Menu

Respon Permintaan Gubernur,Menteri Investasi/BKPM Dukung Pengembangan Industri Pertanian di Sumbar

  Dibaca : 274 kali
Respon Permintaan Gubernur,Menteri Investasi/BKPM Dukung Pengembangan Industri Pertanian di Sumbar
RAPAT KOORDINASI—Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah saat Rapat Koordinasi dengan Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia secara virtual, Jumat (18/6) di Ruang Rapat Gubernur.

PADANG, METRO–Pada kesempatan rapat kordinasi secara virtual, Ju­mat (18/6), Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Mah­yeldi Ansharullah meminta dukungan pengembangan industri produk pertanian di Sumbar, kepada Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil La­hadalia.

“Pada RPJMD 2021-2026, Pemprov Sumbar akan fokus pada bidang pertanian secara luas, pa­ri­wisata dan pendidikan. Kami berharap dukungan terutama untuk pengem­bangan industri produk pertanian,” kata Mahyeldi Ansharullah saat Rapat Koordinasi tentang Peta Peluang Investasi yang siap ditawarkan pada 2021 secara virtual di Ruang Rapat Gubernur.

Mahyeldi Ansharullah juga mengatakan, Pem­prov Sumbar telah meng­alokasikan anggaran 10 persen khusus untuk per­tanian. Hal itu dilakukan karena 57 persen pen­du­duk Sumbar berprofesi sebagai petani dan 24 per­sen pendapatan asli da­erah (PAD) berasal dari sektor pertanian.

Namun, hal itu masih belum cukup. Perlu duku­ngan yang lebih besar agar potensi yang tersedia bisa terus berkembang dan me­nyerap tenaga kerja di daerah. “Potensi yang sa­ngat mungkin untuk dikem­bangkan adalah industri pengolahan kelapa, kopi arabika, gambir dan ka­kao,” ujar Mahyeldi An­sharullah.

Mahyeldi Ansharullah mengatakan, bahan baku untuk tiga komoditas ini tersedia melimpah karena didukung luas lahan yang sangat besar. “Dukungan penyusunan feasibility stu­dy (studi kelayakan) untuk empat potensi ini akan mampu menggerakkan pe­rekonomian di Sumbar,” katanya.

Menanggapi permin­taan Gubernur Sum­bar tersebut, Bahlil Lahadalia langsung me­minta deputi di kemen­teriannya, untuk mencatat dan menin­dak­lanjuti.

“Industri kelapa, gam­bir, kakao dan kopi ini lang­sung menampung me­nam­pung hasil pertanian dari masyarakat. Karena itu perlu dukungan. Siapkan feasibility study dan cari­kan investor,” katanya.

Ia mengatakan, per­tum­buhan ekonomi de­ngan menggenjot inves­tasi, me­mang menjadi target. Tapi hal itu tidak akan banyak artinya jika tidak merata. Jadi investasi yang didu­kung tidak hanya yang be­sar, tetapi juga UMKM yang berhubungan lang­sung de­ngan masyarakat. Inves­tasi itu harus ada multiplier effect-nya pada UMKM dan masyarakat juga.

Bahlil Lahadalia bah­kan langsung mengagendakan untuk datang ke Provinsi Sumbar pada 26 Juni 2021 untuk menggelar rapat ko­or­dinasi tentang in­vestasi.

Sementara itu, Deputi Bidang Pengembangan Ik­lim Penanaman Modal Ke­menterian Investasi/ Ba­dan Koordinasi Penana­man Modal (BKPM) Nurul Ichwan mengatakan, rapat koordinasi yang digelar adalah awal penyusunan peta peluang investasi proyek strategis yg akan ditawarkan pada 2021.

“Ini arahan Presiden pada Menteri untuk me­nyiapkan informasi kom­pre­hensif tentang peluang investasi di daerah untuk ditawarkan pada investor potensial.Kemudahan ini akan memudahkan investor mengambil keputusan menanamkan investasi di Indonesia,” katanya.

Outputnya berbentuk profil proyek feasibility study, infografis, informasi proyek berbasis partial untuk ditampilkan di web, hingga bisa diakses publik.

Tahun 2021 akan di­siapkan 25 peluang inves­tasi yang tersebar pada 20 provinsi. Sektornya di anta­ranya pariwisata, pe­ngem­bangan kawasan dan in­dustri yang terintekrasi serta kawasan penun­jang­nya.

Ia mengatakan pada 2020 ada 23 proyek di 16 provinsi yang disediakan dengan anggaran sekitar Rp80 Miliar. Dengan ang­garan itu total nilai inves­tasinya bisa mencapai 102,7 triliun. Diharapkan tahun ini akan bisa lebih besar lagi.

Kepala Dinas Pena­na­man Modal Pelayanan Ter­padu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Sumbar, Maswar Dedi mengatakan, pihak­nya segera mengusulkan pembuatan feasibility stu­dy terkait industri pengo­lahan kelapa, kopi arabika, gambir dan kakao, sesuai dengan alokasi dana yang disiapkan Kementerian Investasi/BKPM.

“Kenapa komoditi itu yang kita usulkan. Karena di Sumbar potensi kelapa, kopi, kakao dan gambir sangat memungkinkan di­kembangkan dengan mem­bangun industri pengola­hannya,” jelasnya.

Maswar Dedi optimis melihat kesiapan daerah yang bisa menjamin in­vestasi dapat berjalan aman. Termasuk juga ter­kait penyediaan lahan. Mi­salnya, industri pengola­han kelapa di kawasan Ka­bu­paten Padangparia­man, karena daerah terse­but menjadi sentral terbe­sar kelapa di Sumbar. Se­mu­anya tentunya terga­tung kajian studi kelayakan yang nantinya dilak­sa­na­kan oleh Kementerian In­ves­tasi/BKPM,” pung­kas­nya.

Maswar Dedi me­nye­butkan, realisasi investasi di Provinsi Sumbar periode Januari-Maret 2021 men­capai 31,59 persen. Dengan nominal Rp1,5 triliun dari target Rp4,7 triliun, atau setara 48,07 persen.

Jumlah itu dengan rin­cian, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) se­nilai Rp 1,4 triliun dari target Rp2,9 triliun. Ditambah dengan Penanaman Modal Asing (PMA) senilai 5,8 juta dolar dari targer 135 juta dolar, atau 4,32 persen.

Dari jumlah tersebut, ternyata investasi di sektor primer, seperti perkebu­nan, pertanian, perikanan, kehutanan dan pertam­bangan masih minim. Yak­ni, senilai Rp31,4 miliar. Angkah itu yakni sektor perkebunan Rp26,3 miliar dan pertambangan senilai Rp5,1 miliar.

Investasi cukup besar yakni pada sektor sekun­der, yakni perindustrian. Disek­tor ini investasi di Sumbar hingga Maret men­capai Rp521,5 miliar. Sedangkan investasi ter­besar pada sekto tersier. Seperti, listrik, gas dan air. Kontruksi, per­dagangan dan reparasi. Di sektor ini investasi sudah mencapai Rp865 miliar le­bih. “Mudah-mudahan du­kungan peme­rintah pusat dapat men­dorong investasi kita di­sektor perkebunan dan pertanian,”sebutnya. (fan/adv)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional