Menu

Produksi Batik Sampan Makin Menggeliat, Pengrajin Pariaman Hasilkan Motif Tabuik

  Dibaca : 270 kali
Produksi Batik Sampan Makin Menggeliat, Pengrajin Pariaman Hasilkan Motif Tabuik
BATIK— Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kota Pariaman, Gusniyetti Zaunit perlihatkan Batik Sampan atau Batiak Tanah Liek khas Pariaman.

PARIAMAN, METRO
Produksi Batik Sampan atau batik Tanah Liek khas Pariaman semakin menggeliat ditangan para pengrajin yang merupakan asli orang Pariaman. Setiap hari kerja, rata-rata mereka mampu menghasilkan satu karya Batik Sampan tentunya dengan motif Tabuik.

Diketahui, pada 1946 di Pariaman telah berkembang Batik Sampan atau Batik Tanah Liek. Kenapa dinamakan Batik Sampan, karena pengembangan batik tersebut ada di Dusun Sampan, Desa Pungguang Ladiang, Kota Pariaman.

Kepala Dinas Perindagkop dan UKM Kota Pariaman, Gusniyetti Zaunit, mengatakan, pihaknya telah melatih 40 pengrajin batik yang bekerjasama dengan Balai Diklat Industri untuk memproduksi Batik Sampan, batik khas Pariaman.

“Mereka yang dilatih itu merupakan para pengrajin yang telah lama tidak menekuni kerajinan batik. Untuk itu kepiawaian mereka kembali digali,” jelas Gusniyeti Zaunit, Rabu (4/3).

Ia menjelaskan, ke-40 pengrajin itu dilatih pada Oktober 2019. Kemudian pada November, dari 40 itu akan dipilih 20 orang yang benar-benar menekuni atau yang benar-benar fokus. “Lalu mereka kita tempatkan di Rumah Batik Bengkuang, Padang,” kata Gusniyeti.

Gusniyeti mengungkapkan, setelah menjalani pelatihan di sana, mereka telah terus menerus memproduksi batik. “Kami gunakan metode 3 in 1, dimana para pengrajin dilatih, ditempatkan, dan disertifikasi. Saat ini mereka sudah bisa produksi rata rata perharinya satu Batik Sampan,” sebutnya.

Gusniyeti juga menyampaikan, setiap karya batik yang dibuat pengrajin harus menggunakan motif Tabuik, baik motif secara realis maupun abstrak. Saat ini, ke-20 pengrajin tersebut dibagi dua kelompok dan mereka diposisikan pada wilayah Dusun Sampan dan Sungai Kasai.

“Nah kelompok ini konsentrasi mereka dalam berkarya berbeda. Pengrajin yang ada di Sampan membatik dengan pewarna kimia, sementara untuk Sungai Kasai menggunakan pewarna alami. Seperti dari serabut kelapa, pinang dan bahan alami lainnya,” ungkap Gusniyeti.

Gusniyeti menambahkan, untuk Desa Sampan sendiri, sudah masuk pada program 2021 sebagai lokasi sentral batik khas Pariaman atau kampung batik. Sementara itu untuk produksi awal, akan diproduksikan untuk seluruh ASN di jajaran Pemko Pariaman. “Seluruh ASN di Pemko Pariaman sekitar 2.000 lebih dan mereka diwajibkan memakai batik khas Pariaman itu setiap Kamis,” ujarnya.

Sedangkan untuk harga Batik Sampan saat ini beragam tergantung motif dan tingkat pengerjaan waktu yang digunakan pengrajin. “Untuk harga kami menggunakan bandrol nasional, harga sama dengan harga batik Jawa dan lainnya yaitu mulai dari Rp80 ribu hingga Rp200 ribu per dua meter,” kata Gusniyeti.I

Ia mengatakan bahwa para pengrajin tersebut berkarya dengan standar kompetensi demi hasil yang optimal. Perihal tersebut semata-mata untuk mengkampanyekan juga penggunaan produk lokal. “Kita juga bisa bersaing dan menggunakan produk lokal sendiri. Karya-karya yang kita produksi tak kalah hebatnya dengan yang ada di luar sana,” ungkap Gusniyeti. (z)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Iklan

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional