Close

Rekosntruksi Kakak Beradik Bacok Paman hingga Tewas, Dipicu Perselisihan Masalah Batas Tanah Rumah di Pasaman

adegan— Tersangka Armin dan Suandi memperagakan adegan membacok pamannya hingga tewas dalam rekonstruksi yang dilaksanakan di Mapolres Pasaman.

PASAMAN, METRO–Satreskrim Polres Pasaman menggelar rekonstruksi kasus penganiayaan terhadap korban Sukran Ritonga (48) hingga tewas bersimbah darah akibat dibacok oleh dua kemenakan­nya yang di depan Masjid Nurul Iman, Jorong Sentosa, Kam­pung Sukadamai Na­gari Persiapan Panti Utara Kecamatan Panti, bebe­rapa waktu lalu.

Rekonstruksi tidak dilaksanakan di lokasi kejadian, namun di halaman Mapolres Pasaman dengan menghadirkan dua tersangka yakni kakak beradik bernama Armin (39), dan Suandi (36) serta saksi-saksi. Selain itu, rekonstruksi juga disaksikan oleh Jaksa dari Kejaksaan Nege­ri Pasaman, Selasa (28/9).

Dalam rekonstruksi itu, kedua tersangka memperagakan 34 adegan mulai dari mereka bertemu korban hingga mereka berdua membacok pamannya secara brtutal hingga tewas. Bahkan, dalam reka adegan itu, kedua tersangka juga sempat membacok warga bernama Marahadi (41) yang hanya berniat untuk melerai.

Kasat Reskrim Polres Pa­saman, Iptu Nofrizal me­ngatakan pihaknya meng­gelar rekontruksi sebanyak 34 adegan dugaan penganiayaan mengakibatkan korban Sukran Ritonga me­n­inggal. Dari hasil rekonstruksi, terungkap kalau pembunuhan itu dipicu adanya permasalahan keluarga.

“Motifnya karena ada masalah keluarga. Kedua tersangka merupakan ka­kak beradik, sedangkan korban yang meninggal adalah mamaknya. Kasus dugaan penganiayaan dilakukan kedua tersangka terjadi pada hari Rabu (7/7) sekitar pukul 19.15 WIB,” kata Iptu Nofrizal.

Menurut Iptu Nofrizal, dalam reka adegan itu diperankan langsung oleh kedua tersangka, saksi-saksi,  korban lainnya serta dihadiri oleh Kejaksaan Negeri Pasaman. Sedangkan korban yang meninggal diperagakan oleh peran pengganti.

”Adegan rekonstruksi diawali dengan pertengkaran sampai penusukan hing­ga korban meninggal dunia. Saat proses rekonstruksi tidak ada kendala. Rekonstruksi adegan bukan diadakan di TKP untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada lokasi kejadian, makanya kita alihkan penuh di Polres Pasaman,” ungkap Iptu Nofrizal.

Menurut Ipti Nofrizal, stelan dilakukan rekonstruksi, kedua tersangka kembali diamankan di Polres Pasaman untuk proses hukum lebih lanjut. Menurutnya, proses rekonstruksi dilakukan untuk melengkapi berkas perkara dan selanjutnya bakal dilimpahkan ke Kejaksaan.

“Kedua tersangka dibe­rikan Pasal yakni Pasal 340, Pasal 338 KHUP, Pasal 351 KHUP Ayat 1 dan 3 ancaman hukuman 15 Tahun penjara dan maksimal hukuman mati,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kakak beradik tega membacok pamannya secara brutal meng­g­unakan parang hingga tewas di depan Masjid Nurul Iman, Jorong Sentosa, Kampung Sukadamai ll, Nagari Persiapan Panti Utara (Pantura), Kecamatan Panti Kabupaten Pasaman, Rabu (7/7) sekitar Pukul 19.15 WIB.

Korban yang diketahui bernama Cutran (50) itu dibacok oleh dua kemenakannya saat baru saja me­nunaikan shalat maghrib di masjid tersebut. Saking brutalnya, kakak beradik tersebut juga membacok warga bernama Marahadi (41) yang hanya berniat melerai.

Peristiwa itu sontak mem­buat warga dan jemaah masjid dibuat ketakutan dan geger melihat aksi kakak beradik yang sadis tersebut. Usai menghabisi pamannya, kakak beradik Armin (37) dan Suandi (31) pergi begitu saja meninggalkan korban yang terkapar bersimbah darah.

Setelah itu, warga berusaha menyelamatkan korban Cutran dan Marahadi dengan membawanya ke Rumah Sakit Yarsi Panti untuk mendapatkan perawatan. Namun, sayangnya, korban Cutran dinyatakan sudah meninggal dunia dengan kondisi luka bacokan di leher dan sekujur tubuhnya.

Sedangkan korban Marahadi masih dapat diselamatkan dan masih dirawat intensif atas luka bacok yang dialaminya. Pascakejadian, Polisi yang mendapatkan laporan adanya kejadian pembunuhan itu, langsung menangkap ka­kak beradik tersebut dan menyita barang bukti pa­rang yang digunakan untuk menghabisi korban.

Kapolsek Panti Iptu Edwin mengatakan, dari hasil pemeriksaan, aksi penganiayaan yang berujung tewasnya korban Cutran yang dilakukan oleh kakak beradik ini dipicu adanya masalah keluarga yaitu batas tanah rumah. Sebelumnya, mereka juga sudah terlibat perselisihan, namun masalah itu tak kunjung selesai.

“Korban dan kedua pelaku hubungan keluarga yang sangat dekat, yaitu paman dan kemenakan. Keduanya menganiaya kor­ban dengan menguna­kan senjata tajam. Sehingga mengakibatkan sejumlah luka-luka di bagian leher korban, perut dan sekujur badan korban,” kata Iptu Edwin, Kamis (8/7).

Dijelaskan Iptu Edwin, korban usai kejadian kata dia sempat dilarikan ke Rumah Sakit Yarsi Panti untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun, saat perjalanan ke RS Yarsi nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan me­ninggal dunia.

“Tidak hanya membu­nuh korban Cutran, kedua pelaku juga menganiaya satu korban Marahadi yang juga warga Suka Damai II yang pada saat kejadian berniat melerai pengania­yaan tersebut. Sementara untuk korban Marahadi mengalami sejumlah luka-luka dibagian badannya dan saat ini tengah menjalani perawatan intensif di RS Yarsi Panti,” jelas Iptu Edwin.

Iptu Edwin menambahkan, setelah mendapat laporan masyarakat, pihaknya langsung bergerak ke lokasi dan mengamankan kedua pelaku dan barang bukti parang. Saat ini kedua pelaku sudah diamankan di Polres Pasaman untuk pemeriksaan lebih lanjut.

“Berdasarkan keterangan saksi-saksi, korban dibacok di depan masjid saat baru saja selesai menunsaikan shalat maghrib. Di depan masjid, korban su­dah ditunggu oleh kedua pelaku dan sempat terlibat adu mulut. Ketika itulah, kedua pelaku langsung membacok korban secara brutal hingga korban terkapar bersimbah darah,” ujar Iptu Edwin. (mir)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top