Menu

PSG Antokan Sakti Lestarikan Silek Warisan Leluhur

  Dibaca : 183 kali
PSG Antokan Sakti Lestarikan Silek Warisan Leluhur
BERLATIH—Murid-murid Perguruan Silek Gaib (PSG) Antokan Sakti di Lubuk Basung Agam tengah berlatih yang merupakan bagian dari melestarikan bela diri tradisi leluhur.

AGAM, METRO
Silek (silat) merupakan salah satu bela diri tradisi warisan leluhur masyarakat Minangkabau. Jika tidak diwariskan, bukan tidak mungkin warisan tersebut akan hilang ditelan zaman. Kerisauan itulah yang dijawab Perguruan Silek Gaib (PSG) Antokan Sakti di Lubuk Basung. Grup yang dibesarkan Helmon Dt Hitam itu terus menjaga tradisi leluhur dengan mewariskannya ke generasi muda Minangkabau.

Ketua PSG Antokan Sakti Maizul Amri St Pamenan mengatakan, bela diri asli Minangkabau ini, selain sebagai pertahanan diri silek juga merupakan sarana pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda Minangkabau. Sehingga memiliki karakter, yakni berdasarkan nilai-nilai adat dan agama

Gerakan silek diciptakan nenek moyang Minangkabau ratusan tahun silam, dengan nilai, kearifan, jati diri serta unsur yang mengambil gerakan-gerakan dari alam dan juga kehidupan. “Silek yang merupakan tradisi asli Minangkabau banyak berpedoman kepada falsafah alam takambang jadi guru,” ujar Maizul, Sabtu (19/9). Helmon menyebutkan, pendirian PSG Antokan Sakti, pada dasarnya sebagai wadah untuk melahirkan generasi yang berbudi pekerti dan berakhlak mulia. Seperti hakikat silek sebagai penyambung tali silaturahmi.

Pihaknya meyakini silek dapat mengasah karakter generasi muda dengan falsafah “lahia cari kawan, batin cari tuhan”. Falsafah tersebut diharapkan jadi bekal agar generasi muda Minang dapat berbaur dengan siapa saja dan dimana saja. Perguruan silek ini sebenarnya sebagai wadah pendidikan yang membina karakter serta mental generasi muda,” ucapnya.

Helmon menambahkan, dengan tetap menjaga tradisi leluhur, PSG Antokan Sakti diharapkan berkontribusi pada peningkatan indeks pembangunan kebudayaan. Menurutnya, jika generasi muda Minangkabau mendapatkan pelatihan dan pengalaman yang sama dari nilai-nilai silek, maka toleransi pun ikut menguat.

Bagi Helmon silek warisan leluhur ini lebih kepada wujud pengendalian diri. Sehingga tak hanya untuk kemampuan fisik, pencak silat juga justru harus membuat orang menjadi rendah hati. “Nilai itulah yang menurut kami besar kontribusinya nanti terhadap ketahanan budaya, seperti sikap toleransi dan saling pengertian,” katanya. (pry)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional