Menu

Safei, Guru Terpencil di Papua, Usulkan Bangun 1.000 Lapangan Badminton

  Dibaca : 142 kali
Safei, Guru Terpencil di Papua, Usulkan Bangun 1.000 Lapangan Badminton
Safei

PADANG, METRO–Indonesia kembali mem­peroleh medali emas di cabang olahraga (Cabor) bulutangkis pada ajang Olimpiade Tokyo 2020. Me­dali emas yang diperoleh pasangan ganda putri Grey­sia Polli-Apriyani Rahayu ini berhasil memperpanjang tradisi emas Olimpiade Indonesia. Medali emas pertama Indonesia diperoleh saat Olimpiade Barcelona tahun 1992 melalui Susi Susanti.

Merayakan tradisi e­mas cabang bulutangkis tersebut, Safei salah se­orang guru olahraga di daerah terpencil di Papua menyarankan, kepada pemerintah untuk merancang sebuah program yang substansi untuk pembinaaan, yakni membangun 1.000 lapangan badminton di sekolah terpencil di Indonesia.  “Kita semua bang­ga atas prestasi yang diperoleh tim bulutangkis Indonesia di ajang Olimpiade, inilah adalah puncak pembinaan olahraga, tapi momentum ini juga pemerintah kembali memikirkan pembinaan mulai dari de­sa-desa,” terang Safei saat dihubungi via WhatsApp, Selasa (3/8).

Safei guru asal Padang yang pernah menjadi pembicara Hari Guru Dunia yang dilaksanakan Unesco tahun 2018 lalu itu merasa miris melihat sarana olah­raga di daerah terpencil.

“Saya pernah mengajar di beberapa daerah terpencil, mulai Aceh, hingga sekarang di Papua, sekali-kali pemerintah turun ke lapangan untuk melihat sarana olahraga sekolah, jangan menerima laporan di daerah saja. Apalagi dana BOS tidak bisa diperuntukkan untuk rehab se­perti membangun lapa­ngan olahraga,” ujar Safei.

Sumber-sumber dana, menurut Safei bisa mengandeng perusahaan melalui CSR, atau memang dianggarkan oleh pemerintah melalui program. “Ada sis­wa SD di sekolah yang sampai tamat tidak pernah megang raket bulutangkis, ini sangat miris, padahal setiap ajang olahraga se­perti Olimpiade ini kita selalu berharap medali e­mas,” keluh Safei peraih penghargaan Pengelola Taman Baca Kreatif 2018 dari Kemdikbud.

 “Saya apresiasi bebe­rapa program pendidikan dari swasta untuk sekolah-sekolah terpencil, seperti yang pernah dilakukan beberapa BUMN juga, tapi sekali-kali bisa diprogramkan untuk sarana olahraga seperti lapangan bulu­tang­kis, jika diminta peme­rintah saya bersedia memberikan saran petunjuk teknisnya, luas lapangan bulutangkis hanya 6×13 meter saja, untuk membangun satu la­pangan beton tidak sampai 5 juta,” ujar Safei.

Dikatakan Safei, kalau dicermati sejarah, dulu Presiden Pertama RI Soer­karno menjadikan olahraga sebagai ‘alat’ pemba­ngunan, keseriusan tersebut terlihat dari keterlibatan semua elemen untuk menggiatkan olahraga, bah­kan prestasi olahraga negara Indonesia juga cukup disegani. Negeri ini boleh berbangga setidak­nya di level Asian Games, sejak Asian Games 1951 Delhi hingga Olimpiade Beijing tahun 1990, Indonesia selalu berada di 10 besar Asia, Cuma sedikit tergeser peringkat 11 A­sian Games 1954 Manila (peringkat 11) dan Asian Games 1958 Tokyo (pe­ringkat 12), selebihnya Indonesia terlempar di pe­ringkat 10 besar, terakhir baru Indonesia bisa masuk kembali 10 besar saat A­sian Games 2018 Jakarta-Palembang (4).

“Olahraga harus dijadikan bagian dari pembangu­nan, semua elemen ha­rus i­kut merasa terlibat dan ber­kewajiban, karena satu medali emas di ajang Olimpiade, 250 juta jiwa ikut merasa bangga,” ujar Sa­fei. (*/boy)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional