Menu

Pohon Raksasa Berusia Ratusan Tahun, Tumbuh dari Tongkat Nenek Moyang yang Tertancap

  Dibaca : 215 kali
Pohon Raksasa Berusia Ratusan Tahun, Tumbuh dari Tongkat Nenek Moyang yang Tertancap
POHON RAKSASA--Wakil Menteri ESDM Archandara berkunjung ke Nagari Andaleh melihat pohon raksasa berumur ratusan tahun dengan ukuran dekapan delapan orang dewasa dan tinggi tidak kurang dari lima belas meter. Sabtu (14/9). (chandranatoni/posmetro)

TANAHDATAR, METRO – Cerita ganjil tentang pohon Andaleh berusia ratusan tahun bahkan ada yang memprediksi sudah lebih seribu tahun ini telah melekat di tengah-tengah masyarakat Andaleh. Menurut cerita orang tua-tua terdahulu, pohon Andaleh tersebut merupakan tongkat nenek moyang yang turun dari Nagari Pariangan yang masuk ke Nagari Andaleh.

Saat itu, mereka istirahat melepas penat. Lalu ditancapkanlah tongkat tersebut, lalu akhirnya tumbuh. Awalnya tongkat yang tumbuh menjadi pohon itu diberi nama andeh lai, artinya lai panek den(amboi penatnya badan ini-red) dan lama kelamaan diucapkan masyarakat menjadi Andaleh (Andalas).

Tidak hanya itu, cerita ganjil yang melekat di tengah-tengah masyarakat Andaleh, pada waktu-waktu tertentu, akan terdengar bunyi air menderu pada malam hari saat melewati pohon tersebut.

Menurut ceritanya, di lokasi pohon besar itu merupakan sumber mata air yang besar. Selain itu, pohon itu pun terkadang seolah turut meresakan apa yang dirasakan masyarakat. Ketika masyarakat berduka, seperti saat tanaman padi masyarakat diserang hama tikus, daunnya pohon itu pun habis karena diserang ulat. Begitulah cerita awal tumbuhnya pohon Andaleh.

Mungkin, tidak banyak yang tahu kalau Andalas itu nama sebuah pohon. Nama pohon Andalas pun diambil menjadi sebutan lain Pulau Sumatera. Pohon Andalas yang dijadikan nama Pulau Sumatera ini berada di desa/nagari yang juga bernama Nagari Andaleh (Andalas-red), Kecamatan Batipuh, Kabupaten Tanah Datar.

Secara umum, Pohon Andalas dengan nama latin Morus Macroura ini telah ditetapkan sebagai flora identitas Sumatera Barat dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat pun sudah meluncurkan program Gertak Andalas (Gerakan Tanam Serentak Pohon Andalas).Selain kualitas kayunya setara jati atau disebut juga Jati Sumatera yang banyak digunakan untuk rumah gadang, pohon yang berkerabat dengan pohon murbai saat ini sudah mulai langka. Nama universitas tertua di luar Pulau Jawa yang berada di Kota Padang juga diberi nama Universitas Andalas.

Wakil Menteri ESDM Archandara Tahar pun menyempatkan diri berkunjung ke Nagari Andaleh melihat secara langsung pohon berumur ratusan tahun dengan ukuran dekapan delapan orang dewasa dan tinggi tidak kurang dari lima belas meter. Sabtu (14/9).

Archandra didampingi isteri terlihat merasa takjub mendengar penjelasan H. Hali Salmi Dt Panduko Basa tokoh masyarakat setempat tentang keberadaan pohon yang oleh masyarakat setempat sering disebut Urek Andaleh atau Kayu Andaleh yang sudah berumur ratusan tahun bahkan ada penelitian menyebut hampir 1.000 tahun.

Wamen ESDM mengaku senang bisa berkunjung ke Nagari Andaleh. “Kunjungan ini tidak direncanakan sebelumnya, namun saya tertarik datang ke sini dan saya merasa senang, saya lihat Andaleh punya banyak potensi. Negerinya indah, alam sejuk dan tanahnya pun subur apalagi punya sejarah dengan Kayu Andalehnya,” sampainya.
Dt Paduko Basa atau yang dikenal Angku Ladang menjelaskan menurut cerita dari orang tua-tua dulu, setelah nenek moyang turun dari Nagari Pariangan kemudian menyebar termasuk ke Nagari Andaleh. Di Andaleh mereka istirahat melepas penat lalu ditancapkanlah tongkat di sini.

Saat ditanya umur, Angku Ladang mengatakan pohon ini sudah besar sebelum Belanda datang.

“Kato ninik-niniak koto dulu, waktu ambo ketek-ketek dulu kayu Andaleh lah sagadang iko juo, tamasuka carito niniak sabalumnya, (kata orang tua kita, saat dirinya kecil pohon Andalas sudah sebesar ini termasuk cerita yang didapat orang kami sebelumnya,” sampainya menceritakan saking panjang umur pohon Andalas ini.

Cerita lain yang diperoleh, lanjutnya, secara akademik belum ditemui tetapi bisa diyakini. Nama pulau ini sebelum diberi nama Sumatera, terjadi perdebatan sehingga ada yang menemukan titik tengah Sumatera Barat berada di Kayu Andaleh ini. Ini berkembang sehingga ada beberapa kali penelitian yang dilakukan universitas, namun hasilnya secara resmi belum masyarakat ketahui.

Wali Jorong Subarang Aldarusman menambahkan beberapa kampus sudah melakukan penelitian.

“Dari hasil penelitian, ada menyebutkan umur pohon Andaleh sekitar 980 tahun, bahkan ada dari kampus lain yang di atas 1.000 tahun,” sampainya.

“Pada waktu-waktu tertentu, akan terdengar bunyi air menderu pada malam hari saat melewati pohon ini, karena menurut ceritanya di lokasi ini ada sumber mata air yang besar. Selain itu pohon pun seolah turut berduka, seperti saat tanaman padi masyarakat diserang hama tikus daunnya pun diserang ulat,” jelasnya. (ant)

Editor:
KOMENTAR

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Fanpage Facebook

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional