Menu

Rentan Membawa Penyakit, Jangan Beli Sapi yang Hidupnya Lepas

  Dibaca : 111 kali
Rentan Membawa Penyakit, Jangan Beli Sapi yang Hidupnya Lepas
ILUSTRASI

AIAPACAH, METRO
Warga Kota Padang yang hendak membeli sapi kurban diharapkan tidak membeli sapi lepas dan makan sembarangan. Karena sapi tersebut dikhawatirkan membawa bibit penyakit.

Tak hanya sapi yang hidup lepas di tempat pembuangan sampah, sapi yang berkeliaran bebas pun diprediksi bisa membawa bibit penyakit jika dagingnya dikonsumsi.

“Memang harus berhati-hati. Jangan beli sapi yang hidupnya lepas. Bisa berbahaya. Kita perlu memastikan dulu bahwa statusnya tidak membawa bibit penyakit,” sebut kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Syahrial Kamat dalam diseminasi informasi yang digelar di Media Center Dinas Kominfo Padang melalui aplikasi Zoom, Rabu (15/7).

Artinya terang Syahrial, sebelum membeli sapi, perlu dilihat dulu latar belakang pemeliharaannya, apakah hidup lepas atau dipelihara dengan baik. Sapi lepas, bisa rentan memakan plastik atau zat-zat berbahaya lainnya. Sementara sapi yang dipelihara dengan baik akan diberi makan rumput.

Selain melihat latar belakang terang Syahrial, tampilan fisik sapi juga harus diperhatikan. Yakni bulu mengkilat, tidak kurus, tidak diare, hidung, anus tidak berdarah, gerak lincah, tansung tidak patah.

Setelah itu, sapi yang dikurbankan menurut Syahrial Kamat harus berumur minimal 2 tahun. Sementara domba minimal 1 tahun atau sudah berganti gigi. “Artinya ciri-ciri fisik perlu kita perhatian. Jangan sampai membeli sapi sakit,” tandasnya.

Sebelumnya, Syahrial mengungkapkan, bahwa tim dokter hewan dari Dinas Pertanian juga akan mencek dan mengambil sampel hewan kurban saat hari raya Idhul Adha. Hal ini dilakukan agar daging kurban yang diterima masyarakat dalam kondisi sehat dan aman.

Syahrial mengungkapkan, jika daging kurban berpenyakit, akan berdampak pada manusia yang memakannya. “Kita juga akan coba cek dan ambil sampel, apa hewan kurban sehat atau ditemukan penyakit, sebelum dan saat hari raya Idul Adha itu, tim dokter hewan kita akan turun untuk memastikannya,” tukasnya.

Syahrial memprediksi terjadi pengurangan jumlah hewan yang dikurbankan masyarakat tahun ini. Penurunan itu diperkirakan mencapai 10 sampai 20 persen. Tahun 2019 lalu katanya, jumlah hewan yang dikurbankan sebanyak 13 ribu ekor. Tahun ini, angka pastinya baru dapat diketahui sehari sebelum lebaran.

“Berkemungkinan berkurang, karena ekonomi masyarakat sedang sulit. Sekarang masyarakat kita lebih fokus dulu memenuhi kebutuhan harian mereka,” tandas Syahrial.

Saat ini stok sapi menurutnya cukup di tingkat toke sapi. Mereka membelinya dari luar daerah. Seperti Lampung, Pesisir Selatan, Bukittinggi dan daerah pemasok lainnya.

“Stok sapi banyak. Malah mungkin banyak yang berlebih,” tukas Syahrial.

Sementara itu, Sekretaris MUI Kota Padang, Mulyadi Muslim mengatakan, sapi yang dikurbankan haruslah memenuhi syarat secara fisik. Sapinya harus sehat. Saat ini nilai kurban satu orang adalah sebesar Rp2,2 juta hingga Rp2,5 juta. (tin)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

IKLAN

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional