Close

Sajian Teh Talua Terbanyak Pecahkan Rekor MURI, Sumbar Pionir Peningkatan Konsumsi Ayam dan Telur

LIHATKAN— Wagub Sumbar, Audy Joinaldy, Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, Erinaldi memperlihatkan piagam MURI.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Pemprov Sumbar) bersama Pemko Bukittinggi mendapat penghargaan “Sajian Teh Talua (Teh Telur) Terbanyak” oleh Museum Rekor Indonesia (MURI). Penghargaan MURI diserahkan Costumer Relation Manager MURI Lutfi Syah Pradana, kepada Wakil Gubernur (Wagub) Sumbar, Audy Joinaldy, pada puncak peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) ke-12 di Plaza Jam Gadang, Bukittinggi, Minggu (16/1).

Peringatan HATN di Kota Bukittinggi meriah. Audy Joinaldy, bersama Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah, Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar, dan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar, Erinaldi berparade bersama 50 bendi untuk minum teh talua di beberapa titik di Kota Bukittinggi.

Dimulai di SMA Negeri 1 Bukittinggi, SMA Negeri 2, SMK Negeri 2 dan ditutup dengan penyerahan rekor MURI di Plaza Jam Gadang, Bukittinggi.

Audy Joinaldy berharap pemecahan rekor MURI dengan sajian 5.110 gelas teh talua pada HATN ini, mampu meningkatkan konsumsi ayam dan telur di Indonesia, khususnya Sumbar ke depannya.

Momentum peringatan HATN juga bagian pembinaan entrepreneur dalam upaya menurunkan angka prevelansi stunting. Audy kembali mengingatkan pen­ting­nya ayam dan telur sebagai pilihan protein kaya nutrisi dengan harga terjangkau. Konsumsi protein melalui ayam dan telur berbanding lurus dengan kecerdasan suatu bangsa. “Sa­ya rasa ada korelasi kecukupan protein dan kecerdasan bangsa. peningkatan konsumsi ayam dan telur juga membantu ekonomi masyarakat, kesejahteraan peternak, juga petani. Karena ayam makan jagung, sehingga kebutuhan jagung juga meningkat. Inilah yang kita lakukan di Sumatera Barat,” terangnya.

Pada puncak peringatan HATN itu, Audy mencanangkan gerakan halal madani sebagai upaya memastikan seluruh produk peternakan yang dihasilkan, secara proses memenuhi syarat halal yang diatur dalam syariat Islam.

Salah satunya dengan pelatihan Juru Sembelih Halal (Juleha) yang menjadi pintu pertama meyakinkan masyarakat, bahwa bahan pangan di Sumbar aman, sehat, utuh dan halal. “Oleh karena itu kita memerintahkan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar memfasilitasi pelatihan Juleha dengan target 1.000 orang tahun ini,” lanjutnya.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah menyampaikan, melalui peringatan HATN dan perolehan rekor MURI, Sumbar sebagai salah satu sentra produksi ayam dan telur telah menjadi pionir peningkatan konsumsi ayam dan telur per kapita di Indonesia. “Tentunya ini juga jadi momentum melihat dan mengembangkan infrastruktur, sarana produksi untuk mendukung Sumatera Barat sebagai sentra produksi ayam dan telur,” katanya.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Sumbar, drh. Erinaldi menjelaskan, peringatan HATN tahun ini, terdiri dari beberapa kegiatan yang berlangsung sejak 14 hingga 16 Oktober 2022.

Di antaranya, seminar nasional, lomba cipta menu ayam dan telur bekerja sama dengan TP PKK Sumbar, pameran UMKM, pelatihan juru sembelih halal dan seminar fungsional aparatur peternakan, seminar peternak seluruh Sumbar. Hingga pemecahan Rekor MURI minum teh talua terbanyak.

Erinaldi menyebut, dengan kampanye, terjalankan tiga program sekaligus. Pertama, memberikan pemahaman kepada masyarakat terhadap protein dan gizi yang terjangkau. Kedua, meningkatkan kemajuan peternak, karena produksi yang meningkat, dan membantu penanganan stunting. Di samping itu, pemecahan rekor teh talua juga menguatkan brand teh talua sebagai minuman khas Sumbar.

Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar  mengungkapkan, teh talua dengan total 5.110 gelas dibuat dengan bantuan dari TP-PKK Bukittinggi dan pelajar. Lutfi Syah Pradana, Costumer Relation Manager MURI menjelaskan, Pemprov Sumbar dan Pemko Bukittinggi tidak hanya memecahkan rekor di Indonesia, namun apresiasi diberikan sebagai pemecah rekor dunia.

“Rekor MURI dipecahkan. Bahkan rekor dunia dengan produksi dan konsumsi teh talua terbanyak. Ini masuk kategori rekor dunia, karena adanya kearifan lokal, tidak ada di negara lain yang buat teh talua. Capaian ini, bisa jadi inspirasi daerah lain untuk memunculkan kearifan lokalnya,” ujarnya.(**)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top