Menu

Polisi Bongkar Komunitas Gay di Padang, Pakai Kata Sandi dan Sedia Paket Lengkap

  Dibaca : 161 kali
Polisi Bongkar Komunitas Gay di Padang, Pakai Kata Sandi dan Sedia Paket Lengkap
INTEROGASI—Polisi menginterogasi HN bertopi merah sebagai mucikari yang menjual pelajar SMP kepada lelaki gay.

PADANG, METRO–Pascaterbongkarnya kasus seorang pelajar SMP dijual kepada lelaki Gay, Sat Reskrim Polresta Pa­dang terus membongkar praktek prostitusi online di Kota Padang.

Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Rico Fer­nanda menyebutkan, pi­hak­nya saat sedang me­la­kukan pengembangan ter­kait prostitusi online se­sama jenis di Kota Padang.

Dari hasil penyelidikan sementara, ternyata dite­mukan sejumlah nama-nama samaran yang disi­nyalir melakukan hal yang sama.

“Sedang kami cek, tapi nama-nama inisial aja yang banyak, bukan nama aslinya dipakai. Ada juga komunitasnya,” kata Rico. Selasa (27/7).

Dia mengungkapkan, para gay bertransaksi se­ca­ra online mengunakan aplikasi khusus. Bahkan, mereka juga memiliki san­di-sandi yang hanya di­pahami oleh mereka. Un­tuk eksekusi juga dila­kukan di mana saja.

“(Mereka) khusus pa­kai aplikasi untuk gay ini. Ekse­kusi bermacam-ma­cam, ter­gantung permin­taan. Bisa di tempat pe­mesan. Kalau budget se­dikit, kadang di tempat sepi aja.

Tarifnya 100 ribu hingga Rp1 juta, ada paket leng­kap. Ada sandinya, kalau B (bottom) segini, kalau T (top) segini. Ini sandinya. Kalau jadi cewek B, kalau mau jadi cowok T,” sam­bung Rico.

Namun, kata dia, an­tara pemesan dan penjual jasa juga bisa bergantian apakah menjadi sosok pe­rem­puan atau laki-laki. Sam­pai saat ini, pihaknya mendeteksi ada puluhan jasa prostitusi gay di Pa­dang.

Satreskrim Polresta Pa­dang membongkar praktek prostitusi gay secara online ini melalui aplikasi online Wala dan Hornet yang dike­tahui merupakan aplikasi khusus LGBT.

Kasus ini terungkap berawal seorang remaja berinisial A (15) yang masih duduk di kelas 3 SMP ter­libat percekcokan dengan pria berinisial HN (28) di pinggir jalan kawasan Sim­pang Haru, Kota Padang, Rabu (21/7).

Usut punya usut, ter­nyata kedua pria ini ber­status pacaran karena me­rupakan pasangan yang memiliki perilaku seks me­nyim­pang yaitu menyukai sesama jenis. Namun war­ga yang melihat per­teng­karan dibuat geram se­hingga mengantarkan me­reka ke Polresta Padang lalu kasus ini terungkap.

Kasat Reskrim Polresta Padang, Kompol Rico Fer­nanda, mengatakan kedua lelaki tersebut berstatus pacaran, dan diketahui oleh warga dan dilaporkan kepada pihak kepolisian Polresta Padang. Masya­rakat tersebut menyerah­kan duaorang laki-laki yang diduga telah mela­kukan tindakan asusila.

Meskipun mereka ber­status pacaran, namun HN bertindak sebagai mucikari yang menjajakan A kepada laki-laki lain yang juga memiliki perilaku men­yim­pang penyuka sesama je­nis melalui aplikasi online khusus LGBT.

“Lalu A mendapatkan uang Rp 200 ribu sampai Rp 1 juta dari pelanggannya. Penjualannya lewat online. Ada aplikasi khusus yang telah ada di situs tersebut. Ini masih kita kem­bang­kan, karena kegiatan ini sangat tidak pantas de­ngan norma dan agama yang ada,” ungkapnya.

Sementara itu, korban A yang ditemui di ruang penyidik PPA Polresta Pa­dang mengaku terpaksa me­lakukan perbuatan me­nyim­pang yang berten­tangan norma tersebut lantaran desakan ekonomi. Dengan cara seperti itu, ia mendapatkan uang de­ngan mudah.

Dalam kasus ini penyi­dik menetapkan HN se­bagai tersangka. Sedang­kan A merupakan korban perdagangan karena ma­sih anak bawah umur.(*)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional