Menu

Raih Pendanaan 3 Bank Internasional, Konstruksi PLTS Terapung Terbesar di Asia Tenggara Dimulai

  Dibaca : 162 kali
Raih Pendanaan 3 Bank Internasional, Konstruksi PLTS Terapung Terbesar di Asia Tenggara Dimulai
Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Pahala Nugraha Mansury.

JAKARTA, METRO–Komitmen PT PLN (Per­­sero) untuk me­ning­katkan bauran energi baru dan terbarukan (EBT) men­dapatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk institusi perbankan internasional. Salah satunya, melalui proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Cirata yang telah mencapai ke­sepakatan financial close pada 2 Agustus 2021.

 Sindikasi tiga bank internasional yaitu Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC), Societe Generale dan Standard Chartered Bank siap mendanai pembangunan PLTS terapung terbesar di Asia Tenggara ini dengan nilai sekitar USD 140 juta. Ditargetkan, PLTS berkapasitas 145 MWAc tersebut akan beroperasi komersial (Com­mercial Operation Date/COD) pada November 2022.

 Direktur Utama PT PL­N (Persero) Zulkifli Zaini menyampaikan, pencapaian tahap financial close ini merupakan hasil dukungan penuh PLN sebagai pembeli listrik PLTS Cirata dan PT PJB (Pembangkitan Jawa Bali), selaku induk dari PT PJB Investasi (PJBI) dan Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi (PT PMSE).

 Zulkifli pun optimistis pembangkit ramah ling­kungan ini bisa beroperasi komersial sesuai jadwal pada akhir 2022. Kehadiran dari PLTS Terapung Cirata akan menjadi revolusi pe­ngembangan EBT di dalam negeri, mengingat pembangkit listrik ini dapat mengimbangi 214.000 ton emisi karbon dioksida.

 Pembangunan proyek strategis nasional yang juga masuk dalam pilar “GREEN” transformasi PL­N ini diharapkan dapat berkontribusi dalam pencapaian target bauran e­nergi baru terbarukan nasional sebesar 23 persen pada 2025. “Keberhasilan pengembangan proyek ini, ke depannya diharapkan akan mendorong proyek-proyek terobosan di bi­dang EBT dengan harga yang kompetitif,” ungkap Zulkifli.

 Diketahui, harga tenaga listrik dari PLTS ini cu­kup kompetitif, yakni sebesar USD 5,8 Cent / kilowatt hour (kWh).

 Adapun, PLTS Terapung Cirata akan dijalankan oleh PMSE (Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi) yang merupakan Project Company hasil bentukan dari konsorsium cucu usaha PLN, yaitu PJBI dengan porsi saham 51 persen dengan perusahaan asal Uni Emirat Arab, Masdar dengan porsi saham 49 persen.

 Selain dari sisi pe­ngem­bangan EBT, PLTS Terapung yang ditargetkan bisa menghasilkan energi 245 juta kWh per tahunnya ini memegang peranan penting dalam elektrifikasi dan sisi pengembangan Sumber Daya Manusia. Pembangkit yang menempati area seluas kurang lebih 200 hektare di Waduk Cirata ini akan memasok listrik untuk 50.000 rumah serta menyerap tenaga kerja hingga 800 orang.

Direktur Utama PT PJB Gong Matua Hasibuan, menyampaikan rasa bangganya atas kerja keras dari PJBI dan Masdar yang ber­kolaborasi dengan sangat baik. Sehingga proses pendanaan atas proyek ini didapatkan dalam waktu yang tepat.

 Dia juga menyampaikan rasa terima kasih untuk para stakeholder yang telah mendukung proyek ini, khususnya kepada kementerian terkait, peme­rintah daerah setempat dan seluruh pihak yang telah terlibat.

 ”Kami optimistis sinergi yang sangat baik bersama para stakeholder da­pat terus ditingkatkan, sehingga proyek ini mampu mem­berikan kontribusi yang cukup signifikan da­lam pengembangan bisnis EBT di Indonesia,” ujar Gong Matua Hasibuan.

 Dia berharap, kehadiran proyek ini dapat menjadi pionir dan mampu me­nyulut pengembangan PL­TS Terapung yang dapat dikembangkan di waduk lain di wilayah Indonesia.

 Sejak penandatanga­nan kontrak jual beli listrik ( Power Purchase Agreement /PPA) pada 12 Januari 2020 lalu, Proyek PLTS Apung terbesar di Asia Tenggara ini terus memperoleh dukungan dari ber­bagai stakeholder.

 Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BU­MN) Pahala Nugraha Mansury mengatakan, sebagai proyek strategis nasional, PLTS Terapung Cirata diharapkan dapat menjadi percontohan untuk pe­ngem­bangan pembangkit EBT di daerah lain. Agar Indonesia dapat mencapai target bauran EBT 23 per­sen di 2025, serta mendu­kung upaya pengurangan emisi secara signifikan.

 Selain kerja sama internasional, PLTS Terapung Cirata ini merupakan kerja sama pendirian perusahaan patungan antara BU­MN Indonesia, PLN, dengan perusahaan milik ne­gara Uni Emirat Arab, Masdar.

 ”Proyek ini semoga dapat menjadi pondasi dalam memperkuat kerja sama di antara kedua negara. Selain diharapkan da­pat memberikan manfaat untuk masyarakat sekitar dengan menciptakan la­pangan kerja maupun me­ngangkat ekonomi regional. PLTS Terapung Cirata diharapkan dapat menjadi pembelajaran, transfer teknologi dalam pengembangan EBT, dari salah satu global leader pembangkit EBT dari Uni Emirat Arab,” ungkap Pahala.

 Selain proyek ini, ma­sih cukup banyak proyek strategis yang dikembangkan oleh PLN dalam hal pengembangan EBT, termasuk upaya untuk mela­kukan perubahan pembang­kit berbahan bakar fosil ke EBT. Tidak lupa, Pahala berharap setelah proses ini, implementasi ke depan lancar, sehingga stakeholder bisa melihat PLTS Terapung Cirata sebagai proyek strategis nasional yang dapat diselesaikan sesuai dengan waktunya.

 Turut hadir dalam aca­ra Deklarasi Financial Clo­se, Deputi Bidang Pengendalian Pelaksanaan Pena­naman Modal Imam Soejoedi, Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Luky Alfirman, Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Dadan Kusdiana, serta Duta Besar Indonesia untuk Uni Emirat Arab H.E., Husin Ba­gis.(rel)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional