Menu

Rekam Jejak Pelatih Belanda Kian Tergerus, Robert Alberts Hanya yang Tersisa

  Dibaca : 351 kali
Rekam Jejak Pelatih Belanda Kian Tergerus, Robert Alberts Hanya yang Tersisa
PELATIH BELANDA— Rekam Jejak Pelatih Asal Belanda di Indonesia hanya Robert Albert yang tersisa.

Eksistensi pelatih asal Belanda kian tergerus di Indonesia. Yang tersisa tinggal Robert Alberts. Dia satu di antara arsitek tersukses. Pria berusia 65 tahun tersebut berhasil mengantar Arema FC meraih trofi Liga Indonesia musim 2009-2010. Namanya makin harum setelah torehan tersebut. Robert Alberts diperebutkan banyak klub. PSM Makassar menjadi tim yang beruntung mendapatkan jasanya untuk kompetisi 2010-2011. Hanya bertahan semusim, pelatih kelahiran Amsterdam ini hengkang ke Sarawak FA untuk menetap empat tahun di sana.

Robert balik lagi ke Indonesia pada musim 2016. Dia kembali ke pelukan PSM, yang sepertinya penasaran dengan tangan dinginnya. Dia terlanjur dicintai publik Makassar.

Pencapaian terbaiknya adalah membawa tim berjulukan Pasukan Ramang ini menjadi runner up Liga 1 2018. Pada akhir musimnya, Robert cabut dengan dalih masalah kesehatan.

Hanya berselang beberapa bulan setelah perpisahannya dengan PSM, Robert berpaling ke Persib Bandung. Dia masih awet hingga musim ini. Pada musim pertamanya, dia hanya mampu membawa tim kebanggaan Bobotoh itu bercokol di peringkat keenam. Selain Robert Alberts, Henk Wullems menjadi menir Belanda yang berjaya ketika berkarier sebagai pelatih di Indonesia. Dia membesut Mastrans Bandung Raya pada 1995-1996, Timnas Indonesia pada 1996-1998, PSM Makassar pada 1999-2000 dan 2006, Persikota Tangerang pada 2002, Arema Malang pada 2003, dan Persegi Bali FC pada 2007-2008.

Wullems menjadi sedikit pelatih asing yang pernah dua kali juara Liga Indoensia bersama dua klub berbeda. Dia melakukannya bersama Mastrans Bandung Raya pada 1995-1996 dan PSM pada 1999-2000. Wullems juga hampir mengantar Timnas Indonesia merebut medali emas SEA Games 1997. Sayang, kesempatan itu gagal diwujudkannya setelah kalah 2-4 dari Thailand melalui babak adu penalti.

Karier Wullems seakan tenggelam setelah membawa PSM ke singgasana Liga Indonesia. Dia dipecat pada 2001 setelah Pasukan Ramang menjadi bulan-bulanan di Liga Champions Asia; kalah 1-3 dari Shandong Luneng (China), 1-8 dari Suwon Samsung (Korea Selatan), dan 0-3 dari Jubilo Iwata.

Persikota merekrut Wullems pada 2002 sebelum dia hengkang ke Arema FC pada 2003 dan kembali ke PSM untuk putaran kedua 2006. Nama pelatih berusia 84 tahun tersebut benar-benar tenggelam saat menangani Persegi Bali FC pada 2007. Kabarnya, gajinya pernah ditunggak selama enam bulan. Sejarah mencatat, tidak banyak pelatih asal Belanda yang malang melintang di kancah sepak bola nasional. Wiel Coerver menjadi nama berikutnya.

Wiel Coerver salah satu pelatih beken asal Belanda yang didatangkan PSSI untuk menukangi Timnas Indonesia di SEA Games 1979 Jakarta. Ia berhasil mengantarkan Indonesia meraih medali pertama, meski bukan emas setelah kalah 0-1 dari Malaysia di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.

Sebelum menukangi Tim Garuda, Coerver pernah melatih klub NIAC Mitra pada kompetisi Galatama 1980-1982. Bekal pengalaman pernah membawa Feyernoord juara Piala UEFA 1973-1974 menjadi alasan NIAC Mitra tertarik mendatangkan Coerver. Banyak cerita menarik saat Wiel Coerver melatih Tim Merah-Putih. Seleksi skuat SEA Games 1979 dimulai setelah Kejurnas PSSI Utama musim 1978-1979 yang berakhir pada Januari 1979. Sebanyak 100 pemain dari klub Perserikatan dan Galatama dikumpulkan Wiel Coerver. Akhirnya terpilih 30 pemain untuk pelatnas SEA Games edisi kedua yang diikuti Indonesia. “Proses dari mulai seleksi hingga Pelatnas sangat berat. Mungkin untuk era sekarang berbeda. Dulu kami menjalani karantina, tidak ada hiburan, dan latihan sehari tiga kali. Kami juga menjalani latihan fisik pada siang hari,” kata Djoko Malis salah satu anak didiknya di timnas kepada Bola.com dalam sebuah kesempatan.

Pemain menjalani pelatnas sejak Juli hingga September 1979. Indonesia menghadapi empat negara yang menjadi peserta cabang sepak bola, yakni Malaysia, Thailand, Burma (sekarang Myanmar), dan Singapura. Indonesia menghadapi Malaysia yang mengandalkan sederet bintang SEA Games 1977, seperti Jamal Nasir Ismail, Mokhtar Dahari, Hanis Devandran Abdullah, Soh Chin Aun, Santokh Singh, dan Shukor Saleh. Namun, bagi publik Malaysia pada waktu itu, Timnas Indonesia juga dianggap sebagai tim yang bertabur bintang.
Sementara skuat Timnas Indonesia dihuni oleh nama-nama seperti Haryanto, Simson Rumahpasal, Berti Tutuarima, Tinus Heipon, Wayan Diana, Ronny Pattinasarany, Dede Sulaiman, Rudy W. Keltjes, Risdianto, Rully Nere, Iswadi Idris, Poerwono, Ishak Liza, Rae Bawa, Ghusnul Yakin, dan Djoko Malis. Sayang medali emas gagal didapat Tim Merah-Putih sekalipun mendapat dukungan dari suporter yang memenuhi Senayan. Selepas itu, Wiel Coerver dipecat.

Lepas kegagalannya di SEA Games, Wiel Coerver pergi dengan banyak meninggalkan fondasi pembinaan di Indonesia. Ia menciptakan metode Pyramid of Player Development yang mencakup penguasaan bola individu, kecepatan, dan permainan grup kecil, dan prosesnya lebih fokus pada setiap individu. Lalu, seperti apa penerapan metode latihan itu pada persiapan SEA Games 1979?

Wiel Coerver
Wiel Coerver menggunakan cara yang lebih simpel pada SEA Games 1979. Program latihan utama adalah fisik dan berlatih dengan menggunakan bola. Metode ini berbeda dengan era Anatoli Polosin pada SEA Games 1991, yang terkenal dengan nama shadow football, yakni berlatih tanpa bola untuk menguatkan insting bermain.

“Wiel Coerver menggunakan cara yang simpel, kami selalu berlatih dengan bola, memaksimalkan kedua kaki, dan dengan tingkat frekuensi tinggi. Tapi, ia menjadikan kami memiliki karakter kuat, baik fisik maupun mental. Kunci utamanya adalah kerja keras,” kata Dede Sulaiman. Mental dan karakter pemain Indonesia juga dibentuk oleh konsistensi dan keteguhan hati para pemain. Saat pelatnas di Lembang, Bandung, mereka tak mendapat fasilitas sekelas hotel, seperti yang dialami pemain timnas era sekarang. Bahkan, saat ada 30 pemain di pelatnas, beberapa di antara mereka tidur di garasi karena jumlah kamar tak cukup.

Djoko Malis, yang menjadi striker pada waktu itu, mengatakan, Wiel Coerver tak pernah memaksa pemain Indonesia mengikuti keinginannya dalam suatu pertandingan. “Saat latihan kami harus detail mengikuti instruksinya, tapi kami justru diberi kebebasan berimprovisasi dalam pertandingan. Tapi memang, saat sesi latihan sangat disiplin, menuntut konsentrasi dan kekuatan fisik sehingga banyak yang tidak kuat,” kata Djoko. Para pemain memeras keringat mengikuti metode latihan ala Wiel Coerver. Namun, para pemain menganggap sosok sang nakhoda sebagai seorang bapak yang mengasuh anak-anaknya secara total. Ia akan pasang badan untuk anak buahnya.

Foppe de Haan
Foppe de Haan sempat menjadi pelatih kepala Timnas Indonesia U-23 saat berlaga di Asian Games 2006 Qatar. Pelatih yang sukses mengantarkan Belanda juara Piala Eropa U-21 2006 dan 2007 itu ternyata tak bertaji menangani Tim Garuda Muda. Pelatih yang menangani SC Heerenveen selama 19 tahun (1985-2004) hanya dapat waktu empat bulan menempa para pemain yang menjalani TC di negaranya, Belanda. Ia didampingi pelatih lokal Bambang Nurdiansyah.

Sayang tempaan yang diberikan sang mentor malah membuat Timnas Indonesia U-23 yang dihuni pemain belia macam Bobby Satria serta Ahmad Bustomi jadi bulan-bulanan di penyisihan. Timnas dipermak 0-6 oleh Irak, kalah 1-4 dari Suriah serta hanya bermain imbang 1-1 kontra Singapura. Setelah Asian Games ia diberhentikan Ketua Umum PSSI saat itu, Nurdin Halid.Pada tahun 2007, de Haan curhat dengan susahnya melatih Timnas Indonesia U-23. Ketika itu, dia tengah berlibur di tengah penyelenggaraan SEA Games 2017 di Jakarta dan Palembang.

“Pemain-pemain Indonesia sudah salah urus sejak usia dini. Mereka tidak mendapat bekal latihan cukup. Di level U-23 semestinya saya sudah fokus melatih mereka memahami strategi sepak bola, tapi pada kenyataannya saya harus melatih mereka dengan teknik-teknik dasar yang semestinya sudah mereka pelajari saat berusia 15 tahun,” katanya.

Pada kesempatan berbeda saat diwawancarai RNW ia membuka kartu bahwa ada pola menitip pemain di Timnas Indonesia. “Di sana, ada kalangan yang mempertaruhkan prestise di timnas. Meski timnya lemah, mereka tidak mau tahu. Yang penting hasilnya harus bagus. Kalau tim gagal, yang lebih mudah disalahkan adalah pelatih supaya dia sendiri terhindar.” De Haan mengatakan sewaktu menangani Indonesia U-23, dirinya tidak bisa memanggil pemain sesuai strategi yang akan diterapkan.

Pria kelahiran 6 Juni 1943 tersebut mengatakan sewaktu menangani Indonesia U-23, dirinya tidak bisa memanggil pemain sesuai strategi yang akan diterapkan. Bahkan, pelatih yang pernah dua kali membawa Belanda menjuarai Euro U-21 ini menduga adanya pemain titipan dalam timnas. “Kemungkinan ada pengaruh kolusi atau nepotisme. Sebab, belakangan kami dengar ada pemain-pemain lebih bagus yang tidak terseleksi,” sambungnya

Wim Rijsbergen
Wim Rijsbergen datang jadi pelatih Timnas Indonesia dengan rapor karier cemerlang. Ia legenda hidup Feyenoord Rotterdam dan menjadi bagian Timnas Belanda yang menjadi runner-up pada Piala Dunia 1974 dan Piala Dunia 1978. Berposisi sebagai bek, Wim sempat bermain di Liga sepak bola Amerika Utara, untuk New York Cosmos. Rijsbergen memulai kariernya di PEC Zwolle pada 1970, dan mengakhirinya pada tahun 1986 di FC Utrecht.

Ia didapuk sebagai pelatih Timnas Indonesia oleh PSSI kepengurusan Djohar Arifin dengan reputasi jadi asisten pelatih Timnas Trinidad dan Tobago di Piala Dunia 2006.

Rijsbergen melatih timnas Indonesia mulai Juli 2011, menggeser posisi Alfred Riedl yang baru saja mengantarkan Indonesia menjadi runner up Piala AFF 2010. Dia dikontrak PSSI yang ketika itu selesai menyelenggarakan Kongres Luar Biasa (KLB) di Solo. Dengan pengurus PSSI yang baru, Wim yang sebelumnya melatih PSM Makassar, diangkat jadi pelatih kepala timnas senior.

Penunjukannya langsung membuat penggemar sepak bola nasional penasaran. Tetapi dalam enam bulan masa baktinya, Wim Rijsbergen tidak menghadirkan prestasi. Ia gagal di babak awal Kualifikasi Piala Dunia 2014. Total dalam 11 pertandingan di bawah arahannya, Indonesia mencatat dua kali menang, tiga kali seri, dan enam kali kalah. Semua di pertandingan resmi nternasional.

Yang membuat aneh publik Indonesia ketika itu memang Rijsbergen sangat jarang memberi instruksi. Ia justru selalu terlihat asyik mencatat setiap kali kejadian di atas lapangan. Hal itu yang memicu opini negatif publik, ditambah lagi timnas tidak menunjukkan permainan yang mumpuni. (*/boy)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional