Menu

Refleksi 1 Tahun Penetapan WTBOS Oleh UNESCO, Nilai Budaya Warisan yang Perlu Dirawat dan Dilestarikan

  Dibaca : 241 kali
Refleksi 1 Tahun Penetapan WTBOS Oleh UNESCO, Nilai Budaya Warisan yang Perlu Dirawat dan Dilestarikan
Warisan Dunia Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) yang ditetapkan oleh UNESCO.

Senin, 6 Juli 2020, bertepatan satu tahun ditetapkannya Warisan Dunia Tambang Batubara Ombilin Sawahlunto (WTBOS) oleh UNESCO, dengan nama Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OMCHS) Wali Kota Sawahlunto, Deri Asta menjelaskan, selama satu tahun penetapan WTBOS oleh UNESCO ini, Pemko Sawahlunto telah melakukan perawatan dan pemeliharaan terhadap 45 persen WTBOS. “Pemko Sawahlunto tidak mengadakan pembaharuan terhadap struktur bangunan lama yang dibangun di WTBOS pada zaman kolonial. Tetapi melakukan perawatan dan pemeliharaan terhadap 45 persen WTBOS,” ujar Deri Asta.

Dari 17 rekomendasi UNESCO pascaditetapkannya WTBOS, enam rekomendasi tanggungjawab Pemko Sawahlunto. Dari enam rekomendasi tersebut, empat rekomendasi telah dilaksanakan sebagai syarat pembentukan Badan Pengelola WTBOS.”Kita sudah memenuhi empat syarat dari rekomendasi tersebut dan dua lagi sedang dalam progres ke pemerintah pusat,” ringkas Deri Asta.

Pemko Sawahlunto, menurutnya, terus berkoordinasi dengan enam kabupaten kota yang dilalui oleh WTBOS. Termasuk juga dengan Pemprov Sumbar, agar segera terbentuk Badan Pengelola WTBOS melalui Peraturan Presiden (Perpres). “Dengan adanya Badan Kelola WTBOS, maka Pemko Sawahlunto bisa membuat rencana untuk melestarikan dan merawat WTBOS,” jelasnya.

Sementara, Wakil Wali Kota Sawahlunto, Zohirin Sayuti menyebutkan, Pemko Sawahlunto telah melaksanakan langkah-langkah tindaklanjut pascasatu tahun WTBOS oleh UNESCO.

“Kita juga telah melakukan upaya pelestarian di setiap atribut warisan dunia. Serta pemberian narasi pada atribut warisan dunia di Kota Sawahlunto dan melakukan update peta/foto udara kawasan warisan dunia,” kata Zohirin.

Zohirin mengungkapkan, sebenarnya pekerjaan utama dalam upaya menjaga komitmen warisan dunia ini, ada pada Badan Pengelola. Namun, karena Badan Pengelola ini belum dibentuk oleh pemerintah pusat, maka Pemko Sawahlunto berinisiatif membentuk tim kecil dalam upaya pelestarian. “Tim ini pekerjaannya hampir sama dengan Badan Pengelola.

Namun cakupan pekerjaannya sebatas di lingkungan Kota Sawahlunto saja. Tim tersebut sudah banyak bekerja melengkapi rekomendasi yang diminta oleh UNESCO,” terang Zohirin melalui pesan WhatsApp.

Zohirin menambahkan, Pemko Sawahlunto juga sudah mengusulkan kepada pemerintah pusat, agar WTBOS masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan RIPP (Rencana Induk Pengembangan Pariwisata) pusat. “Alhamdulillah, ini sudah ditampung dalam RPJMN 2020 2025 dan RIPP pusat,” ungkapnya. “Untuk percepatan pembentukan Badan Pengelola WTBOS, kita sudah beberapa kali mengadakan rapat dengan pemerintah pusat dan Pemprov Sumbar. Kita juga sudah mengundang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan beserta dirjend dan direkturnya, datang ke Kota Sawahlunto untuk percepatan, bersama Pemprov Sumbar dan daerah terkait. Semoga sebelum akhir tahun 2020 Badan Pengelola WTBOS dapat terbentuk,” harap Zohirin.

Sementara, memeringati satu tahun penetapan WTBOS oleh UNESCO, Pemprov Sumbar melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Peninggalan Bersejarah dan Permuseuman Kota Sawahlunto, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Provinsi Sumbar mengadakan web seminar (webinar) bertajuk “Refleksi Satu Tahun Warisan Dunia”, Senin (6/7).

Webinar diawali hantaran kata oleh Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, Gemala Ranti dan dibuka langsung, Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno. Bertindak sebagai Keynote Speaker, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemdikbud RI, Hilmar Farid.

Narasumber webinar yang dimoderatori Dosen Fakultas Ilmu Budaya Uiniversitas Andalaas (Unand), Pramono, terdiri dari, Associate Proffesor di Departement Arsitektur, Sekolah Desain dan Lingkungan National University of Singapore, yang juga Juri UNESCO Asia Padific Awards untuk Pelestarian Budaya, Prof. Johannes Widodo.

Sedangkan penanggap terdiri dari, Nyoman Shuida, Deputi V Bidang Kebudayaan, Kemenko PMK, Arviyan Arifin, Direktur Utama PT. Bukit Asam, Didiek Hartantyo, Direktur utama PT KAI, Zulfikri, Direktur Jenderal Perkeretaapian, Kementerian Perhubungan, Rida Mulyana, Direktur Jenderal Minerba, Kementerian ESDM.

Penanggap lainnya, kepala daerah tujuh kabupaten kota, yakni, Irdinansyah Tarmizi (Bupati Tanah Datar), Gusmal (Bupati Solok), Ali Mukhni (Bupati Padang Pariaman), Mahyeldi Ansharullah, (Walikota Padang), Deri Asta (Walikota Sawahlunto), Fadly Amran (Walikota Padang Panjang), Zul Elfian (Walikota Solok).

Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno mengatakan, refleksi satu tahun penetapan WTBOS oleh UNESCO dijadikan intropeksi sekaligus momentum evaluasi apa yang dilakukan dan dicapai. Terutama menindaklanjuti pengelolaan warisan dunia terhadap setiap kepentingan. Mulai dari kepentingan pemerintah pusat, Pemprov Sumbar, BUMN, dan kabupaten kota.

Irwan Prayitno juga mengatakan, WTBOS ditetapkan pada Sidang Komite ke-43 UNESCO, 6 Juli 2019 di Kota Baku, Azerbaijan. Warisan dunia ini memberikan manfaat banyak. Di antaranya, mengandung ilmu pengetahuan, kearifan lokal dan bisa dijadikan manfaat, pendorong, pemacu dan mempercepat apa yang dicapai.

Penetapan WTBOS oleh UNESCO, menjadikan upaya promosi memperkenalkan Provinsi Sumbar. “Kita bangga. Selain destinasi, WTBOS juga jadi nilai budaya warisan leluhur yang bisa kita jaga dan pelihara sampai sekarang,” terangnya.

Irwan Prayitno mengimbau seluruh pihak, agar terus menjaga dan memelihara WTBOS ini. “Apa yang kita raih tidak sekedar mendapatkan penghargaan. Tetapi berdampak kepada ekonomi, kesejahteraan masyarakat. Ini momen memperkenalkan Provinsi Sumbar dan Kota Sawahlunto pada dunia,” terang Irwan Prayitno.

Irwan Prayitno juga menyebutkan, masih banyak ruang untuk mengevaluasi hal yang belum sesuai harapan. “Kita terus berupaya untuk menjadikan warisan dunia agar menjadi kepentingan kita bersama. Walaupun sudah menjadi warisan dunia, tetapi bengkalainya masih banyak,” ujarnya. “Bengkalai ini harus kita tuntaskan sebelum tahun 2021. Masih ada waktu untuk kita lakukan perbaikan. Jangan sampai kehilangan kepercayaan dari kewenangan yang diberikan. Mari bersama-sama berkomitmen untuk menjaga warisan budaya dunia ini,” harap Irwan Prayitno. (**)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

IKLAN

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional