Menu

Sabu Rp1,2 Miliar Dimusnahkan, Diblender di Depan Tersangka

  Dibaca : 187 kali
Sabu Rp1,2 Miliar Dimusnahkan, Diblender di Depan Tersangka
MUSNAHKAN SABU— BNNP Sumbar disaksikan para tersangka memusnahan 1 Kg sabu senilai Rp1,2 miliar, Kamis (14/3).

PADANG, METRO – Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Sumbar melakukan pemusnahan satu kilogram sabu senilai Rp1,2 miliar yang disita dari empat orang tersangka yang ditangkap di wilayah Kota Padang dan Padangpariaman, Kamis (14/3). Sabu itu rencananya akan diselundupkan tersangka ke dalam Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas II A Muaro Padang.

Pemusnahan barang bukti itu disaksikan para tersangka yang tediri dari pasangan suami istri (pasutri) bernama Rizki (31), Era Gema Saputri (25) yang ditangkap di sebelah Jembatan Siti Nurbaya, Jalan Seberang Palinggam, Padang Selatan. Sedangkan dua tersangka lainnya, Muhammad Andi (26) dan Maxi Milianus (27) di perlintasan kereta api Jalan Lintas Padang-Bukittinggi KM 21, Kecamatan Batang Anai.

Pemusnahan dipimpin Kepala BNNP Sumbar Brigjen Pol Khasril Arifin, disaksikan Wadir Res Narkoba Polda Sumbar, Pengadilan Negeri Pariaman, Pengadilan Negeri Padang dan Kejaksaan. Sabu sitaan itu dimusnahkan dengan cara diblender dicampur dengan air dan kemudian dibuang ke dalam toilet sehingga sabu itu tidak bisa lagi digunakan.

“Sabu yang kita musnahkan ini, merupakan hasil penangkapan pada 2 Maret lalu, yang didapatkan dari empat orang tersangka yang ditangkap di dua lokasi berbeda. Sabu itu totalnya satu kilogram. Pemusnahan barang bukti sesuai dengan ketetapan pengadilan dan harus segera dimusnahkan,” kata Khasril.

Khasril menjelaskan keempat tersangka ini merupakan satu jaringan. Tetapi, antara dua tersangka yang pasutri dengan dua tersangka lain tidak salong mengenal. Tetapi, mereka dikendalikan oleh satu orang berinisial A yang saat ini sedang berada di dalam Lapas kelas II A Muaro Padang menjalani hukuman.

“Rencananya sabu itu akan diselundupkan ke dalam lapas. Peran para tersangka sebagai kurir, yang mana bosnya narapidana berinsial A itu. Sabu dari hasil pemeriksaan, didapatkan dari Pekanbaru Riau yang dibawa menggunakan jalur darat. Mereka ini satu jaringan tapi tidak saling mengenal,” jelas Khasril.

Terhadap narapidana berinisial A tersebut, Pol Khasril menuturkan pihaknya masih terus melakukan pengembangan untuk mengumpulkan bukti-bukti kuat untuk menjeratnya. Pasalnya, tanpa bukti yang kuat, pihaknya tidak bisa menangkap yang bersangkutan.

“Kalau cukup bukti, kita akan melakukan pemeriksaan terhadap narapidana bernisial A. Kita masih kembangkan. Untuk itu, kita juga bekerjaa sama dengan pihak Kemenkum HAM dan juga Polda Sumbar. Kedepan kita akan terus melakukan penyelidikan, untuk mengungkap kasus narkoba jaringan Lapas, mengingat muara dari narkoba ini kebanyakn tujuannya ke Lapas,” ujar Khasril.

Khasril mengungkapkan wilayah Sumbar juga termasuk yang sangat rawan terhadap masuknya narkoba. Apalagi, wilayah Sumbar berbatasan langsung dengan beberapa provinsi dan juga memiliki pintu masuk yang sangat banyak. Meskipun narkoba yang masuk tidak dalam jumlah besar, terapi peredarannya sudah masuk hingga ke desa-desa.

“Kalau ganja itu asalnya dari Aceh. Yang paling bagus di dunia itu memang ganja Aceh. Sedangkan sabu itu berasal dari Tiongkok Cina yang kemudian masuk ke Pekanbaru Riau. Apalagi, peredaran narkotika sangat menggiurkan karena untungnya sangat besar,” ujar Khasril.

Khasril menegaskan untuk memberantas narkoba, memang sangat dibutuhkan peran aktif dari seluruh masyarakat. Bagaimana bersama-sama agar Sumbar bersih dari narkoba. Minimal bisa dikurangi dengan memutus mata rantainya. Untuk itu dalam waktu dekat, pihaknya akan melaksanakan deklarasi Nagari Besih Narkoba (Bersinar).

“Memang ada beberapa persoalan dalam pemberantasn narkoba. Salah satunya, speeri pecandu setelah direhab, diberikan pelatihan, dan dikembalikan ke masyarakat, ternyata masyarakat tidak menerima sehingga para pecandu kembali terjerumus dalam narkoba. Makanya, kita juga akak memberikan pemahaman kepada masyarakat kalau para pecandu yang sudah direhab, agar tidak dikucilkan,” ujarnya.

Sementara itu, Wadir Res Narkoba Rudy Yulianto mengatakan pihaknya tentu sangat prihatin dengan situasi saat ini. Di sekeliling, narkoba masih terus mengancam generasi muda atau generasi milenial. Ancaman narkoba lebih bahaya dari korupsi, karena yang diserang merupakan generasi milenial sehingga mengancam kegidupan berbangsa dan bermsayarakat.

“Kami dari Polda Sumbar huga berkeja sama dengan BNNP Sumbar. Kami di Polda Sumbar juga sedang menangani kasus narkoba, tetapi juga menjerat para tersangka dengan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Ini sejarah dari Polda Sumbar yang mengusut aliran dana dari penjualan narkoba,” kata AKBP Rudy

AKBP Rudy mengungkapkan dengan menjerat para tersangka narkotika, dengan TPPU, pihaknya bisa melakukan penyisaan aset-aset yang berkaitan dengan hasil dari penjualan narkoba. Hal ini dilakukan sebagai bentuk memberikan efek jera, kalau terlibat narkoba tidak hanya ditangkap, tapi hasil dari penjualannya juga disita negara.

“Sudah kita terapkan kepada para tersangka pengedar narkoba. Ada aset bergerak dan tidak bergerak yang disita. Beberapa kasus yang kita tangani, memang juga berkaitan dengan Lapas. Harapan kita BNNP Sumbar dan Polda Sumbar tetap bekerja sama dengan baik dalam pemberantasan narkoba. Untuk diharapkan dukungan dari semua pihak serta semua lapisan masyarakat,” pungkasnya. (rgr)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional