Menu

Radius 500 Meter dari Bibir Pantai, Waspada, Ada Potensi Likuefaksi di Padang

  Dibaca : 8764 kali
Radius 500 Meter dari Bibir Pantai, Waspada, Ada Potensi Likuefaksi di Padang
Ilustrasi Fenomena Likuifaksi (foto: ummatpos)

AIAPACAH, METRO – Kepala Pelaksana (Kalaksa) Kepala BPBD Kota Padang, Edy Hasymi mengimbau masyarakat pinggir pantai untuk waspada.

Pasalnya, berdasarkan pendapat Prof. Abdul Hakam dari Universitas Andalas (Unand), Padang memiliki potensi likuefaksi pada saat gempa terjadi.

Seperti yang diketahui, likuefaksi adalah fenomena yang terjadi ketika tanah yang jenuh atau agak jenuh kehilangan kekuatan dan kekakuan akibat adanya tegangan, misalnya getaran gempa bumi atau perubahan ketegangan lain secara mendadak. Sehingga tanah yang padat berubah wujud menjadi cairan atau air berat. Kejadian likuefaksi itu pernah terjadi pada bencana gempa dan tsunami di Palu, dan telah mengubur hidup hidup ratusan nyawa manusia.

Sedangkan di Padang, likuefaksi ini dikatakan berpotensi terjadi pada radius 500 meter dari bibir pantai wilayah Kota Padang. Seperti di Air Tawar, Lubuk Buaya dan titik lainnya.

“Tanah dalam jarak 500 meter dari bibir pantai itu diprediksi bakal bisa ambruk ke dalam perut bumi, dan mengubur hidup-hidup semua benda dan makluk hidup yang ada di area tersebut,” jelas Edy, Jumat (27/9).

“Potensi likuefaksi ini yang kita khawatirkan. Dampaknya luar biasa. Tapi sepahit apapun, informasi ini harus kita beritahukan pada masyarakat agar mereka waspada,” lanjutnya.

Saat ini, terang Edi, BPBD terus berupaya mencerdaskan masyarakat melalui pelatihan- pelatihan yang diberikan. Setiap tahun ada 50 sekolah yang diberi pelatihan oleh BPBD dan NGO.

Total sekolah yang sudah diedukasi sejak beberapa tahun lalu adalah sebanyak 150 titik. Sementara, total sekolah yang ada di zona merah mencapai 400 titik. Sisanya masih berupaya diteruskan sesuai dengan ketersedian anggaran yang ada

Tak hanya itu, 10 tahun setelah gempa 30 September 2019, Pemko Padang telah melakukan berbagai langkah mitigasi fisik dan non fisik.

Diantaranya, Padang sudah mendata 58 bangunan yang bisa digunakan sebagai shelter. Selain itu, di Padang juga telah dipasang 700 titik plang petunjuk arah berwarna orange. Kemudian, ada 30 baliho kecil yang memuat informasi tentang cara penyelamatan diri.

Selain itu, juga ada poster-poster tentang kebencanaan dan upaya penyelamatan diri. Padang juga telah membuat batas perkiraan tsunami berdasarkan prediksi para ahli (tsunami shave zone) sebanyak 22 titik.

Saat ini, sirene tsunami juga masih terua diaktifkan dan diujicobakan secara berkala. BPBD juga telah memperkuat beberapa organisasi kebencanaan masyarakat bersama Kelompok Siaga Bencana (KSB). Dengan bekerjasama dengan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPR), Padang juga telah memperbanyak jalur evakuasi untuk memudahkan warga menyelamatkan diri pada saat bencana gempa dan stunami terjadi. (tin)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional