar itu, terdakwa kemudian menyarankan agar korban langsung ke Jalan Koto Marapak yang merupakan rumah orangtua terdakwa.

Sesampai di rumah, jelas JPU, terdakwa dan korban berbicara di depan kamar dan mempertanyakan kepada korban mengenai kelanjutan hubungan rumah tangga mereka. Terdakwa ingin memperbaiki hubungan rumah tangga dengan korban. Rencananya pada 22 april 2015, terdakwa dapat rujuk dengan korban. Tanggal itu juga merupakan hari pernikahannya. ”Mendengar ajakan terdakwa, korban kembali menolaknya. Namun terdakwa berkali kali merayu dan membujuk serta menyuruh korban memikirkan nasib anak-anaknya,” imbuh JPU.

Usai menolak ajakan rujuk, korban pamit pulang ke rumah orangtuanya di Siteba. Mendengar perkataan korban, Ilmul Khaer membujuk lagi dan mengajak korban untuk shalat Isya berjamaah menjelang pulang. “Namun korban langsung berdiri dan hendak keluar dari kamar. Selanjutnya terdakwa berusaha menahan korban agar tidak pulang lebih awal. Korban lalu mendorong terdakwa hingga jatuh ke lantai,” kata JPU.

Akibat terjatuh, Ilmul Khaer emosi dan mengambil sangkur yang berada di dalam laci. “Selanjutnya terdakwa mendekati korban dan langsung menikam dada kanan korban, sehingga korban berteriak kesakitan. Lalu tersangka mengangkat tubuh korban dengan cara merangkul dan mengguncang-guncang sembari berteriak memanggil nama korban, tapi tidak ada jawaban karena korban sudah tidak bernyawa lagi,” tutur JPU.

Dalam keadaan panik, terdakwa memindahkan tubuh korban dan menyandarkannya ke tangga rumah. Setelah itu diseret ke atas mobil Suzuki Katana BA 1320 AT dan mendudukkan korban di kursi depan.

”Terdakwa kembali lagi ke dalam rumah melalui pintu garasi mobil untuk membersihkan darah yang berceceran di lantai dengan menggunakan kain handuk dan baju yang dipakai terdakwa,” ulas JPU Dewi.
Handuk dan baju yang berlumuran darah kemudian dimasukkan terdakwa ke dalam ember hitam dan meletakkannya ke dalam mobil. Terdakwa kemudian menyala mobil dan mengemudikannya keluar kota Padang melewati Sitinjau Laut menuju Sorolangun, Jambi.

Beberapa hari kemudian, tepatnya Senin, 6 April 2015, terdakwa sampai di SPBU Singkut, terdakwa memarkirkan mobil dan beristirahat di mushalla SPBU itu. Selagi istirahat saksi Riani dan Muzahar petugas SPBU menemukan mayat korban dalam posisi duduk bersimbah darah yang sudah mengering di dalam mobil. Kemudian melaporkannya ke Polsek Pelawan Singkut. Ilmul lalu ditangkap polisi. Namun, sebelum dibekuk, dia sempat minum racun serangga dan kritis. ”Dia dibawa ke Padang dan diproses,” tutur Jaksa Dewi. (r)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional