Menu

Satgas Covid-19 Hanya Izinkan Kombinasi Vaksin untuk Tenaga Kesehatan

  Dibaca : 136 kali
Satgas Covid-19 Hanya Izinkan Kombinasi Vaksin untuk Tenaga Kesehatan
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito.

JAKARTA, METRO–Satgas Penanganan Co­vid-19 menyatakan bahwa pemerintah hanya me­ngizinkan kombinasi vak­sin untuk tenaga kesehatan.

Sejauh ini ada yang sudah lolos uji terhadap beberapa kombinasi jenis vaksin untuk satu orang penerima atau praktik mixing vaccine. Khusus praktik mixing vaccine di Indonesia sejauh ini Kementerian Kesehatan hanya menetapkan peruntukkannya bagi booster dosis ketiga bagi tenaga kesehatan.

“Hal ini mengingat jenis vaksin Sinovac yang diterima oleh tenaga kesehatan pada dua dosis pertama saat ini juga dialokasikan untuk populasi khusus misalnya untuk anak, ibu hamil, maupun menyusui,” kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (27/8).

Untuk beberapa jenis vaksin yang sudah lolos uji, di antaranya percampuran antara AstraZeneca dan Pfizer di Jerman, AstraZeneca dan Sputnik di Azerbaijan, Sinovac dan AstraZeneca di Thailand, dan Sinovac dan Moderna di Indonesia. “Jenis vaksin yang dapat dikombinasikan ini dapat dinamis seiring berkembang uji lanjutan lainnya,” lanjutnya.

Mengenai penjelasan vaksin sendiri, kata Wiku, adalah substansi yang di­buat sedemikian rupa dari organisme yang sangat ke­cil penyebab penyakit atau agen yang mengandung racun atau protein tertentu.

Tujuannya memberikan perlindungan terha­dap tubuh dari penyakit tertentu. Menurut Wiku, secara sederhana dari berbagai jenis vaksin COVID-19 yang dikembangkan, pada kategorinya, proses pengembangannya berdasarkan bahan baku.

Pertama, vaksin yang menggunakan seluruh ba­gian virus. Vaksin ini menggunakan seluruh bagian dari virus yang dapat dikategorikan menjadi vaksin inaktif dengan virus yang telah dimatikan oleh senyawa kimia, pemanasan, atau radiasi.

Lalu vaksin dari virus hidup yang dilemahkan dan vektor virus yang menggunakan virus yang tidak menyebabkan penyakit untuk mengirimkan protein khusus untuk menimbulkan respons kekebalan.

Kedua, vaksin yang meng­gunakan bagian tertentu dari virus (subunit). Umumnya bagian spesifik yang digunakan untuk pe­nge­­m­bangan jenis vaksin ini ialah senyawa protein dari virus.

Ketiga, vaksin yang menggunakan bagian genetik virus yaitu asam nuk­leat berupa DNA atau RNA. Komponen ini berfungsi sebagai cetak biru untuk menghasilkan protein yang menimbulkan respons imunitas khusus.

Di Indonesia sejauh ini telah terdapat lima jenis vaksin yang telah mendapat EUL sekaligus EUA untuk digunakan di Indonesia, yaitu Sinovac dan Sinopharm yang tergolong vaksin inaktif, AstraZeneca yang tergolong vaksin vektor virus, serta Moderna dan Pfizer yang tergolong vaksin dengan memanfaatkan teknologi genetik.

Dia menilai perlu menjadi perhatian bahwa sebelum dinyatakan aman dan efektif untuk digunakan, berbagai tahapan evaluasi harus dilalui.

Secara statistik umumnya hanya 7:100 atau sekitar 0,07 persen kandidat vaksin saja yang dianggap cukup mampu meneruskan ke tahap uji klinis pada manusia.

Lebih lanjut, kata Wiku, berbagai pendekatan da­lam pengembangan vak­sin membuat peluang dihasilkannya lebih banyak vaksin lebih besar mengingat saat ini yang membutuhkan vaksin Covid-19 bukan hanya satu atau dua negara, tetapi hampir seluruh negara di dunia membutuhkannya.

Seiring dengan sema­kin banyaknya pasokan vaksin yang berdatangan bahkan berpeluang bertambah jenis kedepannya. Satgas menjamin setiap jenis vaksin yang ada sa­ma-sama efektif.

Perbedaan angka efektivitas vaksin atau kemampuan untuk membentuk kekebalan tubuh antara satu vaksin dengan vaksin lainnya bukanlah hal yang harus dikhawatirkan.

Target spesifik vaksinasi yang telah pemerintah tetapkan telah berdasar pada temuan ilmiah saat uji klinis. Sebagaimana yang terlihat pada ilustrasi bahwa setiap jenis vaksin telah ditetapkan target populasinya berdasarkan usia.

Misalnya vaksin untuk anak usia 12-17, yaitu meng­gunakan vaksin Sinovac atau Pfizer maupun berdasarkan pertimbangan kondisi kesehatan tertentu misalnya ibu hamil menggunakan vaksin Sinovac, Pfizer, dan Moderna. “Hal ini semata-mata untuk meng­optimalkan manfaat kesehatan dibandingkan efek negatifnya,” tegas Wiku.

Dia mengharapkan ma­syarakat dan pihak penyelenggara vaksinasi dapat mengikuti sesuai prosedur yang direkomendasikan demi melindungi diri sendiri maupun orang-orang terdekat. Terakhir yang terpenting yaitu vaksinasi akan menjadi sempurna jika dilakukan bersamaan dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan. (jpnn)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional