Close

Psikolog Sarankan Sekolah Tatap Muka Bertahap, Keselamatan Siswa dan Guru Diutamakan

ADINEGORO, METRO–Polemik tentang sekolah tatap muka di beberapa daerah di saat pandemi menjadi polemi. Bahkan ditemukan beberapa sekolah se­perti di Solo dan Medan menggelar sekolah tatap muka secara diam-diam menunjukkan bahwa tingkat kejenuhan siswa dan guru sudah memuncak. Mereka ingin segera sekolah dilakukan secara langsung, karena sekolah daring dirasa kurang efek­tif

Dr. Muhammad Iqbal psikolog rumah konseling yang juga Direktur Indonesia Institut, menyatakan bahwa sekolah tatap muka tidak bisa dilakukan secara sembarangan tanpa ada kordinasi dan persiapan yang matang, karena me­nyang­kut keselamatan dan nyawa guru dan siswa.

“Di beberapa daerah pun berbeda kebijakan ada yang sudah membolehkan ada juga yang masih mela­rang, karena kekhawatiran akan keselamatan guru dan siswa,” katanya, Senin (30/8).

Menurut Iqbal yang juga alumni PPRA Lemhan­nas sekolah tatap muka harus dilakukan bertahap dan dibuat simulasi, karena siswa dan guru memer­lukan waktu untuk adaptasi perilaku. Dimana mereka terbiasa dengan daring, dan harus berubah men­jadi tatap muka

Dijelaskan, sekolah ta­tap buka bisa diprioritas­kan bagi guru yang sudah mendapatkan vaksinasi atau pun priori­tas jenjang. Ada 2 kriteria yang me­mer­lukan tatap muka, me­reka yang akan lulus dan persiapan masuk pergu­ruan tinggi ataupun me­reka yang baru masuk yang memerlukan orien­tasi.

“Untuk itu simulasi per­lu dilakukan untuk penera­pan protokol kesehatan dan tidak mungkin dilaku­kan sekaligus,” ulasnya.

Bila didapati kasus/klus­ter baru maka sekolah ha­rus segera dihentikan dan dilakukan penelusuran. Karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebu­da­yaan harus menyiapkan pan­duan dan SOP dalam pembelajaran tatap muka.

Simulasi dan adaptasi bisa dilakukan dengan me­nga­tur jadwal kedatangan dan kepulang an agar tidak terjadi kerumunan. Demi­kian juga dengan penggu­naan ruang kelas, pem­bagian jadwal kelas hingga kesiapan dukungan sarana dan prasarana.

Untuk mencegah learning loss dan mengejar ke­ter­tinggalan, Iqbal juga me­nyarankan pemerintah mem­­buat sekolah pro­gram­­ sekolah  berasrama atau pun program intensif bagi siswa yang akan lulus dan memasuki perguruan ting­gi. Program ini bisa dengan membuat pola trai­ning centre ataupun  beker­jasama dengan sekolah yang sudah ada dengan menitipkan siswanya atau­pun dengan pesantren.

“Karena di saat pan­demi sekolah berasrama dan pesantren terbukti bisa berjalan dan ini adalah salah satu solusi mencegah terjadinya learning lost,” pungkas Iqbal.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Na­diem Makarim memboleh­kan anak yang belum di­vak­sin untuk mengiktui pem­belajaran tatap muka (PTM) terbatas di sekolah.

“Bagi sekolah yang pe­serta didiknya belum men­dapatkan giliran vaksinasi, sekolah di wilayah PPKM level 1-3 tetap dapat me­nye­lenggarakan PTM ter­batas,” kata Nadiem dalam keterangannya, Kamis, 19 Agustus lalu.

Nadiem mengatakan, penyelenggaraan PTM ter­ba­tas harus menge­depan­kan prinsip kehati-hatian, kesehatan, dan kesela­ma­tan seluruh insan pendi­dikan dan ke­luar­ganya, sesuai daftar pe­riksa yang ditentukan dalam SKB Em­pat Menteri.

Menurut Nadiem, ke­men­teriannya saat ini me­rencanakan adanya sentra vaksinasi untuk memper­cepat pemberian vaksinasi bagi pelajar.

Berdasarkan dashboard vaksinasi Kemen­te­rian Ke­se­hatan, sebanyak 26,7 juta usia 12-17 tahun menjadi target vaksinasi Covid-19. Dari total target, yang menerima dosis pertama baru mencapai 9,09 persen atau 2,4 juta orang. Sedang­kan 4,01 persen atau seki­tar 1 juta anak dan remaja sudah menerima dosis lengkap.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi sebelumnya juga mempersilakan opsi PTM secara terbatas dige­lar apabila seluruh pelajar telah mendapatkan vaksi­nasi Covid-19. Jokowi me­nya­dari antusiasme pela­jar dan guru yang berharap agar bisa segera mela­kukan belajar tatap muka di sekolah. Namun, ia me­ng­ingatkan seluruh pi­hak berhati-hati agar tidak ada yang terpapar Covid-19 jika PTM digelar. (rom/rel)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top