Menu

Satu Bulan Tragedi Kelam Dermaga Kandih, Keluarga Korban masih Trauma

  Dibaca : 146 kali
Satu Bulan Tragedi Kelam Dermaga Kandih, Keluarga Korban masih Trauma
MASIH TRAUMA—Gita (31), keluarga korban 5 orang tewas di Dermaga Kandih, masih trauma mengenag peristiwa kelam itu di kediamannya di Waringin, Kelurahan Lobang Panjang.

SAWAHLUNTO, METRO–Sebulan telah berlalu pascaambruknya der­ma­ga Danau Tandikek me­makan korban 5 orang warga Sawahlunto, namun peristiwa senja kelam itu masih membuat trauma bagi keluarga korban. Ke­jadian tersebut, di saat korban  tengah berwisata foto untuk menikmati in­dahnya pemandangan Danau Tandikek di sore hari, Rabu (26/5) masih suasana liburan Idul Fitri 1442 H.

Akan tetapi peristiwa tersebut masih menim­bulkan duka mendalam dan trauma bagi keluarga korban dan juga bagi kor­ban sendiri yang selamat pada saat peristiwa naas senja naas tersebut.

Saat ditemui di rumah keluarga korban Gita (31) dan Doni (31) sepasang suami istri ini menje­las­kan, suasana berduka dan kesedihannya kepada Pos­metro. Gita menjelaskan,  yang telah meninggal aki­bat kecelakaan ambruk­nya Dermaga Kandih ter­sebut adalah  seorang pamannya, 2 orang sepu­punya dan seorang kepo­nakannya, serta seorang lagi teman sepupunya yang sudah dianggap ba­gian keluarga.

Menurutnya trauma itu masih amat terasa bagi keluarganya. Terutama kakaknya “UC” (45) dan “Na” (4) yang termasuk korban selamat. Di mana sampai saat ini “UC” sa­ngat sedih, sehingga mem­buatnya hampir setiap pagi pergi ke pemakaman keluarga untuk melihat kuburan anak laki-lakinya “LS” yang menjadi korban jiwa.

Tidak hanya sampai disitu “UC” yang juga saat ini sedang menjalani pe­ngobatan kemoterapi un­tuk kesembuhan penyakit yang dideritanya, sudah tidak semangat lagi untuk sembuh. “Kami selalu b­u­juk dan motivasi dari p­i­hak keluarga untuk kesem­buhannya agar mauelan­jutkan pengobatannya la­gi,” tutur Gita, sembari menundukkan kepala tak kuasa menahan air ma­tanya menceritakan pen­de­ritaan keluarga besar­nya ketika dikunjungi POS­METRO di rumahnya, Ju­mat (25/6).

Ditambah lagi dengan keadaan keponakan me­reka yang menjadi korban selamat “NA” (4) sampai hari ini masih sering trau­ma. Bila “NA” melihat jembatan atau bangunan yang seperti dermaga dia pasti akan teriak-teriak ketakutan. “Jangan lewat sana nanti jatuh ambruk jembatannya,” tutur Gita.

Gita sebagai adik dari korban selamat “UC” me­nye­butkan, keheranannya atas berita yang berbau klenik beredar, di mana dalam berita tersebut me­ngatakan, bahwa pihak keluarga bersaksi bahwa kejadian tersebut akibat adanya ular besar hitam yang menghantam der­maga kandih. “ Disini kami pihak keluarga melu­rus­kan bahwa tidak pernah kami berbicara kepada wartawan mengenai infor­masi adanya ular besar hitam yang menabrak dermaga tersebut. Itu tidak benar sampai se­karang pun kakak saya “UC” belum mau berbi­cara dengan orang diluar keluarga dekat, jadi kete­rangan tersebut adalah hoax,” tegas Gita.

Sebagai pihak keluar­ga Gita dan Doni me­ngung­kapkan, melihat kondisi keluarganya saat ini, me­reka cuma menfokuskan untuk pemulihan mental dan psikologi keluar­ga­nya. “Kami sangat iba melihat kondisi keluarga besar kami yang selamat dari peristiwa naas ter­sebut. Kami sangat ber­harap keluarga kami yang selamat ini dapat sembuh dari trauma mereka. Kami ingin semuanya kembali semangat menjalani kehi­dupan ke depannya. Dan sekarang meski sudah sebulan berlalu rasa kehi­langan itu masih terasa,” ujar Gita, yang dimani Doni.

Di sini Doni menu­tur­kan, pascakejadian pihak pemerintah sudah banyak memberikan bantuan da­lam segi apapun termasuk kemudahan pengurusan administrasi dan keuang­an. “ Iya kalau perhatian dari Pemko Sawahlunto terhadap kami keluarga korban cukup banyak. Untuk saat ini pihak ke­luarga mengikhlaskan ke­pergian para korban. Un­tuk proses hukum biarlah pihak yang berwajib me­ngu­rusnya. Kemarin dua orang korban yang se­lamat atas nama “IN” dan “AL” sudah 2 kali dipanggil polisi untuk menjadi saksi pengindentifikasian bukti-bukti melalui rekaman video. Kita menunggu pro­ses yang berlangsung,” kata Doni.

Terpisah, Kapolres Sa­wah­lunto AKBP Junaidi Nur SIK yang sedang meng­hadiri vaksinasi sinovac Covid 19 di Polsek Kota Sawahlunto Kamis (24/6) mengungkapkan, sampai saat ini proses penye­lidikan masih berlang­sung. “ Pihak Reskrim Sawahlunto sudah me­manggil para pihak yang terkait kasus ini, kami akan menjalani sesuai standar penyelidikan, un­tuk mengetahui lebih men­dalam kasus ini. Pihak kami sudah mendatang­kan saksi ahli. Kami serius menangani proses pe­nyelidikan terkait 5 orang korban meninggal dunia pa­da tragedi ambruknya Der­maga Kandih di Danau Tan­dikek ini,” ungkapnya. (pin)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional