Close

RSUD Sawahlunto Butuhkan Dokter Spesialis Anastesi

RSUD Sawahlunto Butuhkan Dokter Spesialis Anastesi

SAWAHLUNTO, METRO–Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sawahlunto sangat membutuhkan dokter spesialis Anastesi (Pembiusan) dan ruangan yang representatif sesuai standar Rumah Sakit Tipe C untuk Operasi dan UGD. Dalam wawancara khusus dengan dr Ardian Adri MARS yang menjabat Di­rektur RSUD Sawahlunto diruang kerjanya, Jumat (4/3) dijelaskan, tentang beberapa kendala yang perludukungan dan perhatian pemerintah kota, DPRD dan berbagai pihak dalam mewujudkan hal ini.

Menurutnya saat ini RSUD Sawahlunto adalah Tipe C, dari standar Kemenkes RI untuk tipe C harus memiliki dokter penyakit dalam, anak, kebidanan, kandungan dan bedah. ” RSUD Sawahlunto sudah memiliki dikter spesialis dalam 2 orang, anak 3 orang, kebidanan, kandungan 1 orang, bedah 2 orang, paru 1 orang, jantung 1 orang, rehabilitasi medik 1 orang, radiologi 1 orang, mata 1 orang, gigi ada 4 orang (gigi konservatif, gigi bedah mulut, dan gigi penyakit mulut), dan kulit 1 orang,” papar dokter Ardian.

Khusus untuk dokter spesialis Anastesi karena RSUD Sawahlunto tidak memiliki dokter tetap, a­khirnya mengajukan usulan ke perhimpunan dokter serta ke pusat agar dibantu untuk mengahdirkan. “Makanya kita dibantu dengan dokter Anastesi dari pusat mulai bulan Maret 2022 sampai dengan bulan Februari 2023. Kemudian kita juga me­nga­dakan dokter reflal dari RSUD Sijunjung 1 orang untuk membantu di RSUD Sawahlunto. Sehingga 2 kali seminggu hadir di RSUD Sawahlunto,” ujar Ardian.

 Selain dokter spesialis Anastesi yang belum ada dokter spesialis di RSUD Sawahlunto yaitu dikter THT, Neorologi/syaraf dan patologi klinik. Untuk me­ngatasi hal tersebut kita mendatangkan dokter reflal dari RSUD tetangga dari Kab/Kota yang ada disekitar Kota Sawahlunto.

Direktur RSUD juga mengatakan kendala yang juga dibutuhkan adalah bangunan untuk ruang UGD dan Operasi yang memenuhi standar dari Kemenkes RI.  Bangunan RSUD Sawahlunto ini unik. Karena masuk dalam ba­ngunan inti UNESCO wa­risan dunia, yang tidak boleh merombaknya sesuai keinginan RSUD. Ruangan inti itu adalah rua­ngan UGD/ICU dan ruang Operasi Bedah.

Sehingga dibutuhkan lah ruangan yang merepresentatif untuk kebutuhan RSUD. Rencana ke depannya akan diminta bangunan SMP 1 Sawahlunto sebagai bagian dari RSUD. Namun itu membutuhkan pembicaraan le­bih lanjut dengan pemerintah kota Sawahlunto.

“Dan SMP 1 Sawahlunto tersebut tanahnya sudah menjadi hak milik Pemko Sa­wahlunto bukan PTBA lagi, seperti halnya tanah RS­UD sebanyak 2 Ha sudah menjadi milik Pemko Sa­wahlunto sejak pertengahan tahun 2021 lalu, se­hingga pihak pemerintah pusat bisa memberikan bantuan pembangunan fisik karena status tanah sudah jelas,” tutur Ardian.

Dia juga menambahkan, mengenai hal yang urgen saat ini juga adalah adanya ruangan rawat inap yang tidak nyaman bagi pengunjung. Ke­tidaknyamanan ini terjadi ada ruang rawat inap yang apabila hujan kebanjiran, dan ada juga ruang rawat inap anak yang menjadi sarang burung walet. Hal tersebut menjadi perha­tian bagi pihaknya.

Untuk tahun ini RSUD dapat bantuan dana bantuan Rp 2 miliar dari pusat, untuk fisik ruang ra­wat inap anak Rp600 juta, sisanya Rp1,4 miliar digunakan untuk oembelian Alkes. Semoga sebelum bulan Ramadhan sudah visa dimulai kegiatan ini. Akibat dari ruang rawat inap yang tidak nyaman dan kurang representatif ini banyak pasien yang minta rujukan dan tidak mau dirawat di RSUD Sa­wahlunto.

“Terkait covid juga me­ngurangi keinginan ma­syarakat Sawahlunto untuk dirawat inap disini. Untuk saat ini rawat inap di RSUD Sawahlunto ma­sih dibawah 40 persen, standarnya 100 persen. Ketersediaan ruang ra­wat inap ada 104 kamar termasuk ruang isolasi. Namun jumlah pengunjung RSUD Sawahlunto cukup bagus sekitar 3000/bulannya, dibandingkan sebelum pandemi covid lebih ba­nyak dari sekarang. ” kata Ardian.

Hal lain yang juga menjadi kendala adalah ketersediaan lapangan parkir yang sempit dan juga par­kir motor tersebut masih punya Dishub. Dirambah jalan masuk ke RSUD sem­pit akibat parikiran dari guru dan murid SMP 1 Sawahlunto dan juga guru dari SD Aur Tajungkang yang memakan ba­dan jalan. ” Ya memang banyak keluhan dari pa­sien dan keluarga pasien yang sering macet bila memasuki RSUD Sawah­lunto serta sulit mencari tempat parkir,” pungkasnya. (pin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top