Menu

Polisi Koboi Main Tembak di Mentawai

  Dibaca : 1322 kali
Polisi Koboi Main Tembak di Mentawai
RPW (38), warga Koto Langang, Kenagarian Punggaaan Timur, Kecamatan Linggo Sari Baganti, Kabupaten Pesisir Selatan diamankan Polsek Lengayang Polres Pessel, usai korban R (40) melapor ke Polsek Lengayang. 
Perahu Sewell, Huey -- Courtesy of Huey Surf Charters

Inilah kapal pesiar dengan merek lambung Huey I yang terpaksa balik arah di Teluk Pasigan, Desa Silabu, Kecamatan Sikakap, Kabupatan Kepulauan Mentawai, Sabtu (9/10/2015) lalu. Diduga disebabkan diintimidasi petugas saat buang jangkar.

MENTAWAI, METRO–Kondisi sektor pariwisata di Kepulauan Mentawai masuk tahap memiriskan. Permasalahannya, bukan lagi sekadar regulasi atau perizinan, tapi sudah merasuk hingga ke saling klaim. Tak hanya pulau, ombak di sana bahkan sudah terkapling-kapling. Kondisi demikian, diperparah sikap beberapa oknum polisi  yang dianggap arogan.

Bahkan, ada seorang polisi yang main tembak, untuk mengusir kapal pembawa turis asing. Penggiat pariwisata beraksi keras dengan kelakuan oknum polisi ini, dan berencana melapor ke Kapolri.

Keluarnya tembakan peringatan di dekat kapal pesiar merek Huey I, yang kerap membawa turis asing, diduga dipicu permasalahan mooring bouy (jangkar patok-red) di kawasan Teluk Pasigan, Desa Silabu, Kecamatan Sikakap, Kabupatan Kepulauan Mentawai, Sabtu (9/10) lalu. Akibatnya, dua orang wisatawan asing terancam dan merasa diintimidasi di kawasan tersebut lantas melapor bersama pemilik kapal ke Polsek Sikakap.

Mereka melaporkan berbagai indikasi akibat permasalahan tersebut, mulai dari aksi minta jatah dari warga dan oknum hingga dominasi dari Macaroni Resort di kawasan yang mengharuskan pemakaian kapal milik mereka.

Pemilik dan nakhoda KM Huey I, Steve George Sewell menceritakan kejadian tersebut kepada sejumlah wartawan di Padang, Senin (19/10) siang kemarin. Dia mengatakan, saat itu memang didatangi oleh empat orang yang menyebut diri mereka polisi dari Polsek Sikakap. Keempat orang itu menyuruh KM Huey I berangkat karena menyalahi aturan mooring bouy.

“Saat itu saya minta waktu kepada mereka karena masih ada dua orang tamu yang tengah berselancar. Paling lama satu jam lagi selesai, tapi mereka tidak mau menerima itu,” papar Sewell.

Pada saat itu, Khairul (juru masak kapal) bertanya kepada salah satu oknum tersebut, bahwa jika memberi sejumlah donasi, apakah masih tetap bisa berada disana? Namun, saat itu petugas tersebut mengatakan, kalau memberikan donasi boleh dengan catatan harus tetap pergi dari lokasi tersebut saat itu juga.

“Setelah perdebatan alot, para petugas tersebut kemudian pergi dan dua orang tamu kapal pun melanjutkan untuk berselancar,” papar Sewell.

Tidak berapa lama, petugas tersebut kembali ke kapal dan membawa dokumen yang berisi tentang mooring bouy. Mereka kembali memaksa pemilik kapal untuk meninggalkan tempat tersebut. Saat itulah, Sewell membantah dan menegaskan kalau dia tidak setuju dengan sistem mooring tersebut karena illegal.

”Waktu itu saya jawab akan pergi sekitar satu atau dua jam lagi. Mereka marah terlihat marah dan langsung pergi dengan menaiki dinghy (perahu kecil, red),” jelas Sewell.

Merasa permasalahan itu selesai, Sewell pun dengan tenang masuk ke dalam kapalnya dan menunggu kedatangan dua orang tamunya usai berselancar. Tapi, tiba-tiba dia mendengar suara tembakan yang berasal dari dinghy yang digunakan oleh keempat oknum tersebut. Mengetahui kondisi tersebut, Sewell lantas melihat ke arah suara dan menemukan dua orang awak kapalnya yakni, Fred Annesley (65) dan Randi (34) gemetar di belakang kapal.

“Mendengar suara tembakan tersebut, saya langsung berlari ke bagian belakang kapal. Fred bilang pria di kemeja merah tersebut baru saja melepaskan senjata api,” kata Sewell.

Ditambahkannya, usai menembak, polisi tersebut terus mengusir untuk segera meninggalkan tempat dan menjemput dua orang tamu yang masih berselancar tersebut untuk kembali ke kapal. Randi dalam keadaan cemas ketika dia kembali, begitu juga dengan Fred yang shock atas kejadian tersebut. ”Akhirnya sekitar pukul 12.15 WIB, kami berangkat dari Macaronis dengan perasaan tidak nyaman dan terancam, kemudian melaporkan kejadian tersebut,” tukasnya.

Sementara itu, seorang pengunjung dan awak kapal yang paling dekat dengan pistol, Annesley mengaku masih shock dengan kejadian tersebut. Pria yang berasal dari Margaret River, Australia Barat ini menyayangkan tindakan koboi tersebut.

”Itu bukan sebuah pistol kecil, tapi itu adalah revolver besar, seperti model John Wayne. Semua ini sudah saya laporkan ke kedutaan negara saya. Tentu hal ini menimbulkan preseden buruk untuk pariwisata Indonesia secara umum,” ungkapnya.

Menanggapi permasalahan tersebut, Ketua Asosisasi Kapal Wisata Selancar Sumatera Barat (AKSSB) Aim Zen mengatakan, untuk kasus penembakan kapal ini, pihaknya berencana melapor ke Polda Sumbar dan bertemu dengan Kapolda Sumbar. “Kasus ini juga akan disampaikan ke Kapolri, karena menyangkut orang asing. Kita tak main-main. Perbuatan demikian memperburuk citra pariwisata Sumbar,” kata Aim.

Menurut Aim, pengusaha lokal merasa prihatin dengan arogansi dari pihak Macaroni Resort yang ingin mempunyai hak ekslusif  atau monopoli untuk kawasan ombak dan pantai di Desa Silabu, Mentawai tersebut. ”Para pengusaha kapal merasa cemas dan tidak senang karena sering diintimidasi dan diusir oleh oknum-oknum Macaroni Resort. Suasana seperti ini tidak pernah terjadi di sana sebelum adanya Macaroni Resort. Ombak-ombak di Mentawai itu sudah dikapling-kapling,” tukasnya.

Menurutnya, kondisi tersebut dipicu pada tahun 2002 silam, dimana Pemkab Mentawai (Bupati Edison) mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 16 tahun 2002 yang kontroversial karena dianggap bermuatan monopoli. Dalam hal ini, Pemkab memberikan izin pengelolaan wisata di Mentawai hanya kepada lima perusahaan saja. ”Sejak itu terjadi berbagai macam insiden seperti, premanisme, pungli, pemalakan dan sebagainya sehingga menyebabkan sorotan negatif di komunitas Surfing Internasional dan mempengaruhi minat wisatawan asing untuk berkunjung ke Sumatera Barat karena takut dan khawatir,” tukuknya.

Karena hal ini jelas-jelas bertentangan dengan hukum karena mengandung unsur monopoli untuk kepentingan sekelompok pengusaha tertentu saja. Maka, para pemilik Kapal Wisata Selancar melakukan protes kepada Pemkab Mentawai dan meminta agar Perda tersebut direvisi. AKSSB pun telah berkali-kali melakukan inisiatif melalui pendekatan persuasif, lisan, laporan dan dialog bersama.

“Kita juga sudah melakukan pertemuan dengan Polda, TNI AL, TNI AD, Pemkab Mentawai dan Pemprov tapi masih belum mendapat tanggapan,” tuturnya.
Laporan dan kunjungan ke Kapolres Mentawai, Dinas Parsenibud Mentawai dan Provinsi, Menteri Pariwisata RI, Menko Maritim RI dan Bakamla RI juga sudah dilakukan namun tetap belum menyelasaikan masalah di lapangan. Sebaliknya, pihak Macaroni Resort bersikap kontra produktif.

”Bukannya membangun komunikasi dan berembug bersama untuk mencari jalan keluar yang baik,  pihak Macaroni Resort membuat MoU dengan Pihak Kepolisian (Polsek Sikakap) dan Desa Silabu untuk pengamanan lokasi Macaroni Resort,” ucapnya.

Penembakan untuk Mengusir Massa

Kasat Intelkam Polres Mentawai, Iptu Zulhedi menyebut, aksi penembakan tersebut dilakukan untuk mengusir massa dari Desa Silabu yang mendekati KM Huey I karena merasa tidak senang dengan sikap dari kru kapal. Empat personel Polsek Sikakap itu datang menggunakan satu dinghy dan membubarkan tiga kapal dari warga yang hendak mendatangi kapal. ”Itu laporan yang saya dapat dari Polsek Sikakap. Memang benar saat itu saya tidak ada di lokasi kejadian,” katanya.

Ditambahkannya, hingga saat ini pihaknya belum mendapatkan laporan tertulis dari korban mengenai kasus ini. Makanya, disini petugas tersebut hanya sebagai negosiator untuk menenangkan warga. “Tidak mungkin tiga polisi disini melawan ratusan warga, mereka hanya sebagai petugas mediasi disana waktu itu,” ungkap Zulhedi.

Namun, Zulhedi tidak menampik mengenai permasalahan tembakan yang dilepaskan terhadap wisatawan tersebut. Dalam waktu dekat, dia akan memanggil empat personel polisi yang mendatangi kapal itu. ”Dalam SOP-nya, kita tidak akan datang kalau tidak ada masalah,” pungkasnya. (age/ben)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional