Close

Rabab/Babiola adalah Kekayaan Budaya, Mahyeldi: Jangan Sampai Hilang

LESTARIKAN BABIOLA— Gubernur Mahyeldi mencoba alat babiola dan kesenian tradisonal lainnya.

PESSEL, METRO–Gubernur Sumatera Ba­rat mengapresiasi pembinaan yang dilakukan oleh Dinas Kebudayaan terhadap kesenian Rabab atau Babiola yang tersebar di Pesisir Selatan, Pariaman dan Solok Selatan sebagai upaya pelestarian kekayaan budaya agar ti­dak hilang dari bumi Minangkabau.

“Untuk pelestarian dan pemajuan kebudayaan di­perlukan langkah strategis malalui upaya Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembina­an. Kita apresiasi usaha Dinas Kebudayaan ini,” katanya di bawah rintik hujan yang turun saat pembukaan Pertunjukan Pe­n­dampingan  Rabab/Babiola di Kanagarian Sungai Liku Kec. Ranah Pesisir, Minggu(26//9).

Gubernur mengatakan kebudayaan merupakan investasi masa depan da­lam membangun peradaban bangsa. Karena itu, kebudayaan suatu negara / bangsa akan maju dan bertahan sejalan dengan usia bumi.  Keberagaman kebudayaan daerah merupakan identitas suatu bangsa yang sangat diperlukan untuk memajukan kebudayaan nasional. Dalam UUD 1945 sudah diama­nahkan tentang pemajuan Kebudayaan sejalan deng­an amanat UU NO 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Untuk pemajuan kebudayaan diperlukan langkah strategis ma­lalui upaya Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan dan Pembinaan.

Kegiatan pendamping­an terhadap Warisan Budaya “Rabab/Babiola” yang  diprogram Pemerintah  Pro­vinsi Sumatera Barat melalui Dinas Kebudayaan merupakan salah satu u­paya dalam pelestarian Warisan Budaya.

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia, memiliki ke­ragaman budaya yang unik dan spesifik. Keberagaman Kebudayaan Daerah merupakan kekayaan dan identitas bangsa yang sa­ngat diperlukan untuk memajukan Kebudayaan. “Ki­ta berharap, semoga melalui kegiatan pendampingan Rabab/Babiola ini dapat meningkatkan jumlah sumber daya manusia  (pelaku kesenian tradisional  rabab/babiola) baik dari segi kuantitas maupun kualitas, karena peningkatan mutu Sumber Daya Manusia Kebudayaan, lembaga  dan pelatihan di bidang kebudayaan,” katanya.

Ia juga berharap kegiatan pendampingan ini juga akan berdampak kepada sektor pariwisata, seperti yang kita lihat saat ini, de­ngan penyelenggaraan i­ven-iven budaya akan me­ningkatkan jumlah kunjungan dan kita harapkan a­kan memberi dampak eko­nomi kepada masyarakat. Salah satu alasan orang berkunjung ke suatu dae­rah adalah karena aktivitas budayanya.

Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Gemala Ranti mengatakan hingga saat ini sudah 41 karya budaya dari Provinsi Suma­tera Barat yang telah  dite­tapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI). Rabab telah ditetapkan pada tahun 2015 dan Babiola tahun 2019.

Sebagai upaya pelestarian pada tahun ini telah dilakukan pendampingan terhadap Warisan Budaya Rabab/Babiola pada 3 (tiga) daerah sebaran Rabab/babiola di Sumatera Barat yakni: Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Pa­dang Pariaman dan Kabupaten Solok Selatan. Jika kita amati kondisi saat ini, pada umumnya pelestari yang masih ada saat ini rata-rata sudah berusia diatas 40 tahun yang dikhawatirkan akan segera memiliki keterbatasan fisik dan kesehatan untuk me­lanjutkan kesenian ini.

“Untuk itu harus dilakukan pembinaan dan pewa­risan kepada generasi mu­da. Program pendampi­ngan ini terdapat berbagai aspek dukungan terhadap pelestarian seni tradisi, dengan mengaplikasikan berbagai tindakan atau te­rapan yang lebih modern yakni terkait dengan  pola pengajaran, tata kelola hingga pemasaran (marketing). Mungkin juga perlu diperhatikan untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada saat ini, dengan memanfaatkan teknologi,” ujarnya.

Program pendamping­an yang telah dilakukan tersebut hendaknya tidak terhenti sampai disini tapi perlu di tindaklanjuti, se­hingga memiliki pemak­naan yang lebih luas dari sekedar pelatihan seperti yang biasa digelar sebe­lumnya, namun dapat berdampak kepada sektor lain seperti pariwisata, usaha kecil, ekonomi yang akan berdampak kepada kesejahteraan masyarakat.

Ketua Komisi VI DPRD Provinsi Sumbar Muchlis Yusuf Abit meminta Dinas Kebudayaan bisa mengangkat budaya di nagari tidak hanya di Pesisir Selatan tetapi di seluruh dae­rah di Sumbar. “DPRD akan slalu mendukung dalam pelestarian budaya yang ada di Ranah Minang,” ujarnya.

Kuratorial pendampingan rabab/babiola M. Fadli. M.Sn mengucapkan terimakasih kepada Dinas Kebudayaan Sumbar yang telah mau melestarikan budaya yang ada di dae­rah kita terutama rabab. “Rabab adalah pertunjukan dialektika bukan hanya sekadar musik. Rabab unik ka­rena mampu mengkolaborasi antara dialektika dan musik,” katanya. Ia berharap selagi rabab masih dimainkan anak nagari, masih akan lahir anak nagari yang memiliki kemampuan memainkan alat mu­sik tersebut. Ia menilai kesenian rabab, bisa menjauhkan generasi muda kita jauh dari perilaku menyimpang seperti narkoba, tawuran dan ketergantu­ngan gadge. (fan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top