Menu

Revolver di Tangan, Bos Tambang Gagal Tembak Target

  Dibaca : 1906 kali
Revolver di Tangan, Bos Tambang Gagal Tembak Target
AMANKAN PREMAN— Jajaran Satreskrim Polres Bukittinggi mengamankan 12 preman diamankan, yang melakukan aksi premanisme dengan modus parkir liar.
Revolver2

ilustrasi

DHARMASRAYA, METRO–Jika cinta sudah meresap di hati, seseorang kadang kehilangan logikanya. Apalagi, kalau cinta itu tak direstui keluarga calon. Pikiran bisa kalut. Hal inilah yang dirasakan Depi Aprada (28). Bos tambang illegal itu marah sejadinya, ketika tahu tunangannya dibawa lari kabur kakak iparnya.

Sebab, Depi tidak disetujui keluarga. Kalut, Depi merencanakan untuk menjemput sang tunangan, sekaligus menembak calon kakak iparnya, jika melawan.

Niat buruk itu sudah direncanakan Depi dengan matang. Bermodal uang hasil tambang illegal, Depi membeli senjata rakitan jenis revolver seharga Rp1,5 juta kepada teman sekampungnya di Desa Teluk Rendah, Kecamatan Cermin Nan Gadang, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Pistol itu, sekaligus jadi senjata baginya untuk menakut-nakuti orang yang mengganggu areal tambang illegalnya.

Setelah membeli pistol, Depi mencari tahu, kemana tunangannya disembunyikan pihak keluarga. Lama mencari, dia akhirnya mendapat informasi kalau pujaan hatinya itu dibawa kabur ke Kota Padang dan diinapkan di salah satu rumah warga. Depi langsung mengajak rekannya, Husni Tomi (19) untuk menemaninya ke Padang, dengan menggunakan mobil Innova warna silver, dengan Nomor polisi BH 1441 LQ.

Kamis (15/10), keduanya, lalu meluncur ke Padang via Dharmasraya. Mobil yang dibawa, diduga tidak pula memiliki surat-surat lengkap. Kondisinya juga rusak. Kaca depan retak, sedangkan kaca belakang pecah, dan ditukar dengan plastik bening.

Depi dan Tomi lalu berangkat. Sampai ke perbatasan Sumbar – Jambi, tidak ada masalah. Akan tetapi, sewaktu melintas di depan Mapolres Dharmasraya, Nagari Gunung Medan, keduanya dihadang segerombolan polisi yang melakukan razia cipta kondisi. Melihat banyak polisi, Depi yang membawa pistol dan pisau, panik. Saat mobilnya dihentikan oleh petugas untuk diperiksa surat-surat kendaraannya, Depi tak berhenti. Malah, tancap gas menerobos barisan petugas.

Melihat itu, petugas langsung melakukan pengejaran dan terus berusaha dihentikan. Akan tetapi, Depi terus berlari. Polisi yang tak ingin kehilangan jejak, lalu berkoordinasi dengan Polsek Pulau Punjung, karena Depi kabur ke wilayah hukum Pulau Punjung.

Mendapat informasi, petugas Polsek Pulau Punjung ikut serta mengejar dan menghadang mobil yang dikemudikan Depi. Ketika coba dihentikan, Depi malah mengarahkan mobilnya kea rah petugas. Seorang petugas, nyaris saja ditabrak.

Sampai di Simpang Tiga Kantor Bupati Dharmasraya, Depi yang sudah panik, mengarahkan mobilnya ke arah Sungai Kambut dan langsung memarkirkan mobilnya di rumah warga yang ada di samping Kantor Bupati. Mobil ditinggal begitu saja, sementara dia berjalan kaki ke jalan lintas, dan berencana naik angkutan umum menuju Kota Padang.

”Mungkin karena takut, mobil ditinggal di rumah warga. Namun, berkat kejelian petugas mereka berhasil diamankan,” terang Kapolres Dharmasraya, AKBP Lalu Muh Iwan Mahardan, Jumat (16/10).

Petugas langsung melakukan penggeledahan. Ketika itulah, ditemukan sepucuk senjata api rakitan dan sebilah pisau dari tangan Depi. Keduanya langsung digelandang ke Mapolres Dharmasraya untuk diintrogasi. Niat Depi menjemput tunangannyta, pupus sudah ketika dia ditangkap polisi. Sewaktu ditanya, kenapa kabur, Depi mengaku takut ditangkap sebab dia membawa senjata api. “Saya takut ditangkap pak. Makanya kabur,” ungkap Depi.

Saat ditanya tujuannya kemana, Depi langsung curhat ke polisi. Katanya, dia mau ke Padang, menjemput kekasihnya yang disembunyikan oleh calon kakak iparnya. Depi menyebut sangat mencintai tunangannya itu dan berniat untuk menikah. Tapi, apa daya, cintanya ditolak oleh pihak keluarga tunangannya. Pernikahannya ditentang. Karena Depi terus ngotot, akhirnya keluarga menyembunyikan tunangan Depi, agar tak lagi diganggu.

”Hati siapa yang tak hancur pak. Sudah bertunangan, dan niat mau nikah, malah dilarang. Bahkan, tunangan saya itu disembunyikan. Itu makanya saya pergi ke Padang, untuk menjemput tunangan. Kabarnya disembunyikan di sana,” ucap Depi.

Ketika ditanya, untuk apa pistol rakitan yang dibawanya, Depi juga jujur. Pistol itu, katanya dibeli sekitar lima bulan yang lalu. Awalnya, hanya untuk menakut-nakuti orang yang mengganggu areal tambang ilegalnya. Namun, sekarang ini dibawa untuk jaga diri, sekaligus menembak calon kakak iparnya jika melawan dan tak mau menyerahkan tunangannya. “Kalau dia melawan, saya tembak pakai pistol ini. Memang, saya bawa untuk melakukan penembakan jika tunangan saya tidak diserahkan,” tutur Depi jujur.

Kejujuran itu pula yang akhirnya mengiring Depi ke sel tahanan. Dia dijebloskan ke balik jeruji besi, karena polisi menilai, kelakuan Depi membawa senjata rakitan, melanggar Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951. “Dengan ancaman hukuman berkisar 15 tahun penjara,” ungkap Kapolres Dharmasraya.

Kini, polisi sedang melakukan penyelidikan mendalam. Bisa jadi, senjata itu sudah pernah digunakan Depi untuk berbuat kejahatan. Atau barangkali, dia juga punya niatan lain ke Padang, selain menjemput tunangan, seperti yang diceritakannya. “Akan terus didalami,” ungkap AKBP Lalu Muh Iwan Mahardan yang belum lama menjabat sebagai Kapolres Dharmasraya.

Kini, Depi sudah meringkuk di sel tahanan. Keinginnanya untuk bisa bertemu tunangan, dan membawanya ke Kantor Urusan Agama (KUA) untuk menikah, kandas. Yang ada, Depi malah harus hidup di ruang pengap. Badannya terpenjara, dengan hati yang hancur karena cintanya yang tak sampai.

Nasib Depi juga bisa jadi pelajaran, kalau setiap masalah harus dihadapi dengan kepala dingin. Sebab, segala hal, tak akan selesai kalau penyelesaiannya disertai dengan amarah. Dedi contohnya. Jangankan berakhir bahagia, dia malah harus berhadapan dengan penegak hukum. (hen)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional