Close

Potensi Bunga Rafflesia dan Biodiversity Sumbar Disorot

NOBAR— Kanal Youtube Interes menggelar nonton bareng (nobar) kisah Joni Hartanto menangkar bunga rafflesia dan dilanjutkan dengan diskusi.

PADANG, METRO–Bunga rafflesia selalu punya daya tarik sendiri bagi sebagian besar orang. Selain dilindungi, bunga ini juga tak bisa tumbuh di sembarang tempat. Di Sumatra Barat (Sumbar), daerah yang paling banyak ditumbuhi bunga langka ini adalah Kabupaten Agam. Kekayaan potensi bunga rafflesia ini semakin menarik setelah seorang warga di Palupuh Agam menangkar bunga bangkai ini sejak tahun 2000.

Ia adalah Joni Hartanto, pria paruh baya yang menangkar bunga rafflesia di pekarangan rumahnya. Tahun 2009, bunga pertama mekar di luar habitatnya dan telah belasan kali mekar hingga saat ini. Keberhasilan itu turut menjaga kelestarian puspa raksasa itu di masa mendatang.

Melihat potensi ini, kanal Youtube Interes menggelar nonton bareng (nobar) kisah Joni Hartanto menangkar bunga rafflesia yang sudah tayang di kanal itu. Nobar dilanjutkan dengan diskusi bertema “Potensi dan Tantangan Raflesia serta Biodiversity Sumatera Barat”. Kegiatan itu berlangsung Sabtu (12/6) di Fabriek Bloc Padang.

Ada empat narasumber yang dihadirkan, yakni Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Ayam (BKSDA) Resor Maninjau seka­ligus Pengaja Ekosistem Hutan BKSDA Sumbar Ade Putra, Kepala Jurusan Biologi Universitas Andalas Dr Wilson Novarino, Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang Indira Suryani dan Jurnalis Mongabay Indonesia Jaka HB.

Founder Interes, Aidil Ichlas mengatakan kegiatan ini upaya menumbuhkan perhatian besar dari publik termasuk pemerintah, terhadap upaya pelestarian keanekaragaman hayati di Sumatera Barat. Menurutnya, Interes juga terus berkomitmen untuk menghadirkan konten atau tayangan yang berkualitas dan punya nilai edukasi.

Kepala BKSDA Agam, Ade Putra dalam pemaparannya menyampaikan bahwa selama lima tahun terakhir pihaknya terus mengumpulkan data rafflesia, didapati bunga ini tumbuh setidaknya di 14 kabupaten kota, yang tersebar 36 titik. Khusus untuk Agam itu terdapat 16 titik sebaran.

Dengan potensi sebesar itu, lanjutnya Sumbar harusnya menjadi rumah bagi bunga rafflesia. Sebab jika dibandingkan dengan Provinsi Bengkulu yang selama ini menjadi daerah dengan branding bunga rafflesia, itu potensi di daerah Sumbar lebih tinggi. “Data yang ada, sebaran bunga rafflesia di Bengkulu itu ada 20 titik,” jelasnya.

Ketua Jurusan Biologi Unand, Wilson Novarino mengatakan hal senada, potensi bunga rafflesia di Sumbar sangat tinggi dan menurutnya banyak yang belum tergali.

“Tak perlu jauh-jauh, di Padang ini kita bisa temui bunga rafflesia, di Taman Hutan Raya Bung Hatta misalnya di sana juga tumbuh bunga rafflesia, kemudian di Ulu Gadut juga,” sebutnya.

Namun demikian, ia mengapresiasi upaya Joni Hartanto dalam penangkaran raflesia. Sebab menurutnya terlepas dari upaya pelestarian di alam atau habitat asli bunga rafflesia, usaha konservasi di luar itu juga penting.

“Jadi keduanya sama-sama penting, apalagi kalau alam tidak dijaga, atau rantai dari penyebaran rafflesia terputus, tentu upaya konservasi sangat di­butuhkan,” jelas Wilson.

Selain rafflesia, kata Wilson, juga banyak keka­yaan alam lain di Sumbar. Seperti misalnya populasi burung yang beragam, setidaknya di provinsi ini terdapat 319 Jenis burung yang tersebar di 22 lokasi.

Senada dengan Ade Putra dan Dr Wilson, Direktur LBH Padang Indira Su­ryani mengatakan persoalan lingkungan menjadi topik yang harusnya menjadi perhatian bersama.

Ia menyebut sangat banyak permasalahan ling­kungan yang hadir, namun kemudian karena kurangnya sinergitas menjadikan permasalahan itu tidak selesai dengan baik.

Diskusi tersebut, juga dihadiri oleh Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Yozar­war­di mewakili gubernur Sumbar. Yozarwardi dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi kegiatan yang diadakan Interes.

“Gubernur Sumbar mem­beri apresiasi yang ting­gi untuk acara yang diadakan oleh Interes ini. Karena tidak banyak orang yang menyorot soal tema yang diangkat. Karena tema ini tidak menarik bagi sebagian besar orang. Orang biasanya tertarik pada lingkungan yang rusak,” ungkap Yozawardi. (rgr/re)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

0 Comments
scroll to top