Close

Puasa dan Rekonstruksi Akhlak

Ganefri (Rektor Universitas Negeri Padang)

Tanpa kita sadari kini kita telah sampai di sepertiga terakhir di bulan Ramadhan. Bulan suci yang paling mulian di antara 12 bulan di tahun Hijriah ini sebentar lagi akan berlalu dari hari-hari kita. Tentu sebagai muslim sejati hendaknya kita bisa menanyakan kepada diri sendiri, apakah ibada puasa beserta segenap amalannya yang sudah kita lakukan telah memberi manfaat bagi kehidupan kita sehari-hari? Adakah perbaikan dari sisi Hablumminallah dan Hablumminannas?

Dari perspektif hablumminallah, maka makna dan apresiasi dari sang khalik, pahala berpuasa adalah sangat spesial di mata Allah SWT. Dari hadis sahih yang dirawikan oleh H.R Bukhari dapat kita baca sebuah hadis yang artinya sebagai berikut, ‘setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukKu dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung’.

Demikianlah, dapat disimpulkan keistimewaan ibadah puasa yang berimbas kepada hubungan kita dengan sang khalik adalah sangat istimewa. Sampai istimewanya hanya Allah-lah yang bisa menakar kadar pahala dan rahmat serta berkah yang akan diberikannya kepada setiap muslim yang sempurna ibadah puasanya.

Dari segi hablumminannas, maka tentu kita harus meninjau seberapa jauh dan dalam dampak positif manusia berimbas kepada akhlak kita terhadap sesama? Pada titik ini kita harus menyadari sedari awal bahwa ibadah puasa sudah barang tentu sejatinya menyempurnakan akhlak kita. Di bulan yang penuh latihan untuk menahan hawa nafsu inilah kita dididik menjadi insan yang super sabar, tawadu’, ikhlas dan menjaga seluruh pikiran, ucapan, sikap dan perbuatan.

Lebih jauh, sungguh tidak ada yang sia-sia dari setiap perintah Allah SWT yang dibebankan kepada manusia. Puasa memiliki hikmah dan manfaat tak terhingga, memiliki hubungan yang kuat dengan pendidikan moral (akhlak). Sabda Nabi Muhammad SAW, puasa ialah tameng dari dosa dan kejahatan (HR Bukhari).

Untuk itu, puasa juga dapat menjadi ajang untuk menjalankan pertobatan dari perbuatan yang sudah kita lakukan, yang maksiat maupun yang mudarat serta mubazir. Di bulan Ramadanlah pintu tobat terbuka selebar-lebarnya, sehingga jangankan orang yang memang berdosa, orang beriman pun berkewajiban meningkatkan amalan dan ketaqwaannya menuju derajat yang lebih sempurna.

Untuk itulah, pada hakikatnya, puasa adalah riyadhoh dan mujahadah (upaya latihan serta perjuangan dan terapi penahanan nafsu) dari ketidakseimbangan pendayagunaan tiga potensi, yaitu akal, kemarahan, dan syahwat. Akal yang tidak didayagunakan secara baik akan melahirkan manusia yang sombong dan durhaka. Kemarahan yang tidak digunakan dengan baik akan membawa manusia kesembronoan tindakan dan syahwat yang tidak terkendali akan membawa manusia pada pemuasan nafsu kebinatangan.

Pakar Islamologi dan sekaligus ulama masyhur, Yusuf al-Qardhawi, memandang puasa sebagai institusi pendidikan moral par-excellent (madrasah mutamayyizah), semacam kawah candradimuka yang mampu mengasah kepekaan moral dan ketajaman spiritual untuk mencapai taqwa.

Sedangkan menurut Imam Al-Ghazali, dalam ibadah puasa terkandung dua semangat yang penting dilihat dari perspektif pendidikan moral (akhlak). Pertama, semangat pencegahan (kaffun wa tarkun) dari proses dehumanisasi, atau pencegahan dari al-muhlikat, yaitu kecenderungan-kecenderungan dalam diri manusia yang bersifat destruktif (Al-Qur’an, surat As-Syams, ayat 7-8).

Kedua, semangat bertindak (hatstsun wa’amalun) menuju atau ke arah humanisasi, atau dorongan pada al-munjiyat, yaitu proses yang akan membawa manusia menuju kemuliaan dan keselamatan dengan menghidupkan kecenderungan-kecenderungan dalam diri manusia yang bersifat konstruktif, yakni taqwa (Al-Qur’an, surat As-Syams, ayat 7-8).

Sementara itu, kaum orientalis pun meneliti hakikat dan keampuhan dari ibadah puasa dilihat dari perspektif moral dan spiritual, puasa. Menurut Kess Waaijman dalam bukunya Spirituality: Form, Foundation, Method, ibadah puasa jika benar-benar dilakukan secara sempurna memiliki fungsi pokok yang dinamakan rejuvenation,yaitu penyegaran rohani agar kita mencapai kemuliaan dan kesalehan. Proses rejuvenationitu dilakukan melalui tiga tahap.

Pertama, disciplining the lower soul, menjadikan puasa sebagai latihan menguasai dan mengendalikan dorongan nafsu syahwat yang berpusat di perut (syahwat al-bathn). Di antara sasaran yang hendak dicapai melalui puasa, menurut Ghazali, ialah kemampuan mengendalikan, bukan dikendalikan, oleh syahwat perut. Kedua, abstaining the permitted thing, menjadikan puasa sebagai sarana menghilangkan sifat-sifat buruk dan menumbuhkan kualitas moral sebagai bagian dari meneladani akhlak Allah, takhallaqu bi akhlaq Allah, agar manusia mencapai kesempurnaan.

Ketiga, abstaining from the presence of anything except God, menjadikan puasa sebagai sarana memusatkan hati dan pikiran hanya menuju Allah. Itu berarti, segala hal yang menghalangi jiwa dan pikiran untuk mengingat Allah harus dijauhi. Dengan proses ini, Allah benar-benar menjadi satu-satunya yang terkasih. Pada tahap ini, puasa memenuhi dan mencapai hal yang paling esensial dalam Islam, yaitu kepasrahan secara total kepada Allah SWT. Inilah puasa pada tingkatnya yang paling tinggi yang oleh Ghazali disebut puasa Shaum Khashsh al-hawwash.

Selamat berpuasa dan mencapai akhlak yang dimiliki insan bertaqwa. Amin. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top