Menu

Puasa Budaya

  Dibaca : 80 kali
Puasa Budaya
Duski Samad (Ketua MUI Kota Padang)

“Puasa adalah salah satu ibadah istimewa, seseorang tidak boleh mengklaim puasa orang lain. Karena ibadah puasa merupakan hak preogratif Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi mahluknya, ana ajzun ly, (Hadits Qudsi).

Puasa merupakan ibadah yang dikerjakan manusia, guna menempuh jalur spiritual menapaki jalan Tuhan. Keinginan dan dorongan syahwat harus dikekang agar makna puasa dapat terengkuh hingga terbit fajar pada 1 Syawal.

Visi besar puasa tidak hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, maupun berhubungan suami istri selama menjalankan ibadah di siang bulan Ramadan. Tetapi juga dituntut mengorbankan segela kenikmatan duniawi yang dilakukan selama 11 bulan, bahkan tidak sedikit yang dilaluinya dengan ‘menghalalkan perkara yang haram’. Aspek duniawi yang dikejar selama 11 bulan di luar Ramadan, guna memperoleh predikat ‘orang sukses’ di mata masyarakat. Namun hakikatnya puasa juga menuntut kita untuk tidak melepaskan segala atribut sosial.

Manusia sebagai hamba tentu berusaha untuk menyibak semua tirai penghalang yang membuat kita jauh dari-Nya, sebab puasa mengajak manusia untuk datang menemui-Nya. Dia ada pada jerit-angis anak-anak miskin, menjelma di masyarakat terdalimi, serta menyublim menjadi orang-orang lemah tak berdaya. Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid, makan minumlah dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang – orang yang berlebih – lebihan (Al-A’raf, 7 : 31).

Jika puasa hanya sebatas pengorbanan fisik berupa menahan makan, minum dan berhubungan badan. Maka puasa kita hanya sebatas fisik saja. Pada tahap ini tidak ada tapak spiritual yang dapat kita rengkuh, selain haus dan dahaga. Berusaha meninggalkan segala maksiat yang berakibat kita menjauh diri Tuhan.

Memperoleh pancaran meski hanya berupa percikan kecil cahaya dengan berbagai amalan yang dilakukan selama berpuasa. Meninggalkan hal-hal subhat, jiwa kita terasa ditaburi kasih sayang dan berada didekatnya dalam keadaan damai, tentram dan sentosa. Tentunya dengan melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, yang bisa kita lihat dengan mata telanjang atau batin kita melalui dzikir. Itu indikasi puasa menyintuh sipritual.

Realitasnya dari tahun ketahun umat terus berpuasa fisik dan sipritual itu. Kini sejalan perubahan menghadirkan puasa, yang telah menjadi kebiasaan dan perilaku yang dilakukan oleh masyarakat luas dan bersifat rutin setiap tahun. Transformasi dari puasa yang awalnya bersifat privasi menjadi wilayah publik memunculkan terminologi baru puasa sebagai budaya. Ada tradisi yang muncul mengiringi puasa, misalnya ngabuburit, bazar ramadhan atau tunjangan hari raya. Sejumlah perusahaan busana muslim dan jilbab juga menemukan momen keberkahan selama Ramadan.

Dari sisi prilaku masyarakat ada kondisi sosial budaya yang berlawanan arah dengan tujuan puasa sipritual yaitunya budaya konsumtif. Konsumsi masyarakat yang tinggi selama ramadhan misalkan bisa dilihat pada masyarakat perkotaan terutama masyarakat menengah ke atas yang setiap sore menjelang berbuka puasa seakan berlomba memburu takjil, berbagai jenis makanan dan aneka minuman siap saji, mulai dari yang disediakan rumah makan dan restoran sampai pedagang musiman yang berjualan di sepanjang emperan trotoar jalanan.

Kondisi tersebut bisa dipahami, dalam suasana puasa ramadhan selama seharian penuh menahan lapar dan dahaga, masyarakat tentu menginginkan bisa menikmati berbagai jenis makanan dan aneka minuman enak yang disediakan penjual sebagai menu berbuka puasa. Tapi justru tingkat konsumsi masyarakat yang tinggi itulah yang menjadikan puasa kehilangan makna dan esensinya dalam perubahan sikap, karakter.

Metamorfosa Insani

Rasa lapar laksana bumbu bagi orang-orang beriman, sarana penguat jiwa, makanan bagi kalbu dan penunjang bagi kesehatan. Puasa bagi beberapa hewan atau serangga menjadi salah satu sarana untuk melakukan transformasi diri lewat metamorfosa biologis sehingga mereka dapat mengubah wujudnya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Seperti seekor ulat yang “menjijikkan”, ketika ia ingin mengubah dirinya menjadi seekor kupu-kupu yang indah, maka ia mesti melakukan puasa selama 40 hari 40 malam. Sang ulat akan ber-khalwat di dalam kepompong sampai hari terakhir, dimana akhirnya dia akan memiliki sepasang sayap indah dan ia pun dapat terbang dengan lincah. Ular pun mesti berpuasa jika ia ingin memperoleh kulit baru yang lebih indah.

Adapun manusia melakukan transformasi diri-nya lewat puasa lebih menitik beratkan pada metamorfosa ruhani ketimbang jasadi. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa ketika Nabi Musa as diharuskan berpuasa selama 40 hari sebelum ia menerima Kitab Taurat. Al-Quran yang mulia menyebutkan, “Dan telah Kami janjikan kepada Musa sesudah berlalu waktu 30 malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan 10, maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya 40 malam.” (QS al A’raaf [7] ayat 142)

Di dalam tafsir-tafsir mu’tabar seperti Futuhat al-Ila¬hiyah, al-Khazin, dan al-Maraghi, dan Tafsir Singkat Ayatullah Makarim Syirazi, Allah menyuruh Musa as berpuasa dan berkhalwat di bukit Thursina. Para Nabi as, termasuk Nabi Isa as pun melakukan puasa apabila beliau hendak melakukan hal-hal penting. Nabi Yunus as pun berpuasa selama 40 hari 40 malam di dalam perut ikan Nun.

Namun kita, umat Islam diwajibkan berpuasa cukup hanya 30 hari, dan itu pun hanya di siang hari. Namun demikian cukuplah memadai pada masa itu manusia melakukan transformasi ruhaninya yang tidak sekadar menahan lapar, haus dan nafsu seksual saja. Rasulullah Saw bersabda, “Bisa saja orang yang berpuasa hanya memperoleh lapar dan haus saja dari puasanya dan bisa juga orang yang shalat malam hanya mendapatkan keterjagaannya saja dari shalat malamnya.” 2]

Jika ulat dan ular sanggup berpuasa secara total selama 40 hari 40 malam, maka semestinya manusia sanggup melakukan lebih dari itu, namun Allah Swt hanya mewajibkan kaum Muslim untuk melakukan dengan cara yang lebih ringan, walaupun faktor ruhani tidak bisa diabaikan begitu saja. “Demi Allah! Adalah suatu yang tercela, apabila seseorang mencegah dirinya dari makan, namun ia memenuhi ruh-nya dengan kesombongan sambil memandang rendah kepada orang-orang yang tidak berpuasa dan menganggap dirinya lebih baik dari mereka!” 3]

Ada perbedaan kata yang digunakan al-Qur’an untuk peribadatan atau ‘íbadah. Salah satu derivasinya adalah kata ‘ubudiyyah, yang berarti ungkapan kerendahan hati atau pengakuan rasa bersalah. Namun kata ‘ibadah sendiri memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar kerendahan hati. Walau pun demikian kerendahan hati menjadi dasar segala perwujudan ‘ibadah. Jadi, konsep ‘ibadah di dalam Islam berimplikasi pada kerendahan hati. Implikasi ini merupakan bagian yang paling esensial dari ajaran akhlaq Islam. Oleh karena itu, sikap sombong, congkak dan angkuh bertentangan dengan peribadatan dan akhlak Islam.

Jadi jika kita beribadah namun justru melahirkan sikap arogan, congkak dan rasa bersih diri, maka ibadah seperti itu justru menjauhkan dari Yang Maha Pengasih dan sebaliknya mendatangkan murka-Nya. Jika seseorang berharap bisa mengubah jiwa dan ruhnya menjadi lebih baik dan lebih tercerahkan bak seekor ulat yang ingin mengubah dirinya menjadi kupu-kupu, seseorang tidak bisa hanya berpuasa dari nafsu perut dan seksnya. Ia juga mesti berpuasa dari pikiran-pikiran buruk.

“Puasa kalbu dari pikiran-pikiran berdosa lebih utama ketimbang puasa perut dari makanan.” 4]. “Puasa hati lebih baik dari puasa lisan, puasa lisan lebih baik dari puasa perut.” 5] “Puasa jiwa dari kelezatan-kelezatan duniawi adalah puasa yang paling bermanfaat.” 6]. Konon Nabi Isa as juga pernah mengatakan, “Kosongkanlah perutmu dan tanggalkanlah keinginan-keinginan jasadmu agar hatimu dapat melihat Allah.” 7]

Manusia modern lebih suka berpaling ke budaya Barat ketimbang budaya orang-orang shalih. Mereka sibuk memenuhi makanan bergizi bagi putra-putri mereka seraya mengabaikan gizi iman dan taqwa. Sesungguhnya jika kita adakan penelitian dengan seksama, orang lebih banyak mati karena banyak ragamnya makanan yang masuk ke dalam perutnya ketimbang karena perut yang kosong karena kekurangan makanan.

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa puasa budaya adalah virus mematikan makna dan hakikat puasa untuk mencerahkan sipritual dan hakikat kemanusiaan. Semoga umat semangkin paham. (*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional